January 13, 2016

#10FavoriteThingsinMyRoom number 10

Hallo syantiiikk. Assalamu'alaikum. Alhamdulilah setelah sekian lama nggak posting, akhirnya aku posting blog juga. Tugas kali ini adalah tugas dari Pena Merah yang sempat vacum beberapa bulan (mungkin bahkan setahun lebih, time flies beb, gak berasa banget). Eh pena merahnya yang vacum ya, kalau aku sih vacum juga karena sok sibuk.

Sesuai judul post #10FavoriteThingsinMyRoom kali ini aku mau menceritakan tentang barang-barang favorite di kamarku. Dan akan kumulai dari nomer 10, biar kalian penasaran dengan "what is the most favorite thing in my room" supaya kalian selalu ngikutin postinganku. *yaelah, kayak ada yang baca aja.

Oke! Benda favorite no 10-ku adalah gantungan baju. "Apah?! Gantungan baju?" Pasti pada gitu, dengan gaya ala ala sinetron. Terus terang, sebenernya sih aku bingung kalau harus memilih 10 benda favorite karena yang benar-benar favorite paling cuma 4 atau 5, tapi dari sekian banyak barang sampah di kamarku dan setelah semedi seharian di kamar, akhirnya kutemukan bahwa ternyata sesungguhnya gantungan baju adalah barang ke 10 yang jadi favoriteku.

Tadinya aku mau memilih tempat tidur sebagai benda favorite ke 10. Tapiii jujur aja, aku lebih suka tidurnya dari pada tempat tidurnya dan mungkin tidur adalah kegiatan paling favorite di kamar, tp kan kita sedang membicarakan benda bukan kegiatan. Oke aku bersyukur ada tempat tidur di kamarku, tapi kalau tempat tidur ini diganti dengan tempat tidur lain, aku nggak masalah. Asalkan aku masih bs tidur dengan nyaman. Heheheheh.. *piss

So, gantungan baju menjadi benda kamar favorite ke 10-ku. Bahkan, kalau boleh jujur, dia pernah menjadi benda ke 2 atau ke 3 favorite.

Kenapa bisa gantungan baju ini jadi benda favorite? Karena bentuknya yang nggak biasa. Biasa dipake di toko baju tapi tidak di kamar pribadi.

Kalau mau lihat bentuknya, nih aku kasih lihat.

Jadi bajunya tidak digantung menyamping, tapi ke depan, dan menurutku ini lebih hemat tempat dan muat banyaaakkk. Cocok untuk kamarku yg sudah bejubelan sama barang-barang nggak penting.

Kenapa aku bisa suka sama benda satu ini? Karena gantungan baju ini mengingatkanku pada sebuah kamar yang super rapi, super nyaman, super chick, super cozy dan super kekinian seperti kamar-kamar di apartemen. Iya, memang impianku itu memiliki kamar seperti itu. Psssttt kalau mau tau rumah impianku, bisa intip di sini. Pasti mupeng juga.

Dengan memiliki gantungan baju ini, at least saya sudah menyicil satu benda yang kelak juga akan berada di kamar impianku yang super rapi, super nyaman, super chick, super cozy dan super kekinian. Nah itu dia benda favorite ke 10ku dan alasannya.

So apa benda favorite no 10 yang ada di kamarmu?

August 5, 2015

Menuju 6 bulan resign


Hai hai hai, apa kabra? Nggak terasa banget ternyata aku udah resign selama 5 bulan, dan akan 6 bulan di akhir Agustus ini. Nggak berasa banget deh pokoknya, aku pikir masih 4 bulan aja. Wkwkwkkw. Dan bagaimana kabar @hijabnaziha? Alhamdulilah semakin kece, orderan semakin banyak. Bahkan belum lama ini ada yang mau order dari malaysia. Bikin aku amaze banget, sayangnya belum jadi order. Baru nanya-nanya doang booook. Meskipun belum jadi order teteup bikin aku happy. Dan membuatku makin optimis bahwa, @hijabnaziha (atas izin Allah) akan bertambah besar. Semoga semakin berkah juga. Aamiin aamiin aamiin.

Meskipun aku bahagia dengan @hijabnaziha, tapi terkadang aku masih merindukan hiruk pikuk pada pekerjaanku yang dulu. Pada obrolan dengan teman-teman di jam kerja, nyari makan pas maksi, jalan bareng temen-temen cewek dan ngobrol asyik bareng mereka, pada status kerjaanku, dan masih banyak lagi. Sayangnya, aku sudah cukup pusing dengan tanggung jawab yang harus kupikul. Aku merasa berat dan capek. Meskipun aku sering merindukan mereka, aku tetep masih memilih @hijabnaziha. Hehehehe...

Bagaimana pun, setakberubah apapun teman-temanku di sana, rasanya akan tetap beda ketika aku main ke sana sebagai eks-orang kantor, dengan aku datang sebagai karyawan kantor. Karena tanggung jawab yang berbeda, rasa memikul tanggung jawab yang beda, rasa memiliki kantor yang tak lagi sama. Oooh, then I miss you so much you my family.


July 27, 2015

STRESS BERAT


Fix! Aku setres berat. Setelah 4 bulan resign dari kerjaan, baru kerasa deh nggak punya uangnya. Saya totally poor. Tapi bukan karena itu aku setress berat, tapi karena yang lain. Ya, apalagi sih kalau bukan 'belum bertemu jodoh'? Tapi kondisi nggak punya uang bikin aku tambah setress. Pasalnya aku terbiasa boros dan mau enak sendiri kalo sedang setress, jadi kalau nggak punya uang kayak gini, rasanya pengen nyokot sendaalll... -____-

"Ya Allah, aku mohon, kasih hamba uang yang banyaaakkkk biar hamba nggak tambah setress. Beri hamba jodoh yang ganteng, soleh, mapan juga, biar kalau lagi nggak ada duit bisa mintak suamik." Hahahaha....

Oke itu doa bercanda tapi pengen segera dikabulkan, kalau ini doa serius nan bijak.

"Ya Allah, maafkan hamba yang belum bersyukur padahal Engkau telah memberi banyak nikmat kepadaku. Apalah artinya 'belum bertemu jodoh' apalah artinya 'belum ada uang' dibandingkan dengan kesehatanku, dibandingkan dengan kesehatan ibukku dan saudara-saudaraku. Dibandingkan dengan limpahan kasih sayang keluargaku. Toh aku masih bisa makan, aku masih bisa jalan-jalan, aku masih memiliki sahabat yang benar-benar peduli padaku. Ya Allah maafkan hambaMu ini yang masih tidak bersyukur padaMu. Selalu ingatkan aku pada banyaknya nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Aamiin. Ya Allah, tapi hamba serius ingin segera bertemu dengan jodohku dan ingin memiliki uang yang banyak dan berkah. Aamiin, aamiin, aamiin. "

July 22, 2015

JIKA


Jika berteriak, berlari, bersembungi bisa mempermudah semuanya maka akan aku lakukan. Jika menangis, marah dan bertindak tak bertanggung jawab bisa melegakan, pasti akan kulakukan. Jika membenci dan memaki bisa memperbaiki keadaan, pasti akan kulakukan.

Sayangnya aku tak bisa berlari.
Sayangnya aku tak bisa sembungi.
Sayangnya aku tak bisa berteriak.
Sayangnya semua itu percuma

Sayangnya menangis tak menyelesaikan masalah.
Marah tak melegakan perasaan.
Bertindak tak bertanggungjawab hanya menambah masalah.

Lalu haruskah aku membenci dan memaki?
Dan aku sungguh berharap itu hal yang dibenarkan.
Sayangnya semua itu bodoh dan membuatku semakin merasa bersalah.

Mungkin aku memang busuk, mungkin aku memang brengsek, mungkin aku hanya manusia yang berlumur dosa, mungkin aku manusia sombong. Karena di sana ada Allah yang selalu siap sedia mendengarkan curhatku, sayangnya aku selalu mengesampingkanNya.

Andai semua lebih mudah kujalani.


Kulonprogo. In my bedroom, 21 July 2015

February 27, 2015

Malam Hari H

Besok adalah hari terakhir aku ngantor ke Leutika. Sangat khawatir kalau aku menangis. Mau ditaruh di mana gengsiku yang setinggi langit ini? Wkwkwkwkw... Yang lebih menyebalkannya lagi, si Nita niat banget ingin membuatku menangis. Bahkan sudah berlangsung sejak beberapa hari yang lalu. Entah apa modusnya, tapi sepertinya dia akan bahagia sekali jikalau aku menangis tersedu sedan di hari terakhir aku di Leutika.

Semoga dalam hal ini Allah membantuku. Aamiin. 

Love
Perempuan cantik ;)

February 18, 2015

#30HariMenulisSuratCinta day 18: Apa kabar Galau?

Dear Galau

Ini adalah 10 hari menuju hari H, dan masih saja kamu datang. Padahal semua adalah keputusan bersama. Semua sudah dipikirkan masak-masak, demi masa depan yang lebih baik. Demi mengusir dirimu yang hadir harian karena pekerjaan yang mulai membosankan. Lalu  kenapa kamu masih sering datang? dengan lebih intensif. Aku tidak tahu lagi bagaimana lagi aku harus mengusirmu?

Hay galau,
Kapan kamu tidak akan datang lagi? Kapan kamu malas mengujungiku?
Beritahu aku caranya, supaya aku bisa melakukan sesuatu.


Sincerely
Brain

Gambar diambil dari sini
Sumber gambar http://shoutussalam.com/2013/04/penelitian-galau-dapat-menular-awas-jangan-share-status/ judul [Penelitian] Galau Dapat Menular. Awas! Jangan Share Status Galau. Didonload tangal 18 Februari 2015, pukul 15.24.

February 17, 2015

Ada Apa dengan Kapan Menikah?

Waktu lagi santai-santai mengurusi fanspage-ku Lusi mengirimiku link yang isinya artikel yang cukup menggelitik. Coba aja cuss ke sini, yang judulnya adalah 'Ibu, Tolong Aku. Lindungilah Aku dari Pertanyaan “Kapan Menikah?"' Bagi orang dewasa pertanyaan ini memang benar-benar mengusik ketenangan. Jika sedang dalam keadaan yang tidak baik, hal ini bisa menusuk ke sanubari dan membuat kita menangis seperti anak kecil yang dibilang jelek,  seperti anak kecil yang diejek namanya, atau anak kecil yang tidak diajak bermain. 

Saat kita masih kecil, batasan yang menyakitkan hati dan tidak, batasan antara jahat dan baik itu sangat jelas, bisa diterima semua orang. Ibu kita, saudara kita, teman kita, ibu teman kita, tahu bahwa mengatakan jelek, mengejek teman, tidak mengajak teman yang lain bermain adalah hal yang menyakitkan hati bagi orang lain. Hal ini  dilarang oleh semua orang, hal yang kita sepakati bersama sebagai sesuatu tidak boleh kita lakukan. Tidak boleh kita lakukan karena itu membuat orang lain merasa tidak nyaman, merasa direndahkan.
Gambar diambil dari sini

Sayangnya ketika kita dewasa, batasan-batasan ini menjadi kabur. Batasan mana kata-kata yang bisa manyakiti hati orang lain, yang bisa merendahkan keberadaan orang lain menjadi tidak jelas. Entah tidak jelas, entah kita yang tidak bejalar untuk mengetahuinya. Bahkan dalam norma-norma yang berlaku dalam masyarakat kita, kita tidak diajari bahwa menanyakan “kapan nikah?” pada orang lain yang belum tahu kapan dia akan menikah adalah hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Iya, tidak patut karena ini bisa menyakiti orang yang kita tanya. Menanyakan “kapan lulus?” “kapan punya anak?” adalah pertanyaan basa-basi yang sesungguhnya sangat tidak perlu untuk ditanyakan. Bahkan kita tidak pernah dimarahi oleh orang tua kita, karena menanyakan hal itu pada orang lain. Kakak kita juga tidak pernah menegur kita, ketika kita melakukannya. 

Rasa sakit yang dirasakan oleh orang-orang yang ditanya "kapan menikah" pun tidak bisa dipahami oleh semua orang. Bahkan kita tidak bisa mengadu pada orang tua kita, karena telah disakiti dengan cara demikian.


Membaca tulisan itu membuatku sadar, apa yang salah dengan pertanyaan "kapan menikah?" kenapa hal ini bisa sangat menyakitan bagi kebanyakan orang yang belum menikah? Jika hal ini begitu menyakitkan kenapa tidak semua orang memahaminya? Lalu kenapa dalam budaya kita, kita tidak pernah diajari untuk tidak pernah menanyakannya pada orang lain? Lalu benarkan pertanyaan "kapan menikah?" ini hanya menjadi basa-basi bagi orang yang bertanya, tanpa bermaksud untuk menyakiti pihak lain? Apakah tidak ada unsur kesengajaan untuk merendahkan pihak lain?
Gambar diambil dari sini
Sumber gambar:
"Kapan Nikah? atau Sudah Punya Abnak Berapa?" https://mosyaf.wordpress.com/2014/07/29/kapan-nikah-atau-sudah-punya-anak-berapa/ diambil tanggal 17 Februari 2015, jam 15.50
"Kapan Nikah" http://rizqoo.blogspot.com/2013/06/kapan-nikah-eaa.html diambil tanggal 17 Februari 2015 jam 15.52