November 15, 2023

Pemelihara Fans

Aku pernah menyukai lelaki macam ini, yang nggak mencintaiku tapi nggak mau kehilangan aku sebagai pemujanya. Dari semua jenis lelaki brengsek ini salah satu yang menyebalkan. Tidak dengan tegas menyatakan "aku tidak menyukaimu balik" justru memberikan sinyal "aku ngga mau kamu pergi" ketika mengetahui aku sudah mulai menjauh. Pengen rasanya mengumpat sama lelaki macam ini. Dan sepertinya dia tidak hanya melakukan ini padaku tapi pada orang lain juga.


Malangnya justru lelaki macam ini yang bikin susah move on. Dan nggak tau kenapa semalam aku memikirkan manusia ini. Kalau sekarang aku sudah bisa mendoakannya dengan tulus semoga dia dalam keadaan sehat dan bahagia bersama istri dan anaknya. Tapi ada di masa ketika aku sangat membenci lelaki itu. Ya, dia memang pernah menorehkan rasa sakit, tapi sekarang jika aku harus mendengar kabarnya, aku berharap itu kabar baik, bukan sebaliknya. Kalau bertemu dengannya lagi pun, aku sudah bisa tersenyum dengan ikhlas tanpa rasa dendam.


Sebenarnya aku nggak pernah bilang kalau aku menyukainya, tapi kurasa dia mengetahui perasaanku. Mungkin perasaanku terlalu kentara waktu itu, bahkan perempuan yang dekat dengannya (sekarang istrinya, waktu itu dia masih PDKT) pun mengetahui perasaanku. Jenis lelaki ini, semoga kelak anakku pun dijauhkan dengan jenis ini. 


Kok aku bisa tahu kalau dia pemelihara fans? Karena setiap kali aku menjauh dia berusaha mendekat. Ketika sudah lumayan dekat dia bersikap cuek, tidak mau lebih dekat lagi. Begitu polanya. Dan yang membuatku semakin sadar, suatu ketika dia sudah pacaran dengan perempuan yang tadi kusebutkan di atas, tapi ketika ada di dekatku dia tidak mengakui hubungan mereka dia bilang "enggak kok mbak, kami cuma temen". Mengingat ini kok rasanya masih sebel dan pengen memukul kepalanya. Tapi untungnya waktu itu aku sudah memutuskan berhenti berharap padanya. Jadi apapun yang dia katakan aku sudah tidak berniat untuk menaruh perasaanku padanya lagi. 



November 10, 2023

Ekspressi Perasaan yang "Umum"

Sekitar seminggu atau dua minggu setelah bapakku meninggal aku mengajak ibukku pergi ke pantai. Aku pergi ke pantai karena ingat bapakku pengen ke pantai beberapa saat sebelum beliau meninggal. Sekembalinya dari sana, tetanggaku yang juga masih keluarga jauh kayak kaget karena tau aku baru saja dari pantai. Dia nggak mengatakannya, tapi dari raut mukanya keliatan marah banget dan kayak mengataan aku anak kurang ajar yang sudah pergi ke pantai bahkan hanya berjarak dua minggu (atau seminggu ya?) dari bapakku meninggal.


Belum lama ini adekku melahirkan anak kedua. Karena sudah memiliki rumah sendiri dia hanya tinggal dengan suami dan juga anak-anaknya. Waktu malam aku mau pulang, ada saudara dari iparku yang bertanya "tidak menginap di sini? kalau saudaraku melahirkan biasanya aku menginap lho" semacam klaim bahwa seharusnya saudara perempuan menginap dan menemani saudara perempuannya yang baru saja melahirkan. Hal yang sama juga dikatakan oleh tetanggaku (yang tadi kusebutkan di paragraf pertama). 


Menurutku rasa sedih dan rasa bahagia itu bersifat personal, cara mengekspresikannya pun personal. Orang bisa saja menangis meraung-raung ketika ditinggal anggota keluarganya, namun ada juga yang nggak menangis atau hanya tersedu, namun perasaan yang dia rasakan tetaplah sedih. Begitu juga dengan rasa bahagia. Tertawa belum tentu bahagia, bermuka datar juga bisa saja bahagia. Kenapa kita harus mengekspresikan dengan cara yang sama terhadap perasaan yang kita rasakan? Kurasa kita punya cara sendiri untuk mengekspresikan perasaan kita.


Pergi ke pantai beberapa hari setelah ditinggal anggota keluarga bukan berarti nggak bersedih, bukan berarti nggak sengsara. Kehilangan yang kurasakan saat ditinggal bapak berlangsung cukup lama. Aku butuh waktu untuk bilang sudah terbiasa. 


Begitu juga rasa bahagiaku dan peduliku terhadap aggota keluarga baru tidak harus sama dengan cara orang-orang mengekspresikan rasa bahagia mereka menarima anggota baru. 


Meskipun aku menuliskan ini, namuan ada rasa nggak nyaman ketika ada penilaian dari orang lain terhadap sikapku/ekspresi perasaanku. Seolah-olah mereka mengatakan aku nggak pantas, aku nggak baik, aku nggak cukup bagus, aku nggak cukup peduli terhadap anggota keluargaku. Tapi berusaha bersikap masa bodoh. Luweh!



November 9, 2023

Menjadi Normal

Aku pernah mempertanyakan kenormalanku di sini karena ngga pernah ke luar rumah. Setelah kupikir-pikir, kayaknya ini salah satu penyebab aku setress. Karena itu aku membuat semacam rencana untuk seenggaknya sehari sekali ke luar rumah. Atau kalau sedang males banget dua atau tiga hari sekali. 


Sebenarnya dulu aku punya kebiasaan sholat jama'ah di masjid, tapi sejak covid aku belum rutin ke masjid lagi. Jadi dulu aku lumayan banyak berinteraksi dengan orang, namun sekarang aku hanya berinteraksi dengan orang rumah. Beberapa hari terakhir aku merasa inilah yang membuatku gampang setress. Semakin nggak menyukai ketemu orang-orang dan canggung ketika bertemu orang.


Tapi mungkin teoriku salah, karena saat aku rajin ke masjid pun ternyata aku mengalami masalah dengan kepercayaan diri. Nggak taulah, tapi aku merasa banyak berinteraksi dengan orang itu lebih baik daripada menghabiskan waktu seharian di rumah



November 8, 2023

Aku Mencintai Masa Bahagiaku dan Masa Sedihku

Judul di sini hanya berlaku ketika aku sedang bahagia. Ketika aku sedang terpuruk, beneran deh aku nggak bakalan mengatakan atau menulis ini. Hahahaha... 


Soalnya kalau sedang terpuruk, rasanya nggak mungkin banget untuk berpikir yang lain selain merasakan rasa sedih dan perasaan yang menusuk di hati. Hanya mencari jalan keluar supaya bisa terlepas dari perasaan itu. Supaya nggak jatuh makin dalam. 


Namun ketika bahagia, aku bisa memikirkan tentang masa lalu yang menyedihkan, lalu bersyukur tentang rasa bahagia yang kini dirasakan. Dan juga membuat kebahagiaan yang kualami saat ini lebih bermakna dan berarti.

Kamu gitu juga nggak sih?



Tapi setelah menulis ini rasanya aku lebih optimis bahwa masa terpurukku pun akan berakhir. Bahwa semua ini hanya sementara, dan kebahagiaan itu akan segera datang.

November 7, 2023

Fix Mindset yang Bikin Galau

Akhir-akhir ini aku sedang kecanduan baca webtoon, padahal kecanduanku sama drakor sudah mulai berkurang eehhh ini datang penyakit baru. Tapi nggak papalah, insya Allah aku bisa mengontrolnya. Sama kayak nonton drakor selain menghibur baca webtoon juga sering bikin galau, meskipun ceritanya happy ending.


Aku pernah cerita di sini tentang kegalauanku ini, tapi saat itu aku belum bisa memahami dengan benar sebenarnya apa yang membuatku galau. Setelah membaca buku Mindset (karya carol s. Dweck ph.d.) aku baru tau kenapa cerita-cerita itu bikin galau, yaitu karena itu adalah cerita tentang takdir yang tidak bisa diubah (fix mindset). Kalau webtoon atau dramanya bercerita tentang takdir yang bisa diubah nggak begitu bikin galau.


Webtoon yang membuatku sadar akan hal ini adalah webtoon "The Summer of Us".  Bercerita tentang pertemuan kembali dua sahabat setelah terpisah selama 9 tahun. Seperti aku bilang ini adalah cerita tentang "takdir yang tidak bisa diubah" tetang seorang laki-laki yang bucin setengah mati sama teman perempuannya yang sangat cantik. Aku bahagia karena mereka berakhir dengan happy, namun juga dibuat galau karena ada semacam pesan tersirat bahwa "dicintai setengah mati oleh seorang laki-laki hanya terjadi pada perempuan yang sangat cantik". 


Setelah membaca buku Mindset aku sadar bahwa ingin dicintai dengan bucin oleh seseorang adalah pola pikir fix mindset. Sebenarnya perasaan cinta itu bisa ditumbuhkan. Dan untuk mempertahankannya dan membuatnya menjadi langgeng dibutuhkan dua orang untuk BERUSAHA menjaganya. Dicintai itu bisa terjadi sama siapa saja dan untuk dicintai dengan sangat itu juga butuh usaha, tidak hanya diam dan cinta akan datang dengan sendirinya seperti yang ada di novel, drama atau webtoon


Masalahnya adalah di webtoon atau drama jarang diperlihatkan "perjuangan" mendapatkan cinta itu. Cinta seperti "takdir" yang jatuh dari langit untuk tokoh perempuannya. Seolah-olah tersirat bahwa kita nggak bisa berbuat banyak akan "takdir" tersebut (lagi-lagi fix mindset). Di dunia nyata, kebanyakan kita harus berjuang mendapatkan cinta itu. Dan ini nggak papa dan tetap membuat kita bahagia. 


Nah dalam hal ini aku sebenarnya lebih suka drama hollywood karena romansanya lebih realistis. Pesan yang tersirat dalam serial hollywood itu "dicintai dan mencitai adalah perjuangan dua belah pihak" bukan takdir yang tiba-tiba muncul tanpa kita melakukan apa-apa hanya karena kita cantik menawan mempesona.

November 6, 2023

Bertepuk Sebelah Teman

Dulu aku pernah nulis di sini kalau orang yang kita anggap teman dekat belum tentu menganggap kita teman dekatnya. Begitu juga sebaliknya, ada yang orang yang kita anggap teman biasa ternyata mengganggap kita teman dekatnya.

Baru-baru ini aku menyadari satu hal lagi. Nggak semua orang yang pengen kita jadikan teman dekat itu pengen menjadikan kita teman dekat. Mereka atau dia hanya pengen menjaga hubungan tetap menjadi teman yang sekedar kenal, bahkan ketika kita "berjasa" buat dia. Tapi nggak papa kok, itu bukan berarti kamu kurang baik atau nggak asyik, hanya memang nggak "berjodoh" saja. Karena berteman dekat itu juga butuh persetujuan dua hati. 

Nggak perlu berkecil hati. Kita nggak kekurangan apapun, hanya saja "nggak berjodoh" menjadi teman baik. Di luar sana pasti ada banyak orang yang tetep pengen menjadi teman baik kita, yang pengen menjaga hubungan bahkan lebih baik lagi. Penuhi dengan orang-orang seperti itu supaya kita tetap merasa dicintai banyak orang. Tentu saja selalu perbaiki diri, yang terakhir sih nasihat buat diriku sendiri


September 1, 2023

Rasa Penasaranku

Gimana sih caranya carik suamik? Kok kayaknya rang-orang gampil aja dapetnya. Orang yang kayaknya nggak pernah pacaran tiba-tiba tunangan aja. Orang yang kayaknya pendiem banget, tiba-tiba sudah dapet lamaran. Kayak gampang aja gitu (sebagai orang yang hanya melihat)


Mungkin aku kurang doa dan usaha aja kali ya? Dan masih kebanyakan dosa 😂