July 17, 2013

Me, My Friends and That Problem

Sabtu siang itu aku kembali bertemu dengan Rizu dan Mara, dua sahabtku yang masih sama-sama jomblo. Entah apa yang menjadi alasan kami bertemu waktu itu, tapi kami bertemu di salah satu mall kecil di Jogja. Mempunyai kesibukan masing-masing membuat kami jarang bertemu, kadang harus ada sebuah kejadian, perayaan atau tragedi yang besar yang harus menjadi alasan kami bertemu. Kalau kami sedang tidak sibuk pertemuan 2 bulan sekali rasanya sudah sangat istimewa.

Aaahh, aku kembali merindukan mereka. Merindukan gelak tawa mereka. Merindukan nyinyiran mereka pada hidupku dan hidup mereka yang juga penuh kegalauan. Tapi bersama mereka tragedi selalu menjadi komedi. Selalu ada optimisme setelah bertemu dengan mereka. Mereka adalah pemberi semangat yang mujarab, kami selalu menguatkan satu sama lain.

Dan akhir-akhir ini pembicaraan kami selalu berkutat pada "jodoh". Biasanya kami membicarakan jalan keluar untuk segera mendapatkan jodoh, entah serius atau bercanda, tapi seringnya kami tidak pernah serius. Bukan karena tidak menginginkan jodoh segera datang, tapi karena tidak ingin setres dengan status kami. Tuntutan masyarakat luas terhadap status kamu sudah cukup membuat kami setres, jadi kami ingin membawanya santai. Saat bertemu kami sering membicarakan pembulian yang dilakukan orang-orang pada kami. Semakin ke sini sensitivitas kami pun semakin meningkat, mungkin karena tekanan lingkungan dan orang-orang terdekat juga semakin tinggi.

Kalau tak salah ingat pembicaraan agenda pertemuan kami waktu itu adalah membahas usaha penemuan jodoh yang dilakukan oleh Rizu. Iya, waktu itu rizu baru saja melakukan ta'aruf dengan seorang laki-laki. Iya, ta'aruf, sebuah kegiatan yang sangat awam bagi kami perempuan-perempaun pecicilan ini. Rasanya satu kata itu berasal dari planet lain.

Begitu mendengar kata itu, yang terlintas dibenak kami adalah perempuan berbaju gamis besar dengan jilbab lebar, dan juga seorang laki-laki dengan celana cingkrangnya. Well, in the real world is not perfectly like that. Manusia pecicilan seperti kami pun bisa melakukannya. Nggak harus orang dengan pemahaman islam yang sangat bagus.

Ya, akhirnya salah satu dari kami melakukan itu. Bagi Rizu ini adalah pengalaman baru, bagiku dan Mara ini adalah sebuah pelajaran yang bisa kami jadikan referensi. Meskipun Rizu belum berhasil dengan usaha ini, tapi menurutnya ini adalah salah satu usaha yang patut untuk dicoba.

Setelah mendengar cerita dari Rizu, kami pun sedikit membuka diri pada sistem ta'aruf ini. Islam memang selalu memberikan cara yang baik untuk penganutnya.

It's hard to be a single but it's harder to find the right person.


No comments:

Post a Comment