August 19, 2013

Tjerita Hari Rayaku

Ternyata tahun ini ada yang berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Aku pernah mengalami perubahan besar di lebran tahun 2006. Perbedaan terbesar lebaran dengan lebaran tahun sebelumnya adalah saat Bapakku tidak ada. Ada sedih yang sangat mendalam ketika pertama kali berlebaran tanpa bapak. Pertama kali lebaran tanpa bapak ibukku pun menangis hebat. Sejak lebaran itu dan sampai lebaran tahun 2012 lalu, pesan budeku tiap lebaran adalah "momong ibu baik-baik". Momong, satu kata yang biasanya digunakan untuk menjaga anak kecil. Momong bisa juga diartikan sebagai sangat menjaga dengan hati-hati. Dari pesan budeku beliau ingin menyampaikan bahwa sekarang Bapakku sudah tidak ada sekarang tugasku untuk menjaga ibuk baik-baik. Beban itu sekarang ada di pundak anak-anaknya bukan di pundak bapak lagi.

Itu adalah kehilangan dan perubahan terbesar dalam hidupku. Sampai sekarang setiap mendekati lebaran pun aku masih sering teringat bapak. Kebiasaan bapak dan juga kegiatan kami saat mendekati lebaran, dan juga guyonan beliau tentang puasa yang selalu sama setiap tahun. Setiap tahun beliau cerita hal yang sama tapi budeku tidak pernah absen tertawa, bahkan selalu sampai menangis. Dulu aku bosan mendengar cerita itu, karena sudah hafal. Tapi ketika beliau sudah tidak ada, bahkan aku mengulang cerita itu di depan budeku dan budeku masih saja tertawa. Setiap kali mendekati lebaran seperti ini aku selalu merindukan bapakku. Kali ini pun sama. Itu adalah perubahan lebaran terbesar dalam hidupku. Dan tahun ini pun aku mengalami perubahan lagi.

Pertemuan manusia dengan siklus hidupnya adalah sesuatu yang wajar, semua orang akan mengalami siklus hidup mereka masing-masing. Lahir, puber, menikah, mempunyai anak, kemudian meninggal. Tapi yang tidak pernah aku ketahui adalah ketika siklus hidup orang lain itu bisa sangat berpengaruh pada hidup kita sebagai orang dekatnya.

Tahun 2012 yang lalu temanku menikah. Dia adalah salah satu teman terdekatku. Teman senasib sepenanggungan. Pernah satu sekolahan, pernah satu kos waktu kuliah, pernah menjadi manusia pengangguran bareng, dan menjadi high quality jomblo bareng di saat semua orang seumuran kami sudah menikah. Kami saling berbagi kesedihan dan juga kebahagiaan. Meski kadang kami tidak saling tegur sapa karena jarak yang memisahkan, tapi kami masih saling memiliki.

Setahun yang lalu, aku masih ingat di bulan Ramadahn dia mengabarkan bahwa dia akan menikah akhir tahun 2012. Ada perasaan sedih saat itu, takut akan kehilangannya, takut tidak akan memiliki rasa senasib sepenanggungan lagi, dan takut bahwa kami sudah tidak bisa saling memahami. Aku sempat bersedih beberapa bulan karena itu. Iya, aku seharusnya berbahagia untuknya, dan waktu itu aku memang bahagia. Tapi nyatanya kesedihanku jauh lebih besar.

Jangan anggap aku jahat, karena kesedihan ini bukan bersumber dari kedengkian, tapi bersumber dari ketakutan akan kehilangan dia. Ketika teman kita memasuki siklus hidup yang baru dan kita tertinggal darinya, terkadang kita merasa tidak berada di dunia yang sama lagi. Mungkin karena yang satu merasa temannya lupa bagaimana rasanya sebelum melewati satu tahap kehidupan yang baru, sedangkan teman kita merasa "well ada yang jauh lebih buruk dari tahap kehidupanmu yang itu" atau mungkin "aku punya masalah, aku harus cari bimbingan dari orang yang sudah berpengalaman". Dan saat itu tentu bukan kita yang berpengalaman itu, tapi orang lain. Kemudian komunikasi pun menjadi tidak sama. Gelombang frekuensi berbeda, sehingga tidak ada kecocokan lagi.

Hampir satu tahun dia menikah, dia tidak pernah memberi kabar entah tentang kehidupan pernikahannya atau kehiduapannya yang lain. Dia memang tidak jarang memberi kabar. Dari dulu pun kami tidak intens saling memberi kabar. Tapi saat masing-masing punya masalah, dialah dan akulah orang pertama yang akan diberi tau. Hubungan kami akan intens saat kami sedang jatuh cinta, patah hati atau sedang punya masalah. Kami memang jarang berkomunikasi tapi kami saling memiliki. Kami saling merasa bahwa kami saling memahami satu sama lain. Dan tidak ada yang bisa lebih memahami diriku selain dia, dan tak ada yang bisa memahami dia lebih baik dari aku memahaminya.

Sebelum dia menikah kami memiliki kebiasaan yang sama setiap tahun sebelum lebaran, yakni hunting baju bareng. ketika aku sudah membeli baju untukku sendiri, Aku akan dengan senang hati mengantarnya memilih baju. Yang jelas, kami selalu meluangkan waktu bersama ke pusat kota Jogja sebelum atau sesudah lebaran. Aku akan menemaninya memilih baju lebaran atau menemaninya membeli oleh-oleh untuk teman-temannya di Jakarta.

Tapi tahun ini ada yang berbeda, tahun ini dia mudik H+1 atau di lebaran kedua. Tidak ada ritual membeli baju bareng atau mencari oleh-oleh piapia untuk teman-temnnya. Dan tiba-tiba aku merindukan saat itu. Saat kami jalan bareng nyari baju. Saat kami meluangkan banyak waktu untuk bersenang-senang bersama. Setelah lebaran kami memang sering meluangkan waktu bersama. Karena hanya lebaranlah dia punya waktu lama untuk mudik.

Dan bahkan tahun ini kami tidak sempat bertemu. Pesan singkatku "sampai ketemu di ngentakrejo" hanyalah sebatas bbm biasa, tanpa ada realisasinya. Iya, aku masih merindukan sahabatku. Aku masih merindukan gelak tawa bersama itu. Tapi mungkin semua sudah tidak lagi sama.

August 1, 2013

Tentang Novel Macaroon Love




Sore ini aku mau mencoba mereview sebuah buku yang beberapa waktu lalu aku beli, judulnya Macaroon Love karya Mbak @WindaKrisnadefa. Karena aku orangnya suka banget ngocehin buku maka 500 kata itu terbatas banget, langsung cuss saja ya. 

Macaroon Love ini bercerita tentang seorang gadis 24 tahun bernama Magali yang mempunyai pekerjaan sebagai penulis lepas di sebuah majalah kuliner. Mempunyai sepupu bernama Bheu, ayah bernama Jodhi dan Nene, neneknya. Sejak kecil Magali hidup bersama Nene dan Bheu karena Jodhi bekerja sebagai juru masak di kapal pesiar. Karena Jodhilah Magali memiliki pengetahuan yang luas di bidang kuliner. Magali diceritakan sebagai cewek yang sinis terhadap semua hal termasuk namanya. Sepanjang hidupnya dia sangat membenci namanya, bahkan dia menganggap keanehan-keanehan yang ada di dalam dirinya itu bersumber dari namanya yang aneh. Sebagai seorang cewek yang merasa dirinya aneh dia tidak menyukai hal-hal yang biasa. Saat berumur 10 tahun dia tidak suka sepatu kets berwarna pink dengan aksen gliter yang sangat disukai teman-teman sebayanya, dia lebih menyukai sandal jepit dari pada sepatu. 

Sebagai orang yang tidak menyukai hal-hal yang umum, sangat aneh bagiku ketika melihat Magali ini tidak menyukai namanya bahkan sampai umurnya 24 tahun. Orang-orang yang tidak menyukai “keumuman” biasanya akan menyukai hal yang berbeda. Nama Magali yang tidak umum seharusnya disukai Magali. Menurutku ini jadi tidak sinkron saja dengan cerita besarnya, bahwa Magali diceritakan sebagai orang yang tidak menyukai hal-hal yang biasanya disukai orang jamak. 

Keanehan kedua adalah ketika Magali digambarkan sebagai seseorang yang memiliki selera makan yang tidak umum, tapi kenapa dia bisa menjadi seorang wartawan lepas di majalah kuliner. Memang sih pengetahuan Magali sangat luas tentang dunia kuliner, kalau kamu membaca buku ini, kamu pasti akan setuju kalau pengetahuan Magali tentang dunia kuliner luas. Tapi apa penilaian Magali yang “subyektif” ini tidak menganggu dalam kinerjanya. Mungkin akan lebih seimbang jika di sini diceritakan beberapa liputan Magali tentang makanan, supaya pembaca juga tahu kemampuan Magali, dan tidak “meragukan” kemampuannya dalam menilai sebuah sajian makanan. Memang sempat diceritakan Magali Meliput di sebuah restoran fine dining, tapi hanya sekali itu saja menurutku kurang. 

Menurutku dua itu saja sih yang aneh, nah sekarang kita bahas yang kecenya ya. Bak makanan akan lebih mantab jika yang enak disisakan di akhir, supaya rasanya nempel dan awet di lidah. Hehehhee…. 

Aku sangat suka novel romantis yang di dalamnya tidak hanya berisi tentang cinta-cintaan saja, tapi juga dibahas hal-hal lain. Dalam hal ini Mbak @WindaKrisnadefa memadukan cerita romantis dengan dunia kuliner. Aku sangat kagum dengan riset yang dilakukan Mbak @WindaKrisnadefa dan kemampuan dia dalam meramu pengetahuan dia tentang dunia kuliner, permasalahan yang dihadapi Magali dan juga kisah cinta yang ada di dalamnya. Aku sangat suka saat Magali meliput di sebuah restoran fine dining, di sana terlihat jika Magali (maksudnya penulis) memang tahu betul tentang restoran dan bagaimana design interior sebuah restoran itu seharusnya. Atau ketika Magali berdiskusi dengan Amar tentang makanan manis sebagai desert, Magali menunjukkan pengetahuan dia yang sangat luas, yang tidak disadari sendiri oleh Magali. 

Segitu saja ya, pembahasan saya. Sebenernya masih pengen ngoceh tapi dibatasi 500 kata, jadi cukup sekian dan terimakasih sudah membaca. :)


July 29, 2013

Nyamannya Saat Ramadan


Assalamu’alaikum. *edisi Ramadan*

Membicarakan tentang Ramadan, aku selalu suka, entah kenapa aku tidak pernah tahu alasannya. Padahal kalau dipikir-pikir seharusnya kita males ya? Sebab kita harus kelaparan sepanjang siang, mengalami dehidrasi dan juga ngantuk yang tak berkesudahan, sudah gitu kita juga harus (bagi yang mau sih) menjalankan salat tarawih yang banyaknya minta ampun jika dijalankan di hari non Ramadan. Tapi saat Ramadan, aku rela-rela saja saat menjalankan tarawih, bahkan bisa merasa bersalah jika tidak menjalankannya berjama’ah di Masjid.

Mungkin aku menyukai Ramadan karena banyak kenangan manis saat Ramadan (cieee). Misalnya jatuh cinta saat Ramadan, patah hati saat Ramadan, buka bersama dengan gebetan saat Ramadan, semangat berangkat tarawih karena bakal ketemu gebetan. Wkwkwkwk.. ngawur banget. Enggak gitu juga sih. Sebenernya semua perasaan itu pernah dirasakan saat bulan-bulan biasa, tapi rasanya perasaan selalu lebih menyenangkan saat Ramadan, entah itu perasaan rindu sama gebetan atau perasaan jatuh cinta saat Ramadan. Bahkan saat tidak sedang jatuh cinta pun aku selalu inget apa yang aku alami bersama gebetan tahun lalu, 2 tahun yang lalu, atau bahkan bertahun-tahun sebelumnya. Wkwkwkwkwk… Kenangan itu tiba-tiba menyeruak dan mengetuk-ngetuk kenangan. (ngemeng apa sih?)

Atau mungkin aku menyukai Ramadan karena suasananya. Saat Ramadan semuanya serba Ramadan (opo jal maksud e?). Iklan di televise, sinetron yang tak jelas semuanya bertema Ramadan dan Islami.  Bahkan orang bisa membicarakan tentang agama Islam tanpa takut dibilang sok alim. Iya, di hari-hari biasa, mungkin orang akan takut saat mereka mengatakan hal-hal yang islami, karena takut dibilang sok alim. Tapi saat Ramadan, semua orang bahkan artis, penyiar radio, pemilik akun twitter tiba-tiba membicarakan tentang jilbab, salat, dll. Bagiku sih nggak masalah, karena membicarakan tentang agama Islam nggak harus yang alim kok, semua orang boleh membicarakannya. Toh Islam ada untuk semua umat, supaya semuanya lebih baik. Tapi jangn mengatakan itu pada orang non islam, karena mereka punya keyakinan sendiri tentang agamanya. Jika nggak mau dipaksa maka jangan memaksa. Sepertinya sudah di luar topic, mari kembali ke topic.

Mungkin aku menyukai Ramadan karena perasaan damai yang selalu aku rasakan saat Ramadan. Aku tidak pernah tahu pasti kenapa saat Ramadan aku selalu bahagia, nggak pernah ada rasa-rasa galau yang melanda (bahasanya). Aku hanya bisa menduga-duga kenapa aku selalu bahagia. Begitu suara magrib berkumandang di malam pertama Ramadan, perasaan itu selalu muncul, perasaan bahagia itu. Aku juga jadi bersemangat tarawih pertama. Apalagi saat buka puasa pertama, wajib rasanya sayang banget kalau nggak dilewatkan bersama keluarga. :D

Di bulan Ramadan, entah kenapa aku juga jadi rajin baca Al-Qur’an. Sekali baca bisa setengah jus, atau bahkan satu jus, itu pun sehari nggak hanya sekali. Kalau hari-hari biasa mah boro-boro, mungkin hanya 1 makra’ saja dan satu kali baca saja. Hehehehe…. :D

Ada satu lagi yang membuatku bahagia saat Ramadan, yakni persiapan lebaran. Persiapan lebarannya saja lho ya, bukan lebarannya. Kalau ditanya mana yang lebih aku sukai, aku akan menjawab Ramadan lebih menyenangkan dibandingkan lebaran. Iya persiapan lebaran seperti mempersiapkan baju baru, makanan lebaran, bersih-bersih rumah memang selalu mengasyikkan. Menyenangkan karena biasanya kami seru sekali menyiapkannya, aku, adekku, mbakku, ibukku, mas-masku, semuanya. Kekompakan pun benar-benar aku rasakan saat persiapan lebaran ini. Yang biasanya aku Cuma bisa nyicip makanan, aku ikut nimbrung masak, ngerecokin mereka semua sih. Ekekkeke…

Itu saja ya celoteh tidak pentingku, semoga cukup memuaskan hasrat kalian. (Uwopoohh???)



Assalamu’alaikum salam wr wb. *undur diri gaya muslimah anggun*

July 22, 2013

Konsekuensi Logis


Seperti yang selalu aku bilang "perpisahan adalah konsekuensi logis dari sebuah pertemuan". Cepat atau lambat perpisahan itu pasti akan terjadi. Dan bulan ini aku harus menghadapi sebuah konsekuensi logis dari pertemuan itu, aku harus mengalami perpisahan lagi. Nyesek rasanya, meskipun saat ini aku tidak harus berpisah dengan orang, tapi dengan sebuah tempat, tapi rasanya tetap menyedihkan. Kali ini aku harus berpisah dengan kantorku, tempat yang kece badai yang menaungi aku dan teman-temanku saat bekerja.


Iya, kami harus pindah tempat lagi. Sedih karena kami sudah terbiasa dengan tempat yang nyaman ini. Waktu sabtu kemarin aku mendapati buku-buku yang dipajang di rak sudah ditaruh di kardus rasanya nyesek. Ada perasaan kehilangan saat melihat rak-rak yang kini kosong.


Selama ini kami para pekerja memang kurang mensyukuri keberadaannya. Mungkin karena kami menganggap sudah sewajarnya kami mendapatkan semua fasilitas itu, tidak ada yang istimewa, jadi kami kurang bersyukur atas keberadaannya. Tapi ketika kami harus berpisah dengan kantor ini ternyata tempat ini sangat istimewa, tempat ini sangat nyaman, tidak rela rasanya berpisah dengan tempat ini.


Iya, kami memang kurang bersyukur, tidak pernah mengucap alhamdulilah, tapi justru merasa selalu kurang. Berbeda waktu di kantor lama, rasanya kami justru tidak terlalu rewel, tidak banyak menuntut. Di sini, setelah saya mengingat-ingat, kami terlalu banyak menuntut. Tempat yang kurang sunyi, loker yang terlalu jauh, ruang yang kurang memadai, mungkin masih banyak lagi, tapi aku tidak ingat semuanya.


Setelah kami harus berpisah dengannya, sekarang kami merasa kehilangan. Kami memang terlalu bodoh, menggapnya istimewa setelah harus kehilangan. Semoga kami bisa mengikhlaskannya supaya Allah mengganti dengan yang jauh lebih baik lagi. Aamiin.



July 20, 2013

Kebencian di antara Kecintaaan


Demi Allah, aku cinta banget sama Jogja, menurutku kota ini kota adalah tempat paling nyaman untuk tempat tinggal dibandingkan tempat lain di Indonesia, bahkan mungkin di Dunia. (Iyalah kamu nggak pernah ke mana-mana buk). Iya, meskipun aku nggak pernah ke mana-mana, tapi rasanya susah banget buat meninggalkan kota ini. Banyak alasan kenapa kota ini nyaman banget buat tempat tinggal selain alasan utama orang-orang yang aku kenal dan aku sayangi tinggal di sini. Kata sebuah film tempat yang paling nyaman adalah tempat di mana orang-orang yang kamu kenal dan kamu sayangi berada di sana.

Kamu mau tau, hal apa saja yang membuatku cinta sama Jogja? Ini dia:

1. Banyak makanan lezat dan nikmat yang dijual di Jogja. Di tempat lain juga ada, tapi nggak ada yang semurah di Jogja. Kalo di Jogja makanan pinggir jalan pun rasanya cetar membahenol nagih.
2. Banyak rental film yang murah meriah di Jogja (nggak tau di kota lain seperti jakarta atau bandung ada enggak)
3. Banyak rental komik yang melayanimu sampai jam 12 malem. Kalau di kota main mungkin bukan pinjem tapi harus beli.
4. Banyak public space yang anak muda banget tersedia gratis di Jogja, bahkan tersedia 24 jam. Di kota lain nongkrong di public space yang gaul harus merogoh gocek yang nggak sedikit. Kalau pun ada yang gratis, ternyata tempatnya nggak gaul banget dan nggak anak muda banget. Begitu kamu nongkrong di situ kamu dikira anak jalanan. (Well nggak tau juga sih sepertinya aku cuma sotoy aja).
5. Penduduknya ramah dan ndeso, nggak sok gaul dan sok kaya. Mereka menunjukkan mereka apa adanya, bahkan seringnya justru bersahaja tidak menunjukkan kekayaan mereka, karena di kota ini bukan uang yang dinilai tapi tingkat intelegensi seseorang. Kamu dinilai bukan karena pakaian yang kamu pakai tapi dinilai karena cara berpikir kamu. Berbeda dengan orang Jakarta yang tidak sempat mengobrol dengan orang, sehingga penilaian akan diberikan hanya melalui apa yang kamu pakai, hanya dari apa yang mereka lihat (baju, kendaraan, gadget, dll). Mereka tidak sempat menilai intelegensimu, karena berbicara denganmu pun mereka tidak sempat. Padahal intelegensi hanya bisa dinilai dari komunikasi entah lisan atau tulisan. 
6. Banyak tempat-tempat (bahkan yang bukan tempat wisata) yang asik buat digunakan untuk berwisata mengurangi penatnya pekerjaan atau masalah hidup GRATIS. Ingat ya GRATISS!
7. Keluarga dan orang-orang yang kucintai tinggal di sini. Mungkin ada tempat yang sangat ingin aku kunjungi tapi aku tidak pernah berniat untuk tinggal, karena semua orang yang kucintai ada di Jogja.
8. Tempat yang nyaman untuk membesarkan anak di kemudian hari. Iya, Jogja masih nyaman. Tahu kan maraknya penculikan di kota-kota besar? Saya sangat takut mengalami itu. Belum lagi pergaulan anak muda jaman sekaraang. Hadeeehhh. Bikin takut nggak bisa menjaga mereka dengan benar.
9. Karena aku sudah terbiasa dengan kota Jogjakarta. Iya alasan sepele ini, aku terbiasa di sini, aku tidak terbiasa di tempat lain. Aku akan selalu merindukan tempat ini bukan tempat lain. 

Well, secinta-cintanya aku sama Jogja ternyata ada hal yang sangaaattt aku benci dari kota ini, yakni tukang parkirrnyyaaa.... Menurutku tukang parkir di Jogja itu nggaaak penting banget! Mereka ada di mana-mana seenak jidat mereka.

Sebenarnya aku maklum kalau aku harus membayar parkir di tempat-tempat tertentu yang menurutku memang pantas untuk membayar parkir. Tempat yang pantas itu misalnya di Mall, di toko-toko besar, di tempat makan besar, di tempat makan kecil waktu parkirnya lama, bukan nitip motor 5 menit doang, di tempat umum yang tukang parkirnya mau menyeberangkan dan membantu si pemarkir. Masalahnya di jogja ini tukang parkir ada di mana-mana, bahkan di angkringan yang ramainya tak seberapa, atau di tempat makan di pinggir jalan, iya di tempat kaki lima yang motornya di taruh di jalan. Kalau di jalan seharunya nggak bayar kan? Karena jalan milik umum, bukan punya si tukang parkir. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, orang yang nggak berhenti lama pun dimintai uang parkir. Maksudnya apa coba? Bahkan beberapa tukang parkir ini sering nggak ngapa-ngapain, mereka cuma ngejogrok aja di sana, pas kita mau keluar nggak ngebantuin nyariin jalan, atau ngeluarin motor. Pokoknyaa nggak oke. Kadang aku bertanya, apa iya pekerjaan mereka ini berkah karena semestinya kita membayar untuk hal yang dia lakukan, tapi dia tidak melakukannya. Parkir di jogja itu bukan parkir, tapi sebagai sewa tempat sejenak untuk naruh motor. Kenapa? Karena bahkan mereka tidak bertanggung jawan pada kehilangan yang kita alami, entah helm atau motor itu sendiri. Pffff. Terus kerja mereka apa? Pasang kertas doang?

Keluhan tentang tukang parkir ini nggak cuma dirasakan olehku saja, tapi juga oleh beberapa teman yang dari luar kota. Mereka membandingkan dengan kota mereka sendiri. Dulu waktu awal-awal aku hijrah ke kota, aku juga kaget (maklum wong ndeso) mungkin itu juga yang dirasakan teman-teman luar jogjaku.

Aku rasa kota jogja harus mulai berbenah, harus ada aturan tegas tentang parkir, mana saja spot-spot yang boleh dimintai biaya parkir dan manaa yang tidak boleh. Atau harus ada SOP tentang tukang parkir, supaya mereka tidak sembarang mendirikan parkiran, dan supaya mereka nggak bekerja dengan asal. Dengan SOP ini mereka harus memperhatikan pelanggan, pelanggan berhak untuk tidak membayar jika layanan mereka tidak memadai.

Well entahlah itu cuma ocehan saya kemarin sore karena aku cuma beli sayur doang di rumah makan padang yang nggak ada 5 menit tapi Pak Parkir memintaiku biaya parkir.


July 16, 2013

Ukuran Sepatu

Hari ini pengen banget cerita tentang ukuran sepatu. Ngahahhaaa. Nggak penting banget kan ya? Tapi pengen curhat tentang ini, karenaaa ukuran sepatuku gedeehh kayak cowoookkk!! Pengen tau ukuran sepatuku? 38 tapi seringnya 39 kadang malah 40. Hwaaa... Memang bikin nggak pede banget, masak kalo sepatu dijejerin ukurannya sama cowok, kan nggak feminim bhangeet. Hiks. Apalagi aku dulu hobi banget pake sepatu sneakers yang mirip punya cowok gitu. Hikshiks makin nggak pede.

Karena dalam idealismeku, cewek itu punya kaki lebih kecil dari cowok. Dan sejak dulu punya mimpi, tangan pasanganku lebih gede dari tanganku, biar tanganku terlihat imut saat di genggamannya. Hwaaa.. Soalnya ukuran tanganku juga gede, mirip ukuran cowok, meski tanganku lentik nggak semaco cowok. Aku pengen terlihat feminim, dengan tangan pengen terlihat imut di genggamannya. Biasanya orang yang kakinya gede tangannya juga gede.

Kembali ke masalah sepatu, tapi ada suatu masa ketika aku ngerasa cewek banget, yakni saat aku penelitian sama cowok-cowok dan akulah satu-satunya cewek di tim itu. Dan Alhamdulilahnya ya Allah, semua lelaki itu punya ukuran sepatu yang gede skitar 40-43. Hoeeehh. Kece banget kan? Dan saat itu aku selalu bahagia saat pulang dari wawancara dan melihat sepatuku berjejer dengan sepatu mereka di depan rumah. Sepatuku tampak mungil di antara sepatu raksasa mereka. Saat itulah aku ngerasa ceweeeeekkkk banget, meski cuma ukuran sepatunya sih, tapi aku bahagiaaaa bangeet.

Dan semoga besok suamiku punya kaki yang lebih gede dari punyaku, punya tangan lebih besar dari tanganku, supaya saya terlihat feminim dan imut. Jomblo selalu punya harapan indah. Semoga. Aamiin ya Allah


June 18, 2013

I miss you


Huwaaa... Lama banget nggak posting blog, bahkan hanya untuk sekedar curhat di blog satu ini sudah nggak penah -____-. Iya hari-hariku sedang disibukkan dengan kegiatan mencari suami keren gilak, yaitu merintis usaha baru, yang adalah BajuMuslimNaziha.com buat yang suka stalking blog ini (emang ada?) mohon follow @MuslimNaziha ya. ^^V

Karena sedang sibuk dengan @MuslimNaziha dan rancangan pengembangannya aku pun jadi lupa dan nggak ada waktu buat sekedar menulis satu curhatan pun. Sebenernya dulu-dulu sempet mau membuat postingan. Tentang traveling saat ke Borobudur untuk menyaksikan perayaan waisak, atau tips menuju ke Borobudur saat Waisak, atau tentang Komersialilasi Agama, atau tentang Suami Sebagai Segala Jawaban. Tapi karena sedang sibuk dengan Baju @MuslimNaziha semuanya nggak sempat. Hoahhoah (T.T)

Yasudah deh, demikian curhat saya kali ini, nggak penting sih, yang pengting sempat menyambangi Something Me. Miss this blog so much :*

(ini dia salah satu produk Baju @MuslimNasiha. Murah kok yang itu harga 50rb, buat teman 35rb saja deh ^^)