November 30, 2023

Hei Kamu

Kenapa kamu membuatku terus memikirkanmu

Nggak terus juga sih, tapi terkadang tiba-tiba muncul begitu saja

Pernah ngobrol aja enggak, saling sapa atau tukar senyum pun sepertinya belum pernah

Bahkan aku pernah lupa ada kamu di dalam ..., (aku nggak tau harus menyebutnya apa, bahkan aku nggak bisa menyebutnya sebagai "dalam pergaulanku" karena kita memang nggak pernah dalam satu pergaulan. Kita hanya mengenal orang-orang yang sama di dalam pergaulan kita masing-masing. Lalu bisakah aku menyebutnya sebagai,) entitasku? atau komunitasku? (rasanya nggak cocok. Ah biarlah kubiarkan saja tetap dalam titik-titik)

Aku hanya tahu namamu, yang bahkan pernah susah kucocokan dengan seraut wajahmu. Karena aku memang nggak pernah memperhatikanmu sehingga nggak ada ingatan tentang dirimu di dalam memoryku. Aku punya ingatan yang sangat jelas dengan teman (sepertinya) dekatmu, tapi tidak kamu. Tiba-tiba aku mengingat ini, (sepertinya satu-satunya) kita pernah berurusan adalah selembar kertas yang aku kritisi bersama temanku, kertas yang kamu tulis dengan teman (yang sepertinya cukup akrab dengan) mu itu.

Kamu hanyalah orang yang pernah aku tahu namanya

Tapi kenapa akhir-akhir ini sering muncul di pikiranku, hanya karena temanku pernah menyebutkan namamu, dan juga sebuah kejadian (yang bahkan aku nggak ingat ada), tentangmu

Jadi mari kita akhiri saja ini dan enyah dari pikiranku

Atau haruskah aku kepoin kamu? Supaya aku patah hati dan berhenti (kadang tiba-tiba) memikirkanmu. 


Ditulis tanggal 29 November 2023 saat sedang menulis katak dalam tempurung, karena tiba-tiba kepikiran orang yang kupikir adalah jodohku tapi sepertinya (hampir sangat yakin) bukan. Karena ini hanyalah ketidakwarasanku saja yang sedang datang.

November 29, 2023

Katak Dalam Tempurungkah?

Aku selalu malas berurusan dengan hal yang membuatku nggak nyaman, baik untuk hatiku atau kesehatan jiwaku. Bahkan aku sering berpikir untuk meninggalkan tempat tinggalku yang sekarang hanya karena orang-orang yang kuanggap toxic dan ketidaknyamanan yang kuhadapi ketika aku bertemu dengan mereka. 


Memang benar bahwa bertemu dengan mereka membuatku nggak nyaman, sometimes they drained my energy, bahkan ada yang bilang "jauhi saja orang-orang seperti itu". But in my case, kayaknya nggak begitu deh. Iya, aku memang hanya ingin tinggal di tempat yang nyaman yang nggak membiarkanku terluka, bahkan aku pernah merasa aku seperti seekor katak yang ingin tinggal di dalam tempurung.


Tapi benarkah aku seekor katak yang ingin tinggal dalam tempurung? Memang ketidaknyamananku berhubungan dengan aku yang merasa kecil, aku yang merasa nggak seberharga yang lain, aku yang nggak valuable, aku yang merasa nggak sebanding dengan mereka, aku nggak seberharga mereka. Namun bukan berarti aku ingin lebih baik dari mereka. Bukan berarti aku ingin menghilangkan "yang lebih besar" supaya aku yang paling valuable, paling berharga dan paling penting. 


Aku tidak merasa menjadi katak, aku bahkan tidak dianggap sebagai katak, aku selalu merasa lebih kecil dari si katak. Aku bukannya ingin merasa jadi yang terhebat. Aku hanya ingin bersama-sama dengan mereka yang tidak menganggap betapa hebatnya katak di tempurung ini atau tempurung sebelah, betapa gagahnya gagak di dahan, dan betapa cantiknya kupu-kupu di bunga. Aku hanya ingin bersama mereka yang menganggap semua adalah sama. Yang tidak memperlakukan makhluk lain berdasarkan "besar kecilnya" mereka. Yang membuatku nggak nyaman bukan katak atau makhluk "besar" lainnya, tapi persepsi mereka yang membuatku merasa aku nggak sehebat makhluk "besar" lainnya. 


Dan pindah ke tempurung lain, tidak akan berarti tidak akan bertemu dengan mereka yang menganggap katak adalah yang terhebat, atau gagak yang tergagah, atau kupu-kupu yang tercantik sehingga mereka harus selalu diistimewakan. Pindah tempurung lain tidak berarti akan berkumpul dengan mereka yang menganggap SEMUA mahkluk adalah ISTIMEWA. 


Ya, akhirnya aku sadar pindah tempurung tidak akan menjamin kenyamananku. Pindah tempurung tidak berarti akan membuatku berada di entitas yang menganggap semua makhluk itu sama dan istimewa. 


Dan seandainya aku jengah dengan semua hal ini, jika aku capek menghadapi persepsi mereka, harusnya aku bukan pindah tempurung namun aku memperbesar diriku sampai aku merasa sebesar katak, mempergagah diriku sehingga aku merasa segagah gagak, atau mempercantik diriku sampai aku merasa secantik kupu-kupu. Sehingga ketika ada yang membicarakan kebesaran, kecantikan dan kegagahan yang lain aku bisa dengan percaya diri bilang ke diriku sendiri "tenang kamu juga besar kok, kamu juga gagah, kamu juga cantik, kamu nggak kalah dengan mereka". 


Aku sangat berharap suatu saat hal ini akan terjadi. 


Ide menulis ini didapat karena pernah merasa seperti katak dalam tempurung, tapi tersadar bahkan tidak pernah merasa menjadi katak setelah ditulis. Akan diedit dalam beberapa hari karena biasanya begitu diedit setelah tulisan didiamkan beberapa hari 😁

November 24, 2023

Tentang Lelaki tampan di Shooting Star

Seandainya lelaki tampan dan karakter di shooting star beneran ada di dunia nyata, aku bakalan paling sungkan dengan pengacara Do. Sungkan tapi juga kagum dan mungkin jatuh cinta, eh maksudnya mengagumi dalam diam. Kalau ketemu manusia seperti ini, aku bakalan speechless banget dan ngerasa nggak berguna jadi manusia. Wkwkwkw.... Dia sosok yang sangat profesional, kaya raya dan keliatan banget kelas atasnya. Di depannya aku bakalan ngerasa kayak remahan rengginang. Lelaki seperti ini memang mudah dijatuh cintai dan dikagumi tapi kalau lama-lama dekat dengannya agak susah memepertahakan kesehatan jiwaku yang kadang punya inferioritty komplek. Kecuali lama kelamaan dia menunjukkan ketidaksempurnaannya di depanku. Atau menunjukkan kalau dia bisa menerimaku apa adanya (iki opo seh?)

Kalau sama karakter Gong Tae sung ini aku bakalan nyaman, karena dia orangnya suka jahil, konyol, dan meskipun sangat tampan kadang dia bodoh, ceroboh dan lugu banget. Dia karakter yang bakalan bikin aku nyaman di dekatnya dan juga tetap bisa membuatku percaya diri dengan jadi diri sendiri. Bisa bertengkar, bisa maki-maki, bisa ngomel, bisa becanda, bisa temenan, bisa konyol, bisa nggak sempurna, bisa ceroboh, bisa jadi manusia yang nggak berguna. 

Nah kalau di dekat sanbae Kang Yung Seok (atau siapa sih? Yang menejer itu lho) aku bakalan merasa aman. Dia sosok yang sangat bisa diandalkan dan mengayomi, juga bertanggung jawab. Kalau punya kakak kelas, kakak angkatan atau sunbae di tempat kerja, aku beneran berharap orangnya kayak dia. Tapi repotnya orang kayak gini juga mudah dijatuh cintai

Dari ketiga orang ini, untuk menjadikan pasangan aku akan lebih memiliki si sanbe atau Gong Tae Sung. Hehehehe. Nggak ada yang nanya juga sih


Ditulis tanggal 12 juni 2022, baru diposting hari ini


Di bawah ini bonus foto-foto aja. Hehehe. Keterangan foto; Pengacara Do yang kanan atas, sunbae yang bawa kopi di kiri, Gong Tae Sung yang paling depan.







November 22, 2023

Beneran adakah?

Tetiba aku overthinking. Dikarenakan ada sebuah kejadian yang tiba-tiba kuingat, yaitu ketika tetanggaku tiba-tiba menyarankanku untuk menikah dengan tetanggaku yang lain. Meskipun yang direkomendasikan ini tetangga dekat, aku sama sekali nggak mengenalnya. Apa yang disukai dia, apa buku favoritnya, apakah dia suka membaca, apa hobi dia, dsb. Kayaknya bagi tetangga yang merekomendasikan, menikah dengan "sembarang" orang itu lebih baik daripada nggak menikah (jujur merinding). 

Lalu aku kepikiran, adakah orang yang benar-benar melakukannya? Menikah dengan seseorang hanya karena takut sendirian, hanya karena 'daripada tidak menikah'? Apakah beneran ada orang yang berpikiran begitu? Bagiku ini menyeramkan sekali.

Bagiku menikah dengan orang yang kita cintai saja sudah menyeramkan (iya tau ini bakalan menyenangkan tapi juga ada menakutkannya juga, menyatukan dua keluarga dan juga dua kepribadian yang berbeda) apalagi dengan orang yang nggak kita cintai, yang cocok atau enggaknya kita belum tahu.

Percayalah aku masih ingin menikah, aku juga masih percaya suatu saat aku akan menikah dengan seseorang yang aku cintai dan hidup berbahagia bersamanya. Jangan terlalu menghawatirkanku yang masih bisa berbahagia dengan kesendirianku. Karena aku lebih takut menikah dengan orang yang salah

Ditulis sekitar 24 juni 2022, diposting hari ini

November 20, 2023

Mantra yang Kupercaya part #2

Benarkah aku mempercayai apa yang aku tulis di sini? Ya, aku mempercayainya walaupun nggak selalu. Walaupun kadang aku lupa. Namun beberapa kejadian membuktikan bahwa yang kupercaya memang benar.

Mungkin beberapa hal ini bisa membuktikan bahwa aku rajin, aku tekun, aku pekerja keras, aku keren, aku persisten dan tangguh:

1. Ketika aku membangun beberapa akun publik (ootd) dan kini sudah puluhan bahkan ratusan ribu followers. Aku membangunnya dari nol followers, dengan tekun, rajin dan persisten mengusahakan supaya difollow banyak orang tanpa mengeluarkan uang sepeser pun hanya dari organik.
2. Ketika aku berhasil menurunkan berat badan sampai 13kg dalam 6 bulan. Meski sekarang sudah naik sih
3. Ketika aku bisa menghasilkan komisi 10-20 juta perbulan (walaupun sekarang sudah turun sih)
4. Ketika aku bisa bangkit dari olshop yang terus menurun sampai akhirnya nggak menghasilkan apa-apa, lalu ganti olshop dengan ikut pelatihan dan akhirnya balik modal hanya dalam beberapa bulan. 
5. Ketika aku nggak menyerah begitu saja ketika olshopku kembang kempis, namun mencari ilmu ke sana kemari bahkan ngelaju ke magelang dan pulang larut hanya untuk memperbaiki keadaan olshopku.
6. Ketika akhirnya aku memutuskan ganti olshop karena sudah nggak menghasilkan
7. Ketika aku berani mengakhiri olshop pengganti dan dan bergantung pada akun publikku untuk mencari nafkah.
8. Ketika aku tiap malam belajar rajin demi mendapatkan nilai yang bagus dan berhasil masuk SMA pilihanku.
9. Ketika aku belajar rajin supaya mendapat nilai yang bagus saat kuliah
10. Ketika aku berani resign dari pekerjaan tetapku sebagai menejer operasional dan memulai olshop yang bahkan belum tau mau jualan apa

Dan mungkin masih banyak hal lain yang sebenarnya membuktikan bahwa aku ini rajin, tekun, pekerja keras, persisten, dan tangguh, namun aku lupa apa saja. Yang jelas beberapa hal di atas membuatku yakin bahwa aku memang demikian.

Jadi Ah, mari kita percayai bahwa kamu memang keren, kamu pekerja keras, kamu cerdas, kamu bisa mencapai apapun yang kamu inginkan selama kamu focus untuk mencapainya. Percayalah sama dirimu sendiri. Kamu hebat, kamu keren banget


November 19, 2023

Pemelihara Fans Part #3

Sebenarnya aku agak heran dengan jenis manusia yang memelihara fans ini. Kenapa bisa begitu? Apa untungnya buat dia? Apakah untuk memvalidasi ketamvanannya, apakah bisa? Apakah meningkatkan kepercayaan dirinya? Atau apa?


Sedangkan aku bukan tipe orang seperti itu. Kalau ada orang yang suka padaku tapi aku nggak suka, biasanya aku males dan menjaga jarak 🤣🤣🤣. Jarang aku mau berteman akrab dengannya. Hubungan akan aku jaga sampai kenalan/teman baik. Dan kalaupun dia menjauh, ya nggak papa. Silahkan pergi. Dan aku bisa sangat ilfeel kalau orangnya sok kepedean. Pengenai kepedean akun pernah ilfeel dan muak bahkan sama orang yang awalnya kusukai. Hanya karena dia tahu perasaanku lalu ngelunjak kepedean dan sok iye, aku pengen ngeludahinya (mian) 😁.


Tapi akhir-akhir ini aku merasa bersalah ke meraka, ke orang-orang yang menyukaiku tapi nggak kusukai balik, atau orang-orang yang kutuduh menyukai padahal enggak. Semoga sikapku nggak menyakiti hati mereka. Atau orang-orang yang mendekatiku tapi tak kusadari atau telat kusadari, sehingga aku terlampau cuek semoga aku nggak menyakiti hati mereka 😂😂😂. Aku memang orang yang kurang sensitif tapi kadang terlalu kegeeran juga 🤣🤣🤣



November 18, 2023

Mantra yang Kupercaya

Ketika moodku sedang baik, aku percaya dan meyakini bahwa aku adalah perempuan yang cerdas, pekerja keras, tekun, rajin, persisten, tangguh dan keren. Aku mempercayai ini sampai ke sumsum tulang belakang, dan membuatku bahagia hanya karena aku benar-benar mempercayainya. 


Masalahnya adalah, moodku nggak selalu dalam keadaan baik. Ada kalanya turun, ada kalanya buruk, bahkan sangat buruk. Nah kalau sedang dalam keadaan begini, aku merasa nggak berguna, nggak berarti, buruk, manusia yang nggak banget dan lain sebagainya. 


Karenanya aku menulis ini di dalam kertas dan kutaruh di tempat yang mudah kulihat. Menjadikannya mantra, yang kalau moodku sedang dalam keadaan buruk aku bisa membacanya dan kembali merasakan di pembuluh darahku kalau semua yang kutulis itu benar adanya. Kembali merasakan di sel-sel tubuhku bahwa aku ini tekun, aku pekerja keras, tangguh, dbs. 


Kalau kamu mantramu apa? Kamu tulis juga nggak?


November 17, 2023

Patah Hati yang Kupilih (pemelihara fans part 2)

Dan ketika harus patah hati, aku lebih memilih patah hati yang lelakinya menolak dengan tegas sedari awal. Setelah mencintai si pemelihara fans, aku jatuh cinta lagi 2x, dan dua-duanya secara implisit mengatakan tidak menyukaiku balik. Mereka bercerita tentang perempuan lain yang mereka sukai. EH satu implisit, satu explisit. Karena yang satu hanya menduga kalau aku menyukainya, yang satu tahu kalau aku menyukainya. 


Jadi lekaki yang sedari awal membuat batas dengan wanita yang menyukainya, itu lebih baik dibandingkan lelaki yang tarik ulur nggak jelas. Menurutku lelaki yang memberi batas itu lebih cool, lebih keren, lebih baik. Karena dia tidak membiarkan orang yang menyukainya atau mencintainya berada dalam ketidakpastian. Biarkan dia pergi dan melepaskan perasaannya lalu menemukan cinta yang lain. Itu cool, itu keren, itu baik hati. 



November 15, 2023

Pemelihara Fans

Aku pernah menyukai lelaki macam ini, yang nggak mencintaiku tapi nggak mau kehilangan aku sebagai pemujanya. Dari semua jenis lelaki brengsek ini salah satu yang menyebalkan. Tidak dengan tegas menyatakan "aku tidak menyukaimu balik" justru memberikan sinyal "aku ngga mau kamu pergi" ketika mengetahui aku sudah mulai menjauh. Pengen rasanya mengumpat sama lelaki macam ini. Dan sepertinya dia tidak hanya melakukan ini padaku tapi pada orang lain juga.


Malangnya justru lelaki macam ini yang bikin susah move on. Dan nggak tau kenapa semalam aku memikirkan manusia ini. Kalau sekarang aku sudah bisa mendoakannya dengan tulus semoga dia dalam keadaan sehat dan bahagia bersama istri dan anaknya. Tapi ada di masa ketika aku sangat membenci lelaki itu. Ya, dia memang pernah menorehkan rasa sakit, tapi sekarang jika aku harus mendengar kabarnya, aku berharap itu kabar baik, bukan sebaliknya. Kalau bertemu dengannya lagi pun, aku sudah bisa tersenyum dengan ikhlas tanpa rasa dendam.


Sebenarnya aku nggak pernah bilang kalau aku menyukainya, tapi kurasa dia mengetahui perasaanku. Mungkin perasaanku terlalu kentara waktu itu, bahkan perempuan yang dekat dengannya (sekarang istrinya, waktu itu dia masih PDKT) pun mengetahui perasaanku. Jenis lelaki ini, semoga kelak anakku pun tidak pernah bertemu dengan jenis ini. 


Kok aku bisa tahu kalau dia pemelihara fans? Karena setiap kali aku menjauh dia berusaha mendekat. Ketika sudah lumayan dekat dia bersikap cuek, tidak mau lebih dekat lagi. Begitu polanya. Dan yang membuatku semakin sadar, suatu ketika dia sudah pacaran dengan perempuan yang tadi kusebutkan di atas, tapi ketika ada di dekatku dia tidak mengakui hubungan mereka dia bilang "enggak kok mbak, kami cuma temen". Mengingat ini kok rasanya masih sebel dan pengen memukul kepalanya. Tapi untungnya waktu itu aku sudah memutuskan berhenti berharap padanya. Jadi apapun yang dia katakan aku sudah tidak berniat untuk menaruh perasaanku padanya lagi. 



November 10, 2023

Ekspressi Perasaan yang "Umum"

Sekitar seminggu atau dua minggu setelah bapakku meninggal aku mengajak ibukku pergi ke pantai. Aku pergi ke pantai karena ingat bapakku pengen ke pantai beberapa saat sebelum beliau meninggal. Sekembalinya dari sana, tetanggaku yang juga masih keluarga jauh kayak kaget karena tau aku baru saja dari pantai. Dia nggak mengatakannya, tapi dari raut mukanya keliatan marah banget dan kayak mengataan aku anak kurang ajar yang sudah pergi ke pantai bahkan hanya berjarak dua minggu (atau seminggu ya?) dari bapakku meninggal.


Belum lama ini adekku melahirkan anak kedua. Karena sudah memiliki rumah sendiri dia hanya tinggal dengan suami dan juga anak-anaknya. Waktu malam aku mau pulang, ada saudara dari iparku yang bertanya "tidak menginap di sini? kalau saudaraku melahirkan biasanya aku menginap lho" semacam klaim bahwa seharusnya saudara perempuan menginap dan menemani saudara perempuannya yang baru saja melahirkan. Hal yang sama juga dikatakan oleh tetanggaku (yang tadi kusebutkan di paragraf pertama). 


Menurutku rasa sedih dan rasa bahagia itu bersifat personal, cara mengekspresikannya pun personal. Orang bisa saja menangis meraung-raung ketika ditinggal anggota keluarganya, namun ada juga yang nggak menangis atau hanya tersedu, namun perasaan yang dia rasakan tetaplah sedih. Begitu juga dengan rasa bahagia. Tertawa belum tentu bahagia, bermuka datar juga bisa saja bahagia. Kenapa kita harus mengekspresikan dengan cara yang sama terhadap perasaan yang kita rasakan? Kurasa kita punya cara sendiri untuk mengekspresikan perasaan kita.


Pergi ke pantai beberapa hari setelah ditinggal anggota keluarga bukan berarti nggak bersedih, bukan berarti nggak sengsara. Kehilangan yang kurasakan saat ditinggal bapak berlangsung cukup lama. Aku butuh waktu untuk bilang sudah terbiasa. 


Begitu juga rasa bahagiaku dan peduliku terhadap aggota keluarga baru tidak harus sama dengan cara orang-orang mengekspresikan rasa bahagia mereka menarima anggota baru. 


Meskipun aku menuliskan ini, namuan ada rasa nggak nyaman ketika ada penilaian dari orang lain terhadap sikapku/ekspresi perasaanku. Seolah-olah mereka mengatakan aku nggak pantas, aku nggak baik, aku nggak cukup bagus, aku nggak cukup peduli terhadap anggota keluargaku. Tapi berusaha bersikap masa bodoh. Luweh!



November 9, 2023

Menjadi Normal

Aku pernah mempertanyakan kenormalanku di sini karena ngga pernah ke luar rumah. Setelah kupikir-pikir, kayaknya ini salah satu penyebab aku setress. Karena itu aku membuat semacam rencana untuk seenggaknya sehari sekali ke luar rumah. Atau kalau sedang males banget dua atau tiga hari sekali. 


Sebenarnya dulu aku punya kebiasaan sholat jama'ah di masjid, tapi sejak covid aku belum rutin ke masjid lagi. Jadi dulu aku lumayan banyak berinteraksi dengan orang, namun sekarang aku hanya berinteraksi dengan orang rumah. Beberapa hari terakhir aku merasa inilah yang membuatku gampang setress. Semakin nggak menyukai ketemu orang-orang dan canggung ketika bertemu orang.


Tapi mungkin teoriku salah, karena saat aku rajin ke masjid pun ternyata aku mengalami masalah dengan kepercayaan diri. Nggak taulah, tapi aku merasa banyak berinteraksi dengan orang itu lebih baik daripada menghabiskan waktu seharian di rumah



November 8, 2023

Aku Mencintai Masa Bahagiaku dan Masa Sedihku

Judul di sini hanya berlaku ketika aku sedang bahagia. Ketika aku sedang terpuruk, beneran deh aku nggak bakalan mengatakan atau menulis ini. Hahahaha... 


Soalnya kalau sedang terpuruk, rasanya nggak mungkin banget untuk berpikir yang lain selain merasakan rasa sedih dan perasaan yang menusuk di hati. Hanya mencari jalan keluar supaya bisa terlepas dari perasaan itu. Supaya nggak jatuh makin dalam. 


Namun ketika bahagia, aku bisa memikirkan tentang masa lalu yang menyedihkan, lalu bersyukur tentang rasa bahagia yang kini dirasakan. Dan juga membuat kebahagiaan yang kualami saat ini lebih bermakna dan berarti.

Kamu gitu juga nggak sih?



Tapi setelah menulis ini rasanya aku lebih optimis bahwa masa terpurukku pun akan berakhir. Bahwa semua ini hanya sementara, dan kebahagiaan itu akan segera datang.

November 7, 2023

Fix Mindset yang Bikin Galau

Akhir-akhir ini aku sedang kecanduan baca webtoon, padahal kecanduanku sama drakor sudah mulai berkurang eehhh ini datang penyakit baru. Tapi nggak papalah, insya Allah aku bisa mengontrolnya. Sama kayak nonton drakor selain menghibur baca webtoon juga sering bikin galau, meskipun ceritanya happy ending.


Aku pernah cerita di sini tentang kegalauanku ini, tapi saat itu aku belum bisa memahami dengan benar sebenarnya apa yang membuatku galau. Setelah membaca buku Mindset (karya carol s. Dweck ph.d.) aku baru tau kenapa cerita-cerita itu bikin galau, yaitu karena itu adalah cerita tentang takdir yang tidak bisa diubah (fix mindset). Kalau webtoon atau dramanya bercerita tentang takdir yang bisa diubah nggak begitu bikin galau.


Webtoon yang membuatku sadar akan hal ini adalah webtoon "The Summer of Us".  Bercerita tentang pertemuan kembali dua sahabat setelah terpisah selama 9 tahun. Seperti aku bilang ini adalah cerita tentang "takdir yang tidak bisa diubah" tetang seorang laki-laki yang bucin setengah mati sama teman perempuannya yang sangat cantik. Aku bahagia karena mereka berakhir dengan happy, namun juga dibuat galau karena ada semacam pesan tersirat bahwa "dicintai setengah mati oleh seorang laki-laki hanya terjadi pada perempuan yang sangat cantik". 


Setelah membaca buku Mindset aku sadar bahwa ingin dicintai dengan bucin oleh seseorang adalah pola pikir fix mindset. Sebenarnya perasaan cinta itu bisa ditumbuhkan. Dan untuk mempertahankannya dan membuatnya menjadi langgeng dibutuhkan dua orang untuk BERUSAHA menjaganya. Dicintai itu bisa terjadi sama siapa saja dan untuk dicintai dengan sangat itu juga butuh usaha, tidak hanya diam dan cinta akan datang dengan sendirinya seperti yang ada di novel, drama atau webtoon


Masalahnya adalah di webtoon atau drama jarang diperlihatkan "perjuangan" mendapatkan cinta itu. Cinta seperti "takdir" yang jatuh dari langit untuk tokoh perempuannya. Seolah-olah tersirat bahwa kita nggak bisa berbuat banyak akan "takdir" tersebut (lagi-lagi fix mindset). Di dunia nyata, kebanyakan kita harus berjuang mendapatkan cinta itu. Dan ini nggak papa dan tetap membuat kita bahagia. 


Nah dalam hal ini aku sebenarnya lebih suka drama hollywood karena romansanya lebih realistis. Pesan yang tersirat dalam serial hollywood itu "dicintai dan mencitai adalah perjuangan dua belah pihak" bukan takdir yang tiba-tiba muncul tanpa kita melakukan apa-apa hanya karena kita cantik menawan mempesona.

November 6, 2023

Bertepuk Sebelah Teman

Dulu aku pernah nulis di sini kalau orang yang kita anggap teman dekat belum tentu menganggap kita teman dekatnya. Begitu juga sebaliknya, ada yang orang yang kita anggap teman biasa ternyata mengganggap kita teman dekatnya.

Baru-baru ini aku menyadari satu hal lagi. Nggak semua orang yang pengen kita jadikan teman dekat itu pengen menjadikan kita teman dekat. Mereka atau dia hanya pengen menjaga hubungan tetap menjadi teman yang sekedar kenal, bahkan ketika kita "berjasa" buat dia. Tapi nggak papa kok, itu bukan berarti kamu kurang baik atau nggak asyik, hanya memang nggak "berjodoh" saja. Karena berteman dekat itu juga butuh persetujuan dua hati. 

Nggak perlu berkecil hati. Kita nggak kekurangan apapun, hanya saja "nggak berjodoh" menjadi teman baik. Di luar sana pasti ada banyak orang yang tetep pengen menjadi teman baik kita, yang pengen menjaga hubungan bahkan lebih baik lagi. Penuhi dengan orang-orang seperti itu supaya kita tetap merasa dicintai banyak orang. Tentu saja selalu perbaiki diri, yang terakhir sih nasihat buat diriku sendiri