July 30, 2014

Pembahasan tentang Jodoh


Pembahasan tentang jodoh itu selalu bikin galau. Lebaran tahun ini, nggak ada yang nanyain "kapan nikah?" Mungkin mereka kasihan sama diriku yang sudah punya muka sudah-pengen-nikah-tapi belum ada yang melamar- melas begini. Cuma si emak aja --yang nggak tau kenapa- justru heboh mancing-mancing, bikin bete maksimal. Bahkan ketika ketemu temen SMP-ku dia sangat kooperatif (opo jial?) Dia nggak menanyakan kapan nikah seperti kebanyakan orang pada umumnya. Dia cuma bilang kalau nikah aku diundangi. Dia baik baik nggak sih? Aku juga minta doa padanya supaya segera menyusul. Fuh!

Meskipun nggak ada yang menanyakan "kapan nikah?" Teteup aja sempet bete, gegera WA-nan sama temen SMA yang sudah menikah, namun masih menunggu kehamilan. Dan membicarakan apakah dateng ke reuni SMA. Dan tetiba mikir, "dem, umur gue sudah berapa? Temen-temenku sudah pada nikah semua. Hwaaa.." Siapa coba yang nggak bete. Belum nikah di usia sekian, bikin nggak berani dateng ke reunian SMA juga. Hiks.

Jodohku, segera jemput akuuu.... -___-

July 20, 2014

Seminggu yang Lalu di Bungong Jeumpa

Kalau lagi bulan puasa begini, pasti banyak acara makan bersama, atau buka bersama lebih tepatnya. Hari Senin yang lalu oun, aku sama temen-temen buka bersama, meskipun nggak direncanakan. Aku yang baru nggak puasa oke-oke aja diajak buka puasa, walau yarwe-yarwe. Hahaha.. :p


Dan di bawah ini beberapa foto bersama yang gagak, akibat nggak bawa tomcat *kata nita tomcat bukan tobgsis





Orangnya empat, minumnya tujuh. GIRLS!!!

July 13, 2014

Tetiba Narsis

Ini adakah foto yang kuambil seminggu yang lalu. Nggak tau kenapa malam itu hasrat narsisku sangat tinggi, sehingga berkali-kali jeprat-jepret.


July 5, 2014

Manusia Deadline

Malam ini ketika aku kembali berjibaku dengan pengumuman lomba akhirnya aku menyadari satu hal, aku selalu bekerja lebih baik entah baik entah terpaksa memutuskan saat DL mepet. Mungkin aku memang manusia DL, yang suka taktak tuntung saat DL sudah mendekati.

Kemudian aku teringat dengan waktu lulusku saat kuliah, aku baru sukses lulus saat hampir semua teman perempuanku lulus. Which is DL sudah sangat mepet dan harus bolak-balik dipanggil kajur karena belum lulus juga. Akhirnya aku berupaya sedemikian rupa, mengalahkan segala perfectionist-ku, ketakpercayaanku pada kemampuanku sendiri, dan berusaha apapun hasilnya yang penting lulus.

Saat aku harus mengumumkan pemenang, aku baru bisa memutuskan pemenang saat DL sudah mepet. Saat itu kukesampingkan perfectionisku, kubangun kepercayaan diri pada penilaianku dan meyakinkan diri sendiri bahwa membaca 2-3 kali sudah cukup, nggak perlu ada ke 4 dan ke 5. Karena semua orang sudah menunggu: so, cepat putuskan!! Fiuh! Terpaksa jadi.

Apakah syndrom ini juga yang membuatku belum menikah di usiaku yang sekian? Memang nggak ada DL untuk menikah, at least bukan aku yang membuat aturannya, tapi orang-orang yang membuatnya meskipun sebenarnya aku juga memiliki target menikah yang sudah terlewati. Bahwa umur sekian orang harus sudah menikah, kalau nggak segera menikah, mungkin karena dia pemilih, karena mungkin dia terlalu sibuk dengan karier, karena mungkin dia tidak ingin menikah. Belum menikah di usia yang seharusnya sudah menikah kadang bukan pilihan, namun sebuah keadaan. Atau mungkin benar ini sebuah pilihan, karena lebih memilih sendiri ketimbang memilih untuk menikah dengan sembarangan orang.

Entahlah, semoga saja aku tidak kena terkena sindrom DL ini, yang memaksaku memilih dengan mengesampingkan segala idealismeku. Atau jika memang itu terpaksa aku lakukan, semoga tetap menjadi akhir yang indah. Toh ketika aku berlomba dengan DL, akhirnya aku bisa bahagia, aku bisa mencari keindahannya. Seperti saat aku lulus kuliah aku tetap bangga dengan skripsiku meski tak bernilai A. Saat aku memutuskan pemenang, akhirnya aku puas dengan pilihanku.

Aku sungguh tidak berharap bertemu jodohku dengan cara DL. Aku berharap aku bertemu dan menikah dengan jodohku karena aku menginginkannya, bukan karena tuntutan usia. Namun jika memang ini satu-satunya cara supaya aku bisa lebih menghargai, lebih menghormati dan lebih menyayangi calon pendampingku, semoga dia adalah seorang lelaki yang baik, yang akan menjadikanku ratu di setiap kehidupannya. Semoga aamiin..
gambar diambil dari sini

Perempuan yang menunggu pangerannya.
@fatkah

 Ditulis awal bulan Januari 2014, baru sempat dipost hari ini :p