May 5, 2016

GALAU HABIS NONTON AADC

Sebel banget waktu nonton aadc dan keluar-keluar galau. Belum bisa move on dari film ini, sampai di rumah juga masih kepikiran. Wkwkwkw... Temenku juga sama, jalan di amplaz kayak zombie, salah-salah muluk.
Mencoba mendeteksi sumber kegalauan dengan menulis tulisan ini di sini:
1. Mungkin aku galau karena aku nggak seunik rangga, yang bisa menemukan tempat seasyik punthuk setumbu atau apa itu untuk melihat sun rise di daerah magelang. Kl gak salah pernah diajakin ke sana sama fatkur sih, tp dia keburu nikah dan hamil. Walhasil gagal deh. Padahal ini di daerah jogja, dan aku nggak tau sama sekali. Sssttt dr dulu pengen banget bisa menemukan tempat asyik yang bener-bener asyik tapi cuma aku dan beberapa temen yang tahu. Nggak terkenal-terkenal banget gitu deh. Intinya saya gagal menjadi manusia what I wanna be yang unik. Hahahaha...
2. Aku galau karena menginjak tua dan belum menjadi apa yang aku inginkan (atau mungkin belum bisa bangga sama diri sendiri). Waktu muda ini sering terjadi, galau karena belum menjadi manusia ideal versi saya. But hey, waktu itu aku masih punya waktu untuk mewujudkannya. Kalau sekarang? Masih banyak waktu gak sih? Keburu momong anak gak sih? (Haissshhh suamik aja blm ada) Cinta aja udah punya galeri, rangga udah jadi columnis dan punya cafe. Aku? Alhamdulilah udah punya usaha sendiri sih, tapi belum nikah. Wkwkwkwk... *ke sini lagi* Intinya sih, film ini mengingatkanku bahwa tak lagi muda tapi aku kayak belum bisa ngebedain aku yang sekarang dan aku yang dulu. Belum ada yang berubah, rasanya masih gini-gini aja.
3. Ngaku cinta mati sama jogja tapi banyak tempat-tempat khas jogja yang nggak tau. Terutama sate klathak sama papermoon craft yang sama sekali belum pernah ke sana.Duh mbak kamu kemana aja sih di jogja ini? Kalau ada tamu agung dr luar jogja mau di ajak ke mana cobak? Banyak sih tempat nongkrong asyik yang dishoot di jogja, tp dua tempat ini yg bikin galau. Kalau tempat nongkrong semacam kopi sih, banyak di jogja, dan nggak demen juga sama kopi jadi belum pernah ke sana ya nggak papa. 
4. Kayaknya sih intinya dua yang atas aja, yang sebenernya hampir sama. Yang no 3 juga lumayan bikin galau tp nggak banget-banget. Dan yang keempat ini. Belum bisa jalan-jalan liburan bebas finansial kayak cinta dan teman-temannya itu kayaknya juga bikin galau. Walau dikiiitt. Oke baiklaaahhhh... Besok semangat buat ningkatin omset dan labaa. Biar bisa ke bali nengokin kakak cinta, eh dika. Akakakaka....

Ditulis 4 Mei 16, baru dipost hari ini 

March 24, 2016

NGGAK HABIS PIKIR

Terus terang aku masih nggak habis pikir sama orang yang menganggap aku nggak memikirkan menikah. Dulu waktu aku masih kerja, dikiranya aku terlalu enjoy dengan pekerjaanku, terlalu nyaman sehingga nggak memikirkan menikah. Orang gila yang berpikiran seperti itu pasti nggak pernah membaca blogku. Kalau pernah, dia pasti muak dengan pikiran-pikiran nelangsaku tentang pernikahan yang tak kunjung datang. *hoeek*
Mungkin sebenarnya, yang mereka butuhkan(?) adalah, menjadi teman yang baik bagi kami. Menjadi orang yang bisa kami percaya, sehingga mereka bisa dan akan mendengar, betapa bingungnya kami, betapa tak tau harus berbuat apalagi kami, betapa sedih, setress, jengkel dan bahkan kadang putus asa. Mereka tak pernah mendengarkan keluh kesah kami, karena kami tidak ingin membuat mereka tidak nyaman dengan semua itu. Dan lagi kesedihan dan kebingungan kami itu bukan konsumsi publik.
Meskipun kami bingung, kami sedih, kami setress, jengkel dan putus asa, apakah semua itu harus diperlihatkan di depan banyak orang, termasuk orang-orang yang baru sekali dua kali ditemui atau ke teman-teman lama yang hanya datang sekali dalam setahun? Jika menurut mereka memang harus seperti itu, lalu aku paham kenapa cobaan ini datang pada kami bukan pada mereka.
Sincerely
Orang setress level 97
Akhir-akhir ini ketika aku sudah resign dari pekerjaanku, aku nggak tau apa yang dipikirkan orang tentangku. Karena nggak ada lagi yang mengatakan frontal di depanku. Bisa jadi aku dianggap perawan tua yang gagal dalam percintaan dan pekerjaan. Hahahaa... At least aku bahagia dengan pekerjaan baruku. Mereka? Kasian deh, bisanya cuma ngomentari hidup orang lain, nggak bs menikmati hidup sendiri.
Dan kemarin ketika aku main ke rumah temenku, hal yang sama terjadi padanya. Dia cerita kalau ada salah satu temannya kembali menghubunginya setelah agak lama, dan temannya ini menganggap temanku terlalu nyaman dengan pekerjaannya, terlalu memikirkan karier sehingga tidak memikirkan menikah. Dan kami hanya bisa bilang "MEMIKIRKAN KARIER GUNDULMU!".
Sebagai PNS, temanku ini merasa nggak ada karier yang perlu dikejar, dan nggak ada yang perlu diambisiusi sampai nggak memikirkan menikah hanya demi pekerjaan. Dulu waktu aku masih jadi pekerja pun, aku juga nggak memikirkan pekerjaan sedemikian rupa sampai nggak kepikiran nikah. Nggak ambisius harus menduduki suatu jabatan tertentu. Kalau sampai aku menduduki jabatan yang lumayan bisa dibanggakan itu bukan karena aku mengejarnya, tapi karena kebetulan aja aku dikasih kesempatan itu.
Tapi herannya kenapa orang-orang berpikir kami belum menikah karena terlalu memikirkan karier, terlalu ambisius sama pekerjaan? Dari mana sumber pikiran mereka itu? Apa karena kami terlihat bahagia? Apa karena mereka tidak pernah melihat mata kami sembab? Apa karena status-status kami di sosial media yang tampak bahagia, cerah dan penuh cinta?

March 23, 2016

Apa yang Ada di Otakmu?

Apa yang ada di otakmu? Ketika berpikir aku tidak memikirkan menikah? Apa kau anggap aku bukan manusia normal? Bagaimana bisa ada manusia tidak menginginkan menikah "tepat pada waktunya"? Mungkin memang ada, tapi butuh kamu tau, itu bukan aku!
Bukankah suaramu itu berisik? Bukankah orang-orang semacammu sering mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang bahkan aku sendiri tidak tau jawabannya. Dan kalau bisa memilih, aku memilih menikah 'tepat waktu' dibanding harus mendapatkan pertanyaan-pertanyaan konyol darimu.
Ngomong-ngomong, kenapa tak kau tanyakan saja ke Allah, kapan aku menikah? Kenapa harus tanya padaku? Kau tau kan? Bahwa jodoh rejeki dan mati itu takdir Ilahi? Lalu kenapa kau masih saja bertanya kapan aku menikah? Bolehkah aku bertanya padamu kapan kamu menghadap padaNya? Bukankah itu kasar? Bukankah itu tak sopan? Bukankah itu sesuatu yang tidak kau ketahui jawabannya?
Apa? Kamu bilang pertanyaanmu hanya basa basi? Bagaimana jika pertanyaan basa-basinya kita ganti saja? Jika kamu tidak ingin mendengar pertanyaan pengganti basa-basi, sebaiknya kamu hentikan saja pertanyaan bodohmu itu, dan berhenti berpikir tentang apa yang aku pikirkan, apa yang aku rasakan, apa yang aku inginkan dan tidak inginkan.
Tidakkah kamu capek mengurusi hidupku? Pasti hidupmu sangat selo sampai punya banyak waktu untuk mengurusi hidupku. Atau kamu tidak punya hidup yang asyik sehingga harus mengusik hidup orang lain.
Me
Yang setress karenamu

March 14, 2016

Makasih Sudah Mau jadi Temanku

Suatu ketika temanku pernah mengatakan hal ini padaku
"makasih sudah mau jadi temanku, budhe".
"Kenapa sih budhe masih mau jadi temanku? Kita kan beda"
Maklum waktu itu dia sedang galau, karena merasa tertolak karena keberbedaanya. Iya, kami memang memiliki keyakinan yang berbeda, tapi kami cukup akrab.
Namun kali ini aku yang ingin bilang makasih sudah menjadi temanku. Makasih sudah menampungku kala aku butuh tumpangan tidur. Makasih sudah mendengarkan keluh kesahku. Makasih sudah menjadi tempat sampahku. Makasih buat semuanya.
Segera selesaikan S3nya, lalu kita main-main lagi. Lalu aku akan sering numpang tidur di kosmu lagi. Hehehehe....

March 12, 2016

Hey You!!

Hey You!!
Kapan engkau akan berhenti mengasihani dirimu sendiri? Kapan engkau akan berhenti menyalahkan orang lain? Kapan engkau akan bersikap dewasa?
Kau pikir ini salah mereka? Kau pikir mereka tak memahami perasaanmu? Atau sebenarnya engkau tahu, kalau mereka juga memikirkanmu, kalau sebenarnya ini bukan salah mereka, kalau semua ini bukan salah mereka. Lalu kenapa engkau masih menyalahkan mereka? Lalu kenapa engkau masih marah pada mereka?
Tak tahukah engkau bahwa semua ini sudah kehendakNya? Semua ini sudah diatur olehNya. Engkau sangat tau tak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa ijin dariNya. Jangan salahkan mereka lagi. Bersikaplah lebih dewasa. Perbanyak doa padanya.
Sincerely
Yourself
Ditulis tanggal 11 Maret 11.15 malam, dipost hari ini

March 11, 2016

MENCINTAI DIRI SENDIRI

Versi saya:
Sungguh aku tidak tau arti menyayangi diri sendiri. Dalam pemahamanku selama ini, menyayangi diri sendiri itu, menganggap diri cantik dan menarik. Mirip-mirip ke narsis. Mungkin karena selama ini aku selalu menyukai orang yang enak dilihat. Selalu jatuh hati dengan mereka yang memiliki penampilan menarik.
Dan dalam hal ini, aku selalu gagal mencintai diri sendiri. Aku selalu tidak percaya diri dengan penampilanku, aku selalu merasa tidak cantik dan tidak pantas dicintai. Bahkan ketika aku jatuh cinta sama orang dan merasa dia pun suka padaku (meskipun ternyata enggak. Wkwkwk), selalu ada setan yang berbisik padaku "mana mungkin dia suka sama kamu yang punya tampang seperti itu?" Pathetic right? (Damn! Aku curhat maksimal di sini. Aku ungkap semua pikiran-pikiran yang hanya pernah kuceritakan pada sahabat-sahabat terbaikku).
Meskipun saat ini aku menganggap belum bertemunya aku dengan jodohku adalah karena jauhnya aku dari sifat terbaik diriku dan masih berlumurnya dosaku, tapi ada saat di mana aku berpikir bahwa belum bertemunya aku dengan jodohku adalah karena penampilanku yang kurang menarik. Dan pikiranku membenarkan semua ini. Pokoknya dalam hal satu ini, aku gagal mencintai diri sendiri.
Versi temanku:
Temenku bilang menyayangi diri sendiri adalah tidak membiarkan orang lain menyakiti diri kita. Ibarat kita punya teman, punya saudara, punya ponakan, kita pasti tidak rela kalau dia disakiti. Kita akan menjaganya supaya dia tidak disakiti, kalau sudah terlanjur tersakiti, kita pasti akan membelanya, melindunginya atau balik menyerang yang menyakitinya.
Dan dalam hal ini, aku memerankan dengan baik peran cinta pada diri sendiri, bahkan terlalu baik. Tapi sayangnya temanku tidak. Ketika ada temannya atau ada orang yang menyakitinya kadang dia hanya diam, bahkan ketika aku bilang "bela dirimu sendiri" dia bingung harus bagaimana. Dan alhamdulilahnya aku nggak pernah bingung gimana harus membela diriku sendiri, bagaimana harus bersikap sama oran g-orang yang menyakiti perasaanku. Aku tahu benar bagaimana harus menjaga hatiku, bagaimana harus menjaga supaya aku tidak tersakiti dan bagaimana bersikap sama orang-orang yang telah menyakitiku. Aku tahu benar. (Well, setelah mengetahui ada orang yang tidak bisa melakukannya, kurasa kemampuan ini harus disyukuri)
Tapi malam ini aku jadi berpikir, jangan-jangan karena aku terlalu mencintai diri sendiri (versi temenku), karena tak rela disakiti oleh orang lain, aku jadi mengekang diriku sendiri. Aku terlalu takut tersakiti, sehingga memberi banyak batasan, termasuk dalam urusan cinta. Aku terlalu takut terluka, sehingga takut untuk berjuang sepenuh-penuhnya untuk cinta.
Kalau menurut dewi lestari dalam kumcernya yang berjudul madre, di cerita layang-layang, aku ini semacam christhoper yang ingin bermain air tapi hanya melihat orang bermain air di pinggir kolam hanya berharap akan terkena cipratan air.
Kamu yang tahu arti mencintai diri sendiri and how to love your self? please tell me. Coz I don't know how. Mungkin dengan kau beritahu aku bisa mempraktekkannya dan bisa mencintai diriku sendiri dan semoga bisa menjadi jalanku untuk segera bertemu dengan jodohku. Aamiin.
Me
@fatkah
Ditulis tanggal 10 Maret tengah malam, dipost hari ini.

March 9, 2016

#10FavoriteThingsinMyRoom Number Six

Benda ini kubeli november 2010 kalau nggak salah, jadi dia sudah berumur kira-kira 5 tahun lebih sedikit. Aku membelinya dengan uang hasil survey, waktu aku jadi enumerator. Jadi laptop ini kubeli dari hasil keringat sendiri. Bahagiaaaaa banget waktu akhirnya memilikinya. Walaupun cuma bisa membeli laptop yang termurah waktu itu, dan hanya merk lokal, tapi waktu itu aku sudah sungguh sangat puas memilikinya. Setelah sekian lama menginginkannya, dan menabung dari hasil survey yang kadang ada kadang enggak akhirnya bisa kebeli juga laptop dengan hasil jerih payah sendiri.
Akhirnya, aku bisa nonton film di kamarku sendiri. Wkwkwkkw.. #plak, alasannya nggak penting banget. Tapi serius aku jadi mengingat pertama kali aku memilikinya. Rasanya bahagia banget.
Waktu itu aku membelinya memang salah satu alasannya karena biar bebas nonton film sendiri, selain itu waktu itu juga masih memiliki cita-cita untuk menjadi penulis terkenal, jadi ya laptop wajib banget kan dimikili?
Aaahhh, mengingat pertama kali memilikinya, aku jadi jatuh cinta lagi padanya. Padahal aku hampir-hampir sudah tak pernah menghargainya, selalu membiarkannya teronggok lesu di lemari daganganku. Duh maafkan aku Zirexku. Now I falling in love with you in second time :D
*foto nyusul