September 23, 2013

Saran Mbah Dukun Sialan


Aku sudah tidak melihat siapapun di ruangan. Kudekati locker Nuna dengan pelan-pelan, pura-pura mendekti meja telepon yang ada di dekatnya. Kutengok ke kanan dan ke kiri sekali lagi, masih tidak ada orang. Aman buatku untuk mengambil benda itu. Aku bergeser ke lokernya. Sebagai secret admire di kantor selama 2 tahun, aku tahu dia tidak pernah mengunci locker-nya. Aku juga tahu dia hanya membawa baju ganti di hari Sabtu, karena sebelum berangkat kerja dia akan Spot Center untuk berenang. Dasar advice Mbah Dukun yang nggak penting, masak menaklukkan hati wanita dengan mengambil pakaian dalamnya. Lebih nggak penting lagi aku karena mengikuti advice yang nggak penting itu. Ya Tuhan, maafkan hamba karena mengikuti saran Mbah Dukun sinting itu. Sebenarnya bukan Mbah Dukun sih, tapi Riko teman kantorku yang katanya dia pernah melakukannya dan berhasil. Aku behasil mengambil kaos dalamnya Nuna. Di sana ada celana dalam dan juga BH, tapi rasanya akan sangat menjijikan jika besok pagi aku harus mencuci muka dengan rendaman semalam suntuk salah satu benda itu. Meskipun itu milik orang yang aku sukai, terasa lebih baik kalo aku memilih kaos dalamnya saja.
***

Keesokan paginya, aku mendengar si Nuna kasak-kusuk dengan Rena dan Sinta, dua teman dekatnya di kantor. 

“Aku yakin aku sudah memasukkan di dalam tas kresekku, waktu sampai di kos aku mau mencucinya kaosku nggak ada” katanya sambil berbisik. Maklum mereka sedang membicarakan pakaian dalam.

“Masak sih di kantor ini ada psikopat? Ngambil-ngambil pakaian dalam” bisik Sinta. Bukan aku psikopatnya, tapi Riko sebagai pemilik ide, batinku. 

“Kamu yakin sudah memasukkanya? Sapa tahu kamu lupa” Kali ini Rena yang berbisik.

“Yakin, karena itu kaos kesukaanku, dan harganya nggak murah” bisik Nuna sedih. Sekarang aku membuat perempuan yang kucintai bersedih. Sial.
***

Pagi ini aku mau mengembalikan kaos dalamnya Nuna ke locker-nya. Dari awal semua ini sudah salah. Riko sialan itu membohongiku. 

“Apa? Kamu percaya sama ceritaku itu? Ya ampun serius kamu lahir tahun 80an bukan tahun 50an? Sama begitu saja percaya” katanya di tengah tawanya yang nggak berhenti-berhenti.
Kampret bener tuh orang. Aku berani bertaruh demi apapun kalau saat itu dia bercerita padaku dia sukses menaklukkan perempuan dengan mengambil celana dalamnya. Dia bahkan mendorongku untuk mengambil pakaian dalam si Nuna. 

Aku meletakkan kaos dalam Nuna di locker-nya, aku sudah mencucinya dan memberinya pewangi. Seperti biasa locker itu tak terkunci. Begitu aku menurupnya, Si Nuna sudah berdiri di dekat locker-nya, berkacak pinggang dan raut marah di wajahnya.

“Aku bisa menjelaskannya. Aku bukan psikopat. Aku melakukannya karena aku menyukaimu. Aku tidak yakin kamu juga menyukaiku, kamu begitu cantik, cerdas, banyak yang menyukai, pekerja keras, sedangkan aku nggak secemerlang kamu. Karierku segini-gini saja, makanya aku mengikuti saran Riko untuk mengambil kaos dalammu dan merendamnya dan menggunakan untuk cuci muka. Serius aku bukan bukan psikopat, aku baru sekali ini melakukannya. Dan tidak akan pernah mengulanginya lagi. Kumohon jangan membenciku” cerocosku. Aku panik bukan kepalang. Tiba-toba dia mendekatiku. Aku yakin dia akan menamparku. Tapi dia hanya berbisik “aku juga menyukaimu”.

“Apa?” tak sadar aku mengucapkannya.

Dia hanya tersenyum dan ngeloyor pergi.

Cerita ini dibuat untuk memenuhi tugas pena merah, maaf endingnya sedikit ngawuuurrr. Hahahaha… Yang penting nggak didenda ya. Wkwkwkkw…


2 comments:

  1. Kak,,lebih baik diganti backgroundnya :) biar keliatan tulisannya

    mampir juga yaaa ke http://ekienglandmuse.blogspot.com/

    jangan lupa followback

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak keliatan ya? Oke lain kali aku ganti. Makasih udah mampir ke sini. Besok aku folbek, dan kukunjungi ;)

      Delete