March 24, 2016

NGGAK HABIS PIKIR

Terus terang aku masih nggak habis pikir sama orang yang menganggap aku nggak memikirkan menikah. Dulu waktu aku masih kerja, dikiranya aku terlalu enjoy dengan pekerjaanku, terlalu nyaman sehingga nggak memikirkan menikah. Orang gila yang berpikiran seperti itu pasti nggak pernah membaca blogku. Kalau pernah, dia pasti muak dengan pikiran-pikiran nelangsaku tentang pernikahan yang tak kunjung datang. *hoeek*
Mungkin sebenarnya, yang mereka butuhkan(?) adalah, menjadi teman yang baik bagi kami. Menjadi orang yang bisa kami percaya, sehingga mereka bisa dan akan mendengar, betapa bingungnya kami, betapa tak tau harus berbuat apalagi kami, betapa sedih, setress, jengkel dan bahkan kadang putus asa. Mereka tak pernah mendengarkan keluh kesah kami, karena kami tidak ingin membuat mereka tidak nyaman dengan semua itu. Dan lagi kesedihan dan kebingungan kami itu bukan konsumsi publik.
Meskipun kami bingung, kami sedih, kami setress, jengkel dan putus asa, apakah semua itu harus diperlihatkan di depan banyak orang, termasuk orang-orang yang baru sekali dua kali ditemui atau ke teman-teman lama yang hanya datang sekali dalam setahun? Jika menurut mereka memang harus seperti itu, lalu aku paham kenapa cobaan ini datang pada kami bukan pada mereka.
Sincerely
Orang setress level 97
Akhir-akhir ini ketika aku sudah resign dari pekerjaanku, aku nggak tau apa yang dipikirkan orang tentangku. Karena nggak ada lagi yang mengatakan frontal di depanku. Bisa jadi aku dianggap perawan tua yang gagal dalam percintaan dan pekerjaan. Hahahaa... At least aku bahagia dengan pekerjaan baruku. Mereka? Kasian deh, bisanya cuma ngomentari hidup orang lain, nggak bs menikmati hidup sendiri.
Dan kemarin ketika aku main ke rumah temenku, hal yang sama terjadi padanya. Dia cerita kalau ada salah satu temannya kembali menghubunginya setelah agak lama, dan temannya ini menganggap temanku terlalu nyaman dengan pekerjaannya, terlalu memikirkan karier sehingga tidak memikirkan menikah. Dan kami hanya bisa bilang "MEMIKIRKAN KARIER GUNDULMU!".
Sebagai PNS, temanku ini merasa nggak ada karier yang perlu dikejar, dan nggak ada yang perlu diambisiusi sampai nggak memikirkan menikah hanya demi pekerjaan. Dulu waktu aku masih jadi pekerja pun, aku juga nggak memikirkan pekerjaan sedemikian rupa sampai nggak kepikiran nikah. Nggak ambisius harus menduduki suatu jabatan tertentu. Kalau sampai aku menduduki jabatan yang lumayan bisa dibanggakan itu bukan karena aku mengejarnya, tapi karena kebetulan aja aku dikasih kesempatan itu.
Tapi herannya kenapa orang-orang berpikir kami belum menikah karena terlalu memikirkan karier, terlalu ambisius sama pekerjaan? Dari mana sumber pikiran mereka itu? Apa karena kami terlihat bahagia? Apa karena mereka tidak pernah melihat mata kami sembab? Apa karena status-status kami di sosial media yang tampak bahagia, cerah dan penuh cinta?

March 23, 2016

Apa yang Ada di Otakmu?

Apa yang ada di otakmu? Ketika berpikir aku tidak memikirkan menikah? Apa kau anggap aku bukan manusia normal? Bagaimana bisa ada manusia tidak menginginkan menikah "tepat pada waktunya"? Mungkin memang ada, tapi butuh kamu tau, itu bukan aku!
Bukankah suaramu itu berisik? Bukankah orang-orang semacammu sering mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang bahkan aku sendiri tidak tau jawabannya. Dan kalau bisa memilih, aku memilih menikah 'tepat waktu' dibanding harus mendapatkan pertanyaan-pertanyaan konyol darimu.
Ngomong-ngomong, kenapa tak kau tanyakan saja ke Allah, kapan aku menikah? Kenapa harus tanya padaku? Kau tau kan? Bahwa jodoh rejeki dan mati itu takdir Ilahi? Lalu kenapa kau masih saja bertanya kapan aku menikah? Bolehkah aku bertanya padamu kapan kamu menghadap padaNya? Bukankah itu kasar? Bukankah itu tak sopan? Bukankah itu sesuatu yang tidak kau ketahui jawabannya?
Apa? Kamu bilang pertanyaanmu hanya basa basi? Bagaimana jika pertanyaan basa-basinya kita ganti saja? Jika kamu tidak ingin mendengar pertanyaan pengganti basa-basi, sebaiknya kamu hentikan saja pertanyaan bodohmu itu, dan berhenti berpikir tentang apa yang aku pikirkan, apa yang aku rasakan, apa yang aku inginkan dan tidak inginkan.
Tidakkah kamu capek mengurusi hidupku? Pasti hidupmu sangat selo sampai punya banyak waktu untuk mengurusi hidupku. Atau kamu tidak punya hidup yang asyik sehingga harus mengusik hidup orang lain.
Me
Yang setress karenamu

March 14, 2016

Makasih Sudah Mau jadi Temanku

Suatu ketika temanku pernah mengatakan hal ini padaku
"makasih sudah mau jadi temanku, budhe".
"Kenapa sih budhe masih mau jadi temanku? Kita kan beda"
Maklum waktu itu dia sedang galau, karena merasa tertolak karena keberbedaanya. Iya, kami memang memiliki keyakinan yang berbeda, tapi kami cukup akrab.
Namun kali ini aku yang ingin bilang makasih sudah menjadi temanku. Makasih sudah menampungku kala aku butuh tumpangan tidur. Makasih sudah mendengarkan keluh kesahku. Makasih sudah menjadi tempat sampahku. Makasih buat semuanya.
Segera selesaikan S3nya, lalu kita main-main lagi. Lalu aku akan sering numpang tidur di kosmu lagi. Hehehehe....

March 13, 2016

MUNGKIN

Mungkin saya nggak cocok tinggal di desa. Mungkin saya lebih cocok tinggal di kota, di sebuah apartemen yg nggak kenal kanan kiri. Lalu ketika penat, saya akan pergi ke cafe yang sepi, pilih tempat duduk di pojokan, lalu membaca buku sambil mendengarkan musik. Sounds good for me.
Than, what happen with my mom. What will she do without me? Lalu ketika beliau harus ikut denganku, apa yang akan terjadi dengannya tanpa tetangga-tetangganya? Tentu itu akan menyiksanya. Tapi hidup di desa dengan hiruk pikuknya sungguh menyiksa saya. Apalagi dengan status baru yang bakalan saya sandang. It's really really really killing me softly.
Saya mulai berangan-angan untuk memiliki apartemen yg super cozy. Ooohh, berarti saya harus punya uang yang banyak, supaya tak ada yang meremehkan saya. Meskipun akan tetap ada yang menyepelekan saya, karena status saya, at least saya tidak akan meremehkan diri saya sendiri. Dan mereka? mereka tidak akan berani mengatakannya di depan saya. Bukankah mereka selalu pandai memakai topeng?

March 12, 2016

Hey You!!

Hey You!!
Kapan engkau akan berhenti mengasihani dirimu sendiri? Kapan engkau akan berhenti menyalahkan orang lain? Kapan engkau akan bersikap dewasa?
Kau pikir ini salah mereka? Kau pikir mereka tak memahami perasaanmu? Atau sebenarnya engkau tahu, kalau mereka juga memikirkanmu, kalau sebenarnya ini bukan salah mereka, kalau semua ini bukan salah mereka. Lalu kenapa engkau masih menyalahkan mereka? Lalu kenapa engkau masih marah pada mereka?
Tak tahukah engkau bahwa semua ini sudah kehendakNya? Semua ini sudah diatur olehNya. Engkau sangat tau tak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa ijin dariNya. Jangan salahkan mereka lagi. Bersikaplah lebih dewasa. Perbanyak doa padanya.
Sincerely
Yourself
Ditulis tanggal 11 Maret 11.15 malam, dipost hari ini

March 11, 2016

MENCINTAI DIRI SENDIRI

Versi saya:
Sungguh aku tidak tau arti menyayangi diri sendiri. Dalam pemahamanku selama ini, menyayangi diri sendiri itu, menganggap diri cantik dan menarik. Mirip-mirip ke narsis. Mungkin karena selama ini aku selalu menyukai orang yang enak dilihat. Selalu jatuh hati dengan mereka yang memiliki penampilan menarik.
Dan dalam hal ini, aku selalu gagal mencintai diri sendiri. Aku selalu tidak percaya diri dengan penampilanku, aku selalu merasa tidak cantik dan tidak pantas dicintai. Bahkan ketika aku jatuh cinta sama orang dan merasa dia pun suka padaku (meskipun ternyata enggak. Wkwkwk), selalu ada setan yang berbisik padaku "mana mungkin dia suka sama kamu yang punya tampang seperti itu?" Pathetic right? (Damn! Aku curhat maksimal di sini. Aku ungkap semua pikiran-pikiran yang hanya pernah kuceritakan pada sahabat-sahabat terbaikku).
Meskipun saat ini aku menganggap belum bertemunya aku dengan jodohku adalah karena jauhnya aku dari sifat terbaik diriku dan masih berlumurnya dosaku, tapi ada saat di mana aku berpikir bahwa belum bertemunya aku dengan jodohku adalah karena penampilanku yang kurang menarik. Dan pikiranku membenarkan semua ini. Pokoknya dalam hal satu ini, aku gagal mencintai diri sendiri.
Versi temanku:
Temenku bilang menyayangi diri sendiri adalah tidak membiarkan orang lain menyakiti diri kita. Ibarat kita punya teman, punya saudara, punya ponakan, kita pasti tidak rela kalau dia disakiti. Kita akan menjaganya supaya dia tidak disakiti, kalau sudah terlanjur tersakiti, kita pasti akan membelanya, melindunginya atau balik menyerang yang menyakitinya.
Dan dalam hal ini, aku memerankan dengan baik peran cinta pada diri sendiri, bahkan terlalu baik. Tapi sayangnya temanku tidak. Ketika ada temannya atau ada orang yang menyakitinya kadang dia hanya diam, bahkan ketika aku bilang "bela dirimu sendiri" dia bingung harus bagaimana. Dan alhamdulilahnya aku nggak pernah bingung gimana harus membela diriku sendiri, bagaimana harus bersikap sama oran g-orang yang menyakiti perasaanku. Aku tahu benar bagaimana harus menjaga hatiku, bagaimana harus menjaga supaya aku tidak tersakiti dan bagaimana bersikap sama orang-orang yang telah menyakitiku. Aku tahu benar. (Well, setelah mengetahui ada orang yang tidak bisa melakukannya, kurasa kemampuan ini harus disyukuri)
Tapi malam ini aku jadi berpikir, jangan-jangan karena aku terlalu mencintai diri sendiri (versi temenku), karena tak rela disakiti oleh orang lain, aku jadi mengekang diriku sendiri. Aku terlalu takut tersakiti, sehingga memberi banyak batasan, termasuk dalam urusan cinta. Aku terlalu takut terluka, sehingga takut untuk berjuang sepenuh-penuhnya untuk cinta.
Kalau menurut dewi lestari dalam kumcernya yang berjudul madre, di cerita layang-layang, aku ini semacam christhoper yang ingin bermain air tapi hanya melihat orang bermain air di pinggir kolam hanya berharap akan terkena cipratan air.
Kamu yang tahu arti mencintai diri sendiri and how to love your self? please tell me. Coz I don't know how. Mungkin dengan kau beritahu aku bisa mempraktekkannya dan bisa mencintai diriku sendiri dan semoga bisa menjadi jalanku untuk segera bertemu dengan jodohku. Aamiin.
Me
@fatkah
Ditulis tanggal 10 Maret tengah malam, dipost hari ini.

March 10, 2016

DEAR FATKAH

Kamu adalah perempuan spesial, sehingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk mempertemukanmu dengan jodohmu.
Dear Fatkah,
Kamu adalah perempuan yang unik sehingga hanya segelitir orang yang bisa memahamimu dan mengerti dirimu. Bukankah butuh pria yang super cerdas dan baik untuk memahami perempuan sepertimu?
Dear Fatkah,
Tak perlu bergelisah hati, karena Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untukmu. Yang bisa memahamimu dengan baik dan menerima kamu apa adanya yang bersedia membimbingmu dalam ketaatan dengan penuh kesabaran.
Dear Fatkah,
Jangan lupa terus perbaiki diri, karena itu adalah percepatanmu untuk bertemu dengan jodohmu. Semoga disegerakan. Aamiin
*percakapan tengah malam dengan diri sendiri, entah kapan, tapi baru sempet diposting hari ini :)

March 9, 2016

#10FavoriteThingsinMyRoom Number Six

Benda ini kubeli november 2010 kalau nggak salah, jadi dia sudah berumur kira-kira 5 tahun lebih sedikit. Aku membelinya dengan uang hasil survey, waktu aku jadi enumerator. Jadi laptop ini kubeli dari hasil keringat sendiri. Bahagiaaaaa banget waktu akhirnya memilikinya. Walaupun cuma bisa membeli laptop yang termurah waktu itu, dan hanya merk lokal, tapi waktu itu aku sudah sungguh sangat puas memilikinya. Setelah sekian lama menginginkannya, dan menabung dari hasil survey yang kadang ada kadang enggak akhirnya bisa kebeli juga laptop dengan hasil jerih payah sendiri.
Akhirnya, aku bisa nonton film di kamarku sendiri. Wkwkwkkw.. #plak, alasannya nggak penting banget. Tapi serius aku jadi mengingat pertama kali aku memilikinya. Rasanya bahagia banget.
Waktu itu aku membelinya memang salah satu alasannya karena biar bebas nonton film sendiri, selain itu waktu itu juga masih memiliki cita-cita untuk menjadi penulis terkenal, jadi ya laptop wajib banget kan dimikili?
Aaahhh, mengingat pertama kali memilikinya, aku jadi jatuh cinta lagi padanya. Padahal aku hampir-hampir sudah tak pernah menghargainya, selalu membiarkannya teronggok lesu di lemari daganganku. Duh maafkan aku Zirexku. Now I falling in love with you in second time :D
*foto nyusul

March 8, 2016

REVIEW UNTOUCHEABLE

Lama banget nggak baca komik, dan kali ini aku baca comic dr webtoon yang berjudul untouchable. Pertama kali baca sih nggak menarik, tapi comic satu ini termasuk yang paling favorite aku jadi penasaran, episode satu dua tiga  membosankan. Aku berhenti di episode ini sampai berbulan-bulan. Wkwkkwkw... Setelah 4 episode aku baca, aku jadi semakin penasaran dan ingin selalu membuka episode selanjutnya. Dan kuselesaikan sampai episode 87 hanya dalam 1/4 hari, sampai nggak megang IG. Haddeehh.
Cerita untouchable yg ini cukup mengaduk-aduk emosi. -_-
Comic satu ini bercerita tentang Sia vampir perempuan yang jatuh cinta sama manusia yang bernama Jiho. Kedengaran seperti kisah cinta vampir yang klise ya? Tapi vampir di sini nggak menggigit leher dan menghisap darah, tapi menyedot energi manusia dengan cara bersentuhan. Sayangnya Sia harus jatuh cinta dengan seorang manusia yang terkena penyakit OCD, atau orang yg punya kebiasaan kebersihan yang akut. Yang nggak mau disentuh, jangankan disentuh ke luar dari rumahnya saja dia super was-was, apalagi bersentuhan sama manusia lain yang dianggapnya penuh dengan kuman.
Sebenarnya pada awalnya Sia tidak menyadari perasaan cintanya, dia hanya tahu bahwa dia hanya ingin makan dari sentuhannya pada Jiho. Bahkan awalnya dia hanya pura-pura jatuh cinta pada Jiho, sampai akhirnya mereka pacaran pun Sia belum tahu perasaan dia yang sesungguhnya. Keinginannya untuk menyembuhkan Jiho dari penyakit OCD pun sebenernya hanya karena alasan biar dia bisa bebas bersentuhan dengan Jiho.
Kalau menurutku sih, hubungan mereka termasuk lancar-lancar saja, yang menghalangi mereka hanya pikiran mereka sendiri atau pihak-pihak luar. Ngomongin tentang pihak luar, aku justru berempati dengan Baru tokoh vampir lelaki yang mencintai Sia sejak kecil, yang menjadikan Sia cahaya dalam hidupnya, yang penuh dengan kegelapan. Vampir yang selalu ceria dan selalu ada untuk Sia dan memendam perasaan cintanya sejak dia berumur 7 tahun.
Kalau nggak salah sih sekarang dia dan Sia sudah umur 22 tahun jadi sudah 15 tahun kan memendam cintanya? Sakit banget nggak tuh? Kasian banget nggak sih, memendam cinta selama itu, lalu harus menghadapi kenyataan Sia jatuh cinta dengan lelaki lain?
Apalagi waktu satu episode bercerita tentang si Baryu dari sisi dia, tentang pertemuan pertamanya dengan Sia, tentang sisi gelap dia di masa lalu dan kenapa dia jatuh cinta pada Sia. Pokoknya episode bagian ini bikin saya berempati dan galau maksimal. Mungkin karena aku setipe dengan si Baryu ini, tipe yang nggak bisa menunjukkan perasaan yang sesungguhnya kala sedang jatuh cinta. Heheheh... *jadi curhat
Sayangnya webtoon ini berakhir di episode 87 dan baru akan diteruskan lagi di bulan maret. Bakal penasaran maksimal deh kayaknya. Sepertinya ceritanya juga masih panjang, karena sepertinya si penulis masih menyimpan masa lalu Sia, kenapa orangtuanya dan juga keluarganya sangat menjaganya dibandingkan anak-anaknya yang lain. Lalu tentang dejavu yang dialami Sia, seolah-olah itu pertanda tentang masa lalu Sia. Selain itu motif didatangkannya tokoh baru yang berprofesi sebagai editor dalam kehidupan Jiho juga belum terungkap. Jadi kayaknya bakalan masih lama ini ceritanya. Tapi semoga ceritanya masih asyik untuk diiikuti dan nggak mbulet kayak sinetron.
Buat kamu yang penasaran dengan cerita ini, baca aja. Tapi awas banyak adegan-adegan mengarah ke adegan dewasa. Wkwkkwkw...
*ditulis skitar 2 minggu yang lalu, dan baru diposting hari ini.

March 7, 2016

ME AND LGBT

Pagi ini ketika saya bangun kedua kalinya stelah acara bangun dan tidur lagi, saya mendapat dua message dari dua grup yang berbeda ditulis oleh orang berbeda. Keduanya sama-sama berbicara tentang LGBT. Ketakberpihakan si penulis sama golongan itu.
Terus terang saya tidak pernah update berita. Saya hidup di dunia saya sendiri. Tapi saya simpulkan bahwa pro kontra tentang LGBT ini pasti sangat semrawut dan sudah pasti menguras emosi para pengikut berita, karena sampai-sampai berita tentang ini sampai ke saya (baca: orang yang super duper kudet, nggak pernah baca koran, liat tv atau buka FB, yang mengetahui dunia luar dari grup-grup WA dan Line yang saya ikuti). Dan sampai-sampai teman saya yang biasanya cuek sama hal-hal begini mengunsinstal Line karena pemiliknya pendukung LGBT.
Sebagai mantan mahasiswa antropologi, ya saya sempet tak perduli cenderung mendukung pilihan masing-masing orang untuk LGBT. Terserah saja, mereka mau berperilaku seperti apa, asal tidak menganggu kehidupan saya dan kehidupan keluarga saya, saya tidak akan menganggu mereka.
Namun sebenernya keacuhan saya sempat menganggu saya sendiri, karena saya seorang muslim, dan muslim (dari yang saya baca dari grup-grup) dengan tegas melarang LGBT. Prinsip saya selama ini hanyalah tak menganggu mereka, karena mereka tak menganggu saya. Biarkan mereka hidup tenang dengan pilihan mereka sendiri tanpa gangguan dari kita yang straight. Sebenarnya saya juga menganggap LGBT salah, namun tetap menghargai itu sebagai pilihan mereka.
Namun penutup dari salah satu artikel pagi ini sungguh mengusik saya. Mau tau bagian mana yang mengusik? Cekidot:
"
Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah kisah tentang keberpihakan. Di saat Nabi Ibrahim dibakar raja Nimrod, seekor semut membawa setetes air. Seekor burung kemudian bertanya, "untuk apa kamu bawa air itu?"
"ini air untuk memadamkan api yg sedang membakar kekasih Tuhan, Ibrahim."
"Hahaha... Tak akan guna air yg kamu bawa" kata burung.
"Aku tahu, tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada..
"
Ya saya di pihak yang kontra terhadap gerakan LGBT, namun saya juga kontra terhadap gerakan-gerakan kekerasan.
Please jangan perangi mereka dengan kekerasan, anggap mereka sebagai manusia. Kita boleh membenci kelompok atau gerakanny, tapi jangan manusianya. Sebaiknya hadapi mereka satu-satu jangan serang seorang pelaku sebagai kelompok. Karena menyerang kelompok akan membuat kita lupa bahwa mereka juga manusia.
Katanya gerakan mereka sungguh massive, katanya mereka tak segan-segan mempengaruhi yang straight untuk menjadi bagian dr LBGT, katanya mereka bisa menularkan penyakit mereka, katany.. Masih banyak lagi.
Please don't panic. Melindungi lingkungan kita tidak sama dengan memerangi/memusuhi/mengerasi mereka, kasih perisai ke orang-orang yang kita sayang. I don't know how, tapi menurut saya perisai dari keluarga dan dari orang-orang yang terdekat, akan lebih bermakna, saat seseorang harus menghadapi gerakan mereka. Kita nggak mungkin mengawasi terus menerus keluarga kita, tapi memberinya perisai, akan membuat keluarga yg kita sayangi lebih kuat.
Mungkin perisai ini bisa menjadi solusi bagi ketakutan kita selama ini sama gerakan LGBT
1. Milikilah keluarga yang harmonis. Ayah ibuk yang harmonis akan membentuk budaya keluarga straight Bisa jadi LGBT tidak pernah terbersit dalam pikiran si anak. Seperti saya, dibesarkan oleh bapak dan ibuk yang saling mencintai penuh kasih sayang, begitu juga dengan kakek nenek pak dhe budheku. Saya baru tau Lesby and Gay setelah saya kuliah. Dan menganggap itu super duper aneehh.
2. Perkuat iman, ahlak, ilmu agama anak. Dengan demikian dia akan takut dengan murka Allah. Tanpa kita awasi pun dia merasa diawasi oleh Allah. Ketika seseorang tahu bahwa di dunia ini ada kelompok non straight, maka dia sudah tahu harus ada di bagian mana. Jalan mana yang disukaiNya dan mana yang tidak disukaiNya. Ketaatannya pada Allah akan membantunya untuk memilih jalan yang benar.
3. Katanya gerakan LGBT massive di sosial media, maka jangan biasakan anak memegang HP sejak kecil. Ajarkan mereka untuk selalu terlibat dlm kehidupan sosial yang sesungguhnya. Ajak anak bercanda, bermain, ngobrol di dunia nyata. Sebagai orang tua, jangan terlalu sibuk dengan gadget sendiri. What they see what they will do, sejak bayi anak melihat kita memegang HP. Maka umur 2 tahun dia akan sangat terbiasa dan lihay dengan HP.
Ini adalah perjuangan setiap keluarga untuk keluarganya masing-masing. Jika stiap keluarga melakukannya, tentu tidak perlu khawatir apa yang akan terjadi dengan masa depan indonesia? Apakah seberat itu melindungi generasi berikutnya? Jauh dari HP, lebih mengenal anak, tidak bersikap egois dsb. Tapi bagi saya gerakan LGBT ini sesungguhnya adalah ladang introspeksi bagi diri kita sendiri. Sudahkan kita melindungi dengan baik, keluarga kita sendiri? Sudahkah kita menyayangi keluarga kita sendiri dengan sepenuh hati? Sampai si buah hati tidak perlu mncari kasih sayang dr pihak lain?
Memerangi atau memususuhi atau mengerasi LGBT tentu sangat mudah, namun itu bukan cara terbaik untuk melindungi keluarga kita. Membenci bahkan kadang kita sampai terbawa emosi (kata pak ustad maaf lupa namanya, keadaan emosi adalah keadaan di mana kita kehilangan iman kita) tapi ini juga bukan solusi apa-apa.
Kita tentu akan marah jika ada salah satu keluarga kita menjadi bagian dr LGBT, tapi sudahkah kita memberi perisai pada keluarga kita. Sudahkah kita menjadi contoh keluarga straight yang baik? Marilah kita menjadi bijaksana, menjadikan semua ini sebagai langkah untuk intropeksi diri.
Me,
Semut yang ingin menentukan keberpihakannya
Kamu ada di pihak mana? Tunjukkan keperpihakanmu dengan tulisan. Kutantang kalian semua ;)

March 6, 2016

HARI MINGGU

Hari minggu seperti ini selalu membuat mata pengen merem terus. Meski malemnya sudah tidur cukup paginya ngantuk. Dan herannya mata ini seolah-olah punya alarm bahwa ini adalah hari minggu. Ngantuuukkkk teruuuussss. Meski pagi tidur siang tetep ngantuk dan males pengen tidur lebih sorean.
Makanya bagiku minggu adalah tidur sepanjang hari. Kalau hari minggu nggak leyeh-leyeh tiduran di kamar, rasanya bukan seprti hari Minggu. Bagaimana dengan kamu? :D

March 5, 2016

Mengenali Seseorang dari Tulisan

Menurutku tulisan kita itu menunjukkan apa yang ada di dalam pikiran atau hati kita. Bagimu mungkin enggak, tapi at least itu berlaku bagiku.
Contohnya nih, karena 95% pikiran dan hati saya ini sedang galau jodoh, maka isi blog ini cuma mengeluhkan tentang hal itu. Wkwkwk...
Kelak ketika aku punya suami, dan pikiran dan hati saya sebagian besar berisikan tentang dia, mungkin blogku akan dipenuhi dengan cerita tentang dia, bagaimana cintanya aku dan bagaimana bahagianya aku memiliki suami seperti dia.
Lalu ketika saya punya anak, mungkiinnn 99% blogku ini akan berisi tentang postingan yang bernada anakku yang lucu, anakku yang membanggakan, anakku yang imut, anakku yang menggemaskan, anakku yang paling kece sedunia. Hahaha...
Tapi karena blog ini kurang bermanaaf aku sedikit yakin 99% dari kalian, bosan untuk membaca apa yang ada di sini. Hahahaa.. Tapi tidak masalah, karena aku suka menulis, aku suka menceritakan apa yang sedang dalam hatiku atau dalam kepalaku. Lalu ketika kepedihan, kesedihan, kebahagian, itu sudah berlalu dan aku melupakannya, aku memiliki banyak tulisan kenangan. Membacanya kembali di masa depan itu seperti membuka album foto masa lalu. Menyenangkan, bagi diriku sendiri :)

March 4, 2016

Memilih Jodoh #eaa

Aku tahu bagi perempuan di umur yang tak lagi muda seperti aku, mungkin sudah nggak ada waktu lagi atau sudah nggak sepantasnya pilih-pilih untuk calon suami. Aku memahami ini. Dan mungkin itu yang dipikirkan banyak orang.
Tapi bagaimanapun aku tetaplah manusia yang punya hati. Bagaimana pun aku tetaplah memiliki perasaan. Dan perasaan nyaman, tidak nyaman, suka tidak suka, tetaplah selalu datang dalam situasi apapun, karena aku tetaplah manusia biasa.
Ibarat orang mau memakai baju, ketika dia diberi baju pasti dia akan berpikir apakah baju ini cocok dengan bentuk tubuhnya, apakah warna baju ini cocok dengan kulitnya, apakah baju ini cocok disesuaikan dengan salah satu atau salah dua dari koleksi bajunya yang telah ada. Dan yang lebih penting apakah dia suka dengan baju itu dan apakah dia akan merasa nyaman memakai baju itu. Tak peduli usia berapa, setiap orang pasti melakukan penilaian sebelum memutuskan membeli sehelai baju atau ketika menerima pemberian baju.
Ibarat orang mau makan, ketika seseorang disodori makanan dia pasti akan menilai makanan yang ada di hadapannya itu sebelum menyantapnya. Dari yang memberinya pasti akan terbersit apakah makanan ini halal, dari tampilannya pasti akan menilai apakah makanan ini enak, pedes atau enggak, dan lain sebagainya. Tak peduli berapa pun usia dia, mau tidak mau pasti dia akan menilainya. Karena kita adalah manusia yang punya akal dan juga hati.
Tapi ibarat orang mau makan, mungkin aku dianggap sudah sangat kelaparan, sehingga tak peduli lagi apa saja makanan yang disodorkan pasti akan dimakan. Sehingga tak peduli lagi apakah itu makanan halal, apakah itu enak, apakah itu pedes, apakah itu sesuai selera atau enggak. Lalu menyantapnya, menghabiskannya baru dipikirkan ketika selesai makan.
Ibarat orang makan, aku nggak mau jadi manusia yang kalap karena kelaparan. Aku nggak mau makan apa saja yang ada di hadapanku hanya karena aku lapar. Orang kelaparan biasanya tidak rasional dan tidak bisa berpikir. Lalu baru menilainya ketika aku kenyang, kemudian menyesalinya ketika ternyata itu bukan makanan halal, ketika ternyata itu makanan milik orang lain, ketika itu ternyata nggak sesuai dengan perutnya, ketika itu ternyata membuat perutnya mules-mules.
Jadi masalah memilih ini bukan masalah apakah kamu sudah tua atau masih muda. Masalah memilih ini bukan masalah kamu memiliki gengsi yang terlalu tinggi atau enggak. Masalah memilih ini adalah karena kami, kita semua adalah manusia, yang memiliki hati dan pikiran, yang memiliki selera yang dibentuk sejak dari kita kecil, entah sadar atau tidak. Jadi jangan menganggapku tidak pantas memilih, kecuali anda menganggap aku bukan manusia lagi.

March 3, 2016

Kenangan Masa Kecil

Malam ini, I don't know why aku teringat pada kenangan masa kecil saat aku masih TK (kalau nggak salah). Kenangan yang menurut orang lain mungkin memprihatinkan, tapi tidak bagiku kala itu, dan masih antar iya dan tidak bagiku saat ini. 

Ini adalah kenangan yang mungkin pahit bagi kakakku, tapi bagiku tidak, karena saat itu aku menyadari bahwa aku disayangi oleh kakakku.
Sebenernya aku bingung mau cerita dr mana, yang jelas waktu itu sedang heboh-hebohnya tentang film brama kumbara (now you know how old i am), atau tutur tinular atau entah apa aku lupa. Yang jelas, aku, masku yang pertama dan mbakku, diijinkan untuk nonton film di bioskop, tanpa orang tua, kami pergi bertiga. Kakak pertama saya yang diberi tangung jawab untuk menjaga 2 adik perempuannya. Padahal kalau nggak salah ingat kakak pertamaku masih kelas 1 SMP. Tidak pernah ke kota tapi dibiarkan ke kota dan membawa 2 adik perempuannya. Perlu kalian tau jarak rumah kami ke kota naik bis skitar 1,5 jam.

Ingatan ini sebenarnya tidak sempurna, terpotong-potong dan hanya beberapa bagian saja yang kuingat. Bahkan aku lupa kenapa masku yang kedua tidak ikut nonton, kalau nggak salah ingat karena dia sudah nonton bareng sepupu-sepupuku. Aku juga lupa gimana kami mendapatkan tiketnya, antri atau apa, bagaimana jalan ceritanya, di dalam bioskop seperti apa aku tidak ingat sama sekali. Yang aku ingat hanyalah, waktu kami pulang kami salah naik bis. Yang harusnya naik bis 99 ke kulonprogo, justru naik bis 99 menuju ke tempel (bahkan aku masih ingat bis menuju mananya, padahal aku sangat susah meningat nama tempat). Tapi aku lupa pas berada di dalam bis tempel dan bis bantul. Waktu kakakku sadar hari sudah cukup sore, tapi masih cukup beruntung karena kami mendapatkan bis sampai ke bantul, dan sayangnya sudah tidak mendapatkan bis menuju ke kulonprogo.
Lalu saat itu kami jalan kaki dari bantul ke kulonprogo. Mau tau berapa jarak kami turun dari bis ke rumah kami? Kalau di tempuh dengan sepeda motor jaraknya 1/2 jam. Jadi bisa dihitung sendiri seberapa lama kami jalan kaki menuju rumah kami. 

Aku lupa seberapa capeknya aku waktu itu, aku juga lupa bagaimana aku dan kakak-kakaku melewati jalan yang sangat jauh itu, aku juga lupa suasanya jalannya. Tapi yang aku ingat, sesekali kakakku menanyakan apakah aku capek. Kami jalan hanya dalam diam. Dan suatu ketika ada motor yang berhenti untuk menawari kami mengantarkan kami sampai rumah. Tapi masku menolaknya karena tidak kenal dengan mereka. Aku masih ingat itu di mana? Dan waktu itu aku tidak tau kenapa kakakku menolak kebaikan mereka. Paginya baru aku tau, ternyata itu untuk menjaga kami dr niat jahat mereka jika ada. 

Kalau nggak salah ingat aku sempet minta kakakku untuk menerima tawaran mereka tapi kakakku tetap menolaknya. Maklum waktu itu aku masih polos. Setelah itu kakakku menggendongku, karena tahu aku kecapekan. Sebenarnya aku tidak ingat sih apakah waktu itu aku kecapekan, tapi setelah aku pikir-pikir sekarang, mungkin kakakku berpikir aku kecapekan karena menginginkan tebengan ke rumah malam itu. Tapi seingatku sebenarnya aku biasa saja, bahkan kalau nggak salah ingat aku senang bisa jalan-jalan bareng kakakku. Diperhatikan oleh kakkaku dan digendong sama kakakku. Dan tahu bahwa sebenarnya kakak-kakakku menyayangiku. Maklum waktu kecil kami hanya sibuk berantem dan menjelek-jelekkan satu sama lain.
Waktu paginya orang-orang menghebohkannya, aku bahkan tidak menganggapnya itu sebagai musibah. Aku malah senang, dan menganggapnya luar biasa karena aku di sayangi oleh kakak-kakakku.
*damn! Setelah aku bercerita dan membaca kembali ini, betapa mirisnya kehidupan kecilku. Merasa tak dicintai oleh kakak-kakakku -___-
*2 paragraf pertama ditulis kira-kira 6 bulan yang lalu dan diselesaikan  skitar seminggu yang lalu. Hahahhaa...

March 2, 2016

Bahagia itu sederhana

Bahagia itu sungguh sederhana katanya.

Tau kan akhir-akhir ini aku sedang sibuk dengan dunia perbisnisan atau bahasa jawanya entepreneur? Buat yang belum tahu, aku sudah resign dari kantor penerbitan sejak Maret 2015 dan sedang mengembangkan bisnis fashion muslimah dengan brand @hijabnaziha (tolong follow IGnya ya)

Sebenernya saya sedang gundah gulana karena mau rebranding @hijabnaziha, mau jualan ke yang lebih mahal. Karena media yang kugunakan adalah IG maka butuh foto yang kece. Maaak duit dari mana Maaak?

Daaannn betapa bahagianya saya, ketika saya sedang memikirkan untuk pemotretan, untuk membayar fotografer, untuk membayar modelnya, ada teman yang dengan suka rela ngajakin untuk foto2 produk bareng. Gratiss pula, nggak pake bayar. Padahal aku sudah membayangkan pengeluaranku akan semakin banyak karena pemotreran yg awalnya kurencanakan ini. Pucuk dicinta ulam pun tiba banget gak sih? Allah sungguh sangat baik padaku. He is sooooo great! I love You.

Ditulis sejak 9 bulan lalu tahun 2016, baru dipost hari ini. Hehehehe

March 1, 2016

#10FavoriteThingsinMyRoom Number Seven

Aku selalu suka pernak-pernik stationary yang unyu-ungu. Memilikinya itu berasa jadi wanita hits, kece, shopisticated dan keren banget. Apalagi setelah kerja di rumah, nggak ada meja kerja, adanya cm dompet kerja, mau menghias meja nggak bisa. Jadi ya cukup beli stationary nya aja. Hahahaa...

Sebenernya dari dulu sih suka sama barang-barang lucu begini. Tapi dulu jaman sekolah mah nggak punya duit. Waktu kerja lumayan ada duit sih, tapii sayang kan kalo beli peralatan keperluan kantor pake uang pribadi? Hehehehe... *dasar pelit nih* Jadi malah gak dibeli.

Dan setelah resign barulah aku membelinya, apalagi aku baru saja nemuin online shop yang jual stationary lucu-lucu tapi murah-murah banget. Kalau di foto lucu-lucu banget ya? Tapi sebenernya kualitasnya nggak terlalu bagus. Tapi gpp, ini sudah cukup membuatku bahagia, dan merasa menjadi womenpreneur yang hits, kekinian, gaul dan sopisticated. Wkwkwkkw... *uopoh jial? -_-