April 6, 2013

Miss It

Huwah, liat foto-foto lucu di blog, saya jadi kangen Smart Phone-ku. Hiks. Aku menjualnya karena memang sudah bermasalah. Meskipun barangnya masih terlihat cakep dan keren, tapi kadang hapeku metong sendiri. Pokoknya bikin sedih banget deh.



(foto terakhir saat aku mau menjualnya. Masih cakep kan? Kece banget kan?)

Setelah itu aku bingung mencari pengantinya. Bingung antara Andromax U atau BB Amstrong. Sekitar satu bulan aku bingung memilih antara keduanya, akhirnya aku mentab membeli Andromax U. Setelah aku mantab dengan Andromax U, dan sudah membelinya, temanku justru salah membelikanku, dia membelikanku Andromax U warna putih. Sebagai mantan pecinta hitam, dan belum pernah cinta sama putih. Akupun menjualnya, tanpa membuka segelnya.


Tapi saat ini Andromax U sangat sulit dicari, baik yang putih maupun yang hitam. Aku harus masih menunggu sekitar 1 minggu lagi untuk mendapatkannya. Hiks! Kenapa sih aku harus selalu menunggu untuk sesuatu yang kucintai (eaaa, malah curhat. wkwkkwkw). Mungkin supaya aku lebih bisa menghargai apa yang nanti akan menjadi milikku itu. Eheheheh.. sudahlah. Sekian curhatan dari saya. Terimakasih

April 5, 2013

A Brighter Smile on My Head


I see a difference smile on your face for me.

But it's just my imaginations.

I saw a brighter smile.

But I was wrong.

That's not a brighter smile, that just a usual smile that you gave for all.


Show Up


Saya selalu suka orang cerdas, baik cewek maupun cowok. Saya selalu kagum dengan mereka. Tapi paling nggak suka saat mereka menunjuk-nunjukkan kepinterannya di hadapan umum. Misalnya, saat berdiskusi dia menguasai ruangan, bertanya ke dosen atau guru dengan sombong bukan karena mereka tidak tahu beneran, tetapi hanya untuk menunjukkan bahwa dia lebih tahu dari yang lain atau dia telah membaca buku yang "berat".

Fenomena semacam ini, sekarang nggak hanya terjadi di dunia nyata saja, tetapi juga di dunia maya. Hal semacam ini sering terjadi di twitter. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang luas, atau memiliki ide atau gagasan tertentu mengumbarnya di twitter. Saya paling tidak suka dengan tipe orang seperti ini. Kesannya melakukan pencitraan, mungkin biar dianggap pintar oleh teman-temannya, ingin dianggap keren oleh gebetannya. Selebay-lebaynya alay, atau segalau-galaunya galauwer di twitter, saya masih bisa memaklumi. Padahal ya ngeliatin orang galau atau alay di twitter aja sudah bikin mual-mual, tapi ternyata ada yang bisa lebih membuatku mual-mual.

Jika memang dia pintar, dia memiliki gagasan tentang sesuatu, kenapa tidak menuliskannya di artikel, atau di blog. Mungkin twitter memang lebih populer, bisa dilihat oleh banyak orang, namun berapa lama sih postingan tweet itu bertahan di TL? Dia hanya akan menghilang dan tertimbun di antara twit-twit alay dan lebay lainnya. Ia akan mudah dilupakan. Lalu ngapain harus ditulis di tweet??

Di blog atau di sebuah artikel, kamu akan lebih bebas. Kamu bisa lebih luas menyampaikan sebuah pendapat atau gagasan. Buah pikiranmu akan lebih cetar membahana badai tralala, dan akan lebih abadi.


Sekian postingan saya yang nggak penting tentang pencitraan di twitter.


April 4, 2013

A Man Who Is Very Attractive


Kembali blog walking, dan menemukan tulisan yang sangat menarik hari ini. Dan kembali menyadari kalo diriku bisa admire sama seseorang hanya karena sebuah tulisan. Tulisan adalah hasil sebuah pemikiran, dari situ kita bisa melihat tingkat intelegensi seseorang, eh bukan, mungkin lebih tepatnya luas tidaknya pengetahuan seseorang.

Suatu ketika, diriku pernah admire seorang penulis karena dia bisa menulis novel fiksi, bisa menulis tulisan non fiksi tentang gerakan buruh, bahkan bisa menulis tentang kesetaraan gender. Biasanya penulis hanya bisa menulis satu genre saja menurutku, kalau nggak fiksi ya non fiksi. Tapi si Mas-mas satu ini hebat karena dia bisa menulis tulisan baik fiksi maupun non fiksi. Padahal penulis ini "hanya" seorang buruh dan sekali lagi "hanya" lulusan SMA. Memang tingkat kecerdasan dan luasnya pengetahuan seseorang tidak bisa diukur dari strata pendidikannya. Meskipun dia lulusan S3 tapi tidak pernah membaca, aku yakin pemikiran dia sama seperti lulusan SMP.

Hari ini pun diriku kembali mengagumi sesorang karena postingannya di blog. Dari sana diriku bisa mengetahui bahwa si pemilik blog cedas dan asyik. Gaya penulisannya yang asyik, dan materi postingan yang dia bahas menurutku sangat memikat hati. Iyes diriku memang selalu termehek-mehek sama pria cerdas, meskipun kecerdasan nggak selalu jadi patokan pasti. Pernah juga kok suka sama cowok yang menurutku nggak cerdas dan nggak memiliki pengetahuan luas. Lebih parahnya lagi dia ngerokok. Nggak tau waktu itu diriku kena pelet apa, yang jelas aku bisa suka bhianget waktu itu. *malah curhat*

Sayangnya, aku harus patah hati lagi sama pemilik blog, sebab di blognya, dia menceritakan bahwa dia sudah memiliki istri dan satu anak. Alamaaakkk. Kenapa sih lelaki berkualitas selalu sudah laku???


April 1, 2013

Cerita Konyol Sore Ini

Yuhuuu.... Saya kembali dengan cerita konyol yang bersetting di kantor L di sore hari yang sudah sangat petang dengan tokoh utama, diriku, septi (nugrahawati yang sesungguhnya laki-laki) dan Pak Bos tentunya.

Yoai, sore tadi dengan sengaja nggak langsung pulang karena nungguin deal transaksi senilai puluhan juta. Setelah deal selesai, maka harus nunggu sang Editor paling cantik sedunia (versi eghem) untuk membagi kerjaan freelance. Dan ada Septi di kantor, padahal sebentar lagi anak ini nggak ngantor di L lagi, dengan senang hati maka saya nggarapi dia dulu. Pembicaraan pun ngalur ngidul nggak jelas, sampai pada akhirnya lari ke pembicaraan gaji yang belum dibayarkan. Septi dengan gayanya itu bercerita waktu di ruang Pak Bos dan bercerita tentang gaji yang ditangguhkan dengan detail pembicaraan Pak Bos ke dia. Tiba-tiba Pak Bos muncul dari belakang. Wkwkwkkw, sumpah ngakak banget deh. Berniat menyelamatkan Septi, aku pun nunjuk-nunjuk ke belakang Septi, bermaksut ngasih kode, tapi yang dikode sungguh bloon minta ampun. Nggak ngerti-ngerti juga. Akhirnya yang sadar justru Pak Bos, dia pun bertanya

"Kenapa? belum ya? kalau mau ini ada cash" Nah looo...

Kadang Diriku ini sangat cerdas, aku ngeles dan akhirnya Pak Bos pun percaya kalau sebelumnya kita sedang membicarakan deal proyek puluhan juta yang barusan terjadi dan bukan tentang gaji. Di saat kepepet pun otak Septi bisa menjadi sangat cemerlang, begitu Pak Bos balik ke kantornya, septi langsung membicarakan deal tersebut, dan spesifikasi cetaknya. Sehingga, ketika Pak Bos balik buat wudzu dan sholat kami masih membicarakan hal sama.

Well, demikian cerita sore ini. Semoga bisa menghibur kalian :))




March 15, 2013

Can't Think without It


Ini dia benda kesayangan yang nggaaakkk bisa lepas benget dari kepala, saat aku bekerja. Tanpanya aku tidak bisa berpikir dengan benar, tidak bisa bekerja dengan benar. Benda ini bisa membuatku berada di duniaku sendiri, menjauhkanku dari kebisingan luar, membuatku lebih konsentrasi.




(abaikan mejaku yang berantakan)

Keburukan benda ini, kadang ia menjauhkanku dari teman-teman, membuatku ketinggalan berita terbaru (untungnya kalo gosip masih selalu yang terdepan. ekekekeke..)

Sudah 3 kali ganti Headset, bahkan aku masih inget semua harga Headset yang aku beli. Yang pertama berwarna hitam harganya 35rb, suaranya nggak terlalu oke. Yang kedua seharga 45rb, suaranya sudah lumayan oke, bass luamayan, sayang kalau dipakai telinga suka sakit karena terlalu menekan. Dan yang terakhir yang ini, harga 50rb, tapi kualitas sumper sekali. Love my last headset very much. Ekekekek...

*sumpah postingan yang sangat penting :p

March 14, 2013

Masih tentang Jodoh

Teringat pembicaraan malam itu, saat seorang sahabat curhat tentang ke-kepo-an seorang Ibu yang tidak dikenal tentang status pernikahannya. Suatu hari saat temanku sedang menjenguk kenalannya di rumah sakit, dia ngobrol dengan penjenguk-penjenguk yang lain. Saat itulah duduk seorang ibu yang tak dikenal disebelahnya. Di tengah-tengah pembicaraan si Ibu ini bertanya "sudah umur berapa Mbak?" Meskipun jengkel dengan pertanyaan yang sangat pribadi, temanku menjawab dengan sopan. Setelah itu, si Ibu Kepo masih bertanya "Sudah menikah?" Yess, I know pertanyaan sensitif bagi perempuan seumuran kami. Dan dengan kejengkelan tingkat dewa dia masih menjawab dengan sopan "Belum Bu" dan ibu itu pun menjawab "Walaaahh, nunggu apa lagi Mbak? Sudah waktunya" dengan sedikit bangga temanku pun menjawab "Tinggal menunggu waktu kok Bu, sudah ada calonnya" Temanku berpikir untung sudah ada calon, gimana kalo belum masa bilang "belum ada yang mau?" Dan saat temanku bercerita padaku aku pun menjawab "kalo aku yang ditanya, aku bilang begitu. Lhawong kenyataannya begitu"

Bagi orang-orang tertentu, perempuan ataupun laki-laki yang tak kunjung menikah di "usia yang seharusnya sudah menikah", adalah orang-orang yang tidak memikirkan pernikahan. Di dalam kasusku dan kasus teman-temanku, tidak seperti itu. Kami justru orang-orang yang sangat memikirkan pernikahan. Bagaimana tidak memikirkan pernikahan, jika setiap saat semua orang menanyakan hal itu? "Kapan menikah? Mana undangannya? Mana calonnya? Mana anaknya? -___- Sudah nggak usah pilih-pilih. Kapan nyusul?" (kalo pertanyaan yang terakhir selalu kujawab "nyusul kemana?").

Di dalam kasusku dan kasus teman-temanku, kami hanyalah high quality jomblowati yang belum menemukan belahan jiwanya (saaaahhh). Kami memikirkan tentang pernikahan, kami juga memikirkan tentang membangun sebuah keluarga yang happy ever after, tapi kami hanya belum menemukan partner kami. Bagi orang-orang tertentu, kami ini adalah perempuan-perempuan yang lebih mementingkan karier, materi dan pekerjaan dibandingkan pernikahan. Nope. We're not like that. Kami menganggap pernikahan, karier, pekerjaan adalah sesuatu yang sama-sama penting. Saat ini kami hanya menjalani apa yang ada di depan mata terlebih dahulu. Jika pada akhirnya kami lebih banyak memikirkan pekerjaan dan karier, mungkin karena itulah yang bisa kami pikirkan saat ini. Karena kami belum harus berkecimpung dengan urusan domestik dan memikirkan semua itu.

Kalau kami selalu terlihat bahagia, lalu seharusnya seperti apa? Apa iya, kami harus selalu terlihat sedih sambil meunggu jodoh yang menjemput? Yang boneng aja Buu? Pria mana juga yang mau mempersunting perempuan yang selalu cembetut? Mungkin bagi orang lain, hidup kami ini kurang, karena kami belum menemukan jodohnya. Tapi apakah kami harus terlihat bersedih, terlihat tak bahagia? Keceriaan dan kebahagian yang terlihat dari luar seharusnya tidak menjadi judgement mereka terhadap kami.

Selain itu memilih jodoh itu nggak seperti memilih gadget yang "aku suka, aku punya uang, maka aku memilikinya". Jika memilih jodoh seperti itu, maka lebih baik aku tak pernah berjodoh dengan siapa pun. Karena memilih jodoh itu menyatukan dua hati (hoek cuih). Kadang hati kita telah memilih tapi si dia tidak. Kadang hati mereka memilih kita, tapi kita tak pernah memiliki rasa sedikit pun.

Tentang menikah, tentang menemukan jodoh, menurutku tidak pernah mudah, terutama bagi orang-orang yang berniat menikah sekali seumur hidup. Memilih jodoh tidak sesimpel memilih gadget (milih BB aja rempong Buu, apalagi memilih pasangan) yang jika sudah bosan atau rusak bisa diganti dengan yang baru. Tentunya kita menginginkan jodoh yang ideal menurut kita, yang bisa menerima kita apa adanya, yang bisa memberi kita kebahagiaan selamanya. Untuk menemukan seseorang seperti itu, kadang kita butuh waktu. Dan waktu yang dibutuhkan oleh satu orang dengan orang lainnya berbeda. Menemukan jodoh tidak berhubungan dengan umur. Dan menemukan jodoh lebih dulu bukan berarti mereka memiliki kehidupan yang lebih bahagia.

*ditulis saat pikiran masih normal dan tidak sedang galau, tapi hanya gatel pada judgment yang orang-orang berikan pada high qualiti jomblo yang tak kunjung menikah. Semoga bisa jadi perenungan bersama (nyari ember muntah)