March 25, 2017

Galau Meski Drama Korea-nya Happy Ending

Dulu aku sangat menikmati nonton film, terutama film barat, karena dulu drama Korea belum se-booming sekarang, dan juga akses nonton drama korea tidak semudah saat ini. Dulu itu maksudnya sekitar 7-12 tahun yang lalu (OMG aku terus berasa tuaaa banget). Tapi akhir-akhir ini nonton film justru membuatku semakin galau sama hidup, bahkan ketika film atau drama itu happy ending. Dan melalui tulisan ini aku berusaha untuk memahami diriku sendiri kenapa hal ini bisa terjadi.

Sebenernya mulai agak sadar dengan perubahan ini sejak nonton film AADC, dan bahkan aku menuliskan pengalaman nonton tersebut di sini (baca aja kalau nggak males). Tapi akhir-akhir ini kegalauannya semakin menjadi-jadi saat nonton film, terutama drama korea. Berusaha jujur sama diri sendiri dan kemungkinan ini alasan kenapa saya selalu galau ketika film sudah berakhir:

1. Aku jadi membandingkan hidupku dengan hidup si tokoh dalam drama korea.
Hidup si tokoh dalam drama korea kadang memang menyedihkan, tapi selalu berubah menjadi sangat menakjubkan sejak film/drama dimulai. Karena terakhir kali aku nonton Goblin maka film ini saja yang aku jadikan contoh ya. Misalnya saja si Ji Eun Tak, di sini dia diceritakan sebagai gadis yang malang, karena ditinggal mati oleh ibuknya bahkan ketika dia masih berumur 9 tahun, kemudian dia harus hidup dengan bibi dan sepupu-sepupunya yang jahat dan menyebalkan. Dia juga memiliki kemampuan melihat hantu, yang kalau dalam kehidupan nyata pasti ini sangat mengerikan. Coba saja bayangkan kamu bisa melihat hantu setiap harinya.

Tapi di samping semua hal yang menyebalkan itu, setiap tokoh dalam drama korea selalu memiliki hidup yang luar biasa (menyenangkan) juga. Misalnya, Ji Eun Tak bisa memanggil Goblin hanya dengan meniup api. Dan si pangeran tampan dari dunia sebrang akan datang menolongmu apapun masalahnya. Meskipun mempunyai hidup yang miskin dan menyedihkan Ji Eun Tak ini gadis yang pandai, memiliki part time job, dan bisa selalu berada di tempat-tempat yang menyenangkan, ke Kanada misalnya (bahkan tanpa perlu passport), lalu pindah numpang hidup di rumah Goblin yang rumahnya super keren dan menyenangkan. Bahkan ketika si Goblin sudah tidak berada di kehidupannya Ji Eun Tak bisa mengejar cita-citanya dan memiliki pekerjaan yang membanggakan, yang kemungkinan adalah passion dia dan bahkan bisa hidup berkecukupan setelah dewasa.


Melihat semua ini (mungkin kamu tidak) tapi aku merasa galau dan merasa tak berguna. Terumata di bagian belum bisa sukses dan bahkan belum ketemu dengan passionku. Sungguh ini sangat menyiksa.

Oiya, satu lagi yang bikin iri dalam setiap drama korea adalah, Si tokoh perempuan selalu dicintai oleh seorang (kadang dua orang) laki-laki sedemikian rupa hingga sampai tergila-gila banget dan rela melakukan apa saja. Yang kalau dilihat-lihat seringnya lebih besar cinta si lelakinya dibandingkan si tokoh peremuan. Dan yang mencintai itu bukan sembarang orang tapi lelaki yang tampan, kaya, baik hati, tidak sombong, dermawan, suka menolong (yang kayaknya gak bakalan ada di dunia nyata).


Kalau dalam dunia nyata (atau dalam kehidupanku wes) seringnya si perempuan yang tergila-gila sama si laki-lakinya. Meskipun ada sih dalam kehidupan nyata yang si laki-laki lebih besar cintanya di banding si perempuan (contohnya pada temen-temenku yang memiliki keberuntungan yang besar) tapi aku melihatnya sangat jarang. Nggak harus secinta lelaki di drama korea (karena kalau harus sama aku yakin enggak ada) sama kekasihnya ya, cukup melihatnya saja kadang kelihatan siapa yang mau berkorban lebih banyak.

2. Aku sudah kehabisan waktu
Seingatku dari dulu aku selalu galau setiap habis nonton drama korea, tapi enggak segalau sekarang dan tidak seberlarut-larut seperti sekarang. Aku sih sadar dari dulu hidupku biasa-biasa saja, dan sejak dulu juga selalu membandingkan dengan drama atau film yang aku tonton, tapi pada saat itu aku selalu bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa kelak kehidupanku akan membaik. Bahwa kelak aku juga akan sekaya tokoh dalam drama tesebut. Bahwa kelak aku juga akan bertemu dengan lelaki yang sangat mencintaiku (enggak harus kayak tokoh dalam drama korea ya, tapi cukup sangat mencintaiku dan aku mencintainya juga). Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku masih punya banyak waktu untuk mencapai apa yang aku inginkan. Menekuni bidang yang akan sangat aku cintai kemudian menjadi cemerlang di dalamnya.

Tapi sampai sekarang bahkan kehidupanku masih biasa-biasa saja, bahkan aku belum bertemu dengan si pangeran tampan dari negeri sebrang yang mau meminangku. Rasanya aku sudah kehabisan waktu untuk menemukan passion-ku yang akan membuatku sangat sukses dan kemudian menikah dengan lelaki yang sangat baik. Intinya aku sudah melewati batas waktu seharunya aku mencapai mimpi-mimpi itu.

Itu mungkin dua hal yang membuatku sangat galau ketika nonton drama korea. Intinya saya merasa apakah saya masih bisa bahagia kelak ketika saya mencapi mimpi-mimpiku bahkan ketika umurku tidak lagi muda? Dulu itu rasanya saya bisa bahagia hanya karena saya masih muda karena di sana banyak harapan. Tapi akhir-akhir ini aku merasa sudah tidak muda dan harapan-hrapan itu hilang di hadapanku. Aku tau ini  menyedihkan. Menyedihkan bagaimana cara berpikirku.

Mungkin aku harus mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali kebiasaan nonton drama korea dan bertemu lebih banyak orang dan menikmati kehidupan nyataku dibandinhgkan sibuk membandingkan dengan drama yang tidak pernah nyata.

No comments:

Post a Comment