September 27, 2013

Yang menyebalkan

I don't know how I have to deal with this. Dari dulu aku memang ingin bekerja di sebuah penerbitan. Meskipun tidak menempat posisi yang aku inginkan tapi aku berhasil memenuhi keinginanku. Aku cukup senang, apalagi teman-teman di sini sangat menyenangkan. Pekerjaanku saat ini sering berhubungan dengan client penerbitan. Sebenarnya semua itu cukup menyenangkan, apalagi jika bertemu dengan pelanggan yang menyenangkan dan ramah. Sangat membahagiakan ketika mereka mengatakan "terima kasih" dan mereka merasa cukup terbantu. Rasanya tidak sia-sia aku capek-capek mengusahakan yang terbaik.
Tapi rasanya akan seperti di ujung tanduk dan menyebalkan ketika bertemu degan pelanggan yang banyak maunya dan pemarah. Maunya banyak, ini itu dan hobi menyalahkan dan kecewa. Kadang aku tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan orang seperti ini. Kadang aku harus menahan emosi sebisa mungkin, supaya aku tetap terlihat menyenangkan di mata mereka.

Masalahnya aku adalah orang yang cukup moody dan sering kepikiran apa yang baru saja kualami. Aku sangat bersyukur karena harus berkomunikasi dengan klien melalui bahasa tulis, aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau aku harus berkomunikasi dengan mereka dengan cara bertemu langsung atau berbicara langsung. Kadang-kadang hal itu memang terjadi, dan saat emosi biasanya aku tidak bisa menahannya, biasanya akan terlihat dari jawaban-jawaban yang kuberikan. Kalau melalui email atau sms, aku masih bisa menahan diri, bahasaku masih halus dan menyenangkan.

Ah entahlah, aku sedang setres menghadapi satu pelanggan yang sungguh banyak maunya dan hobi menyalahkan semuanya pada orang lain. :'((((


September 23, 2013

Saran Mbah Dukun Sialan


Aku sudah tidak melihat siapapun di ruangan. Kudekati locker Nuna dengan pelan-pelan, pura-pura mendekti meja telepon yang ada di dekatnya. Kutengok ke kanan dan ke kiri sekali lagi, masih tidak ada orang. Aman buatku untuk mengambil benda itu. Aku bergeser ke lokernya. Sebagai secret admire di kantor selama 2 tahun, aku tahu dia tidak pernah mengunci locker-nya. Aku juga tahu dia hanya membawa baju ganti di hari Sabtu, karena sebelum berangkat kerja dia akan Spot Center untuk berenang. Dasar advice Mbah Dukun yang nggak penting, masak menaklukkan hati wanita dengan mengambil pakaian dalamnya. Lebih nggak penting lagi aku karena mengikuti advice yang nggak penting itu. Ya Tuhan, maafkan hamba karena mengikuti saran Mbah Dukun sinting itu. Sebenarnya bukan Mbah Dukun sih, tapi Riko teman kantorku yang katanya dia pernah melakukannya dan berhasil. Aku behasil mengambil kaos dalamnya Nuna. Di sana ada celana dalam dan juga BH, tapi rasanya akan sangat menjijikan jika besok pagi aku harus mencuci muka dengan rendaman semalam suntuk salah satu benda itu. Meskipun itu milik orang yang aku sukai, terasa lebih baik kalo aku memilih kaos dalamnya saja.
***

Keesokan paginya, aku mendengar si Nuna kasak-kusuk dengan Rena dan Sinta, dua teman dekatnya di kantor. 

“Aku yakin aku sudah memasukkan di dalam tas kresekku, waktu sampai di kos aku mau mencucinya kaosku nggak ada” katanya sambil berbisik. Maklum mereka sedang membicarakan pakaian dalam.

“Masak sih di kantor ini ada psikopat? Ngambil-ngambil pakaian dalam” bisik Sinta. Bukan aku psikopatnya, tapi Riko sebagai pemilik ide, batinku. 

“Kamu yakin sudah memasukkanya? Sapa tahu kamu lupa” Kali ini Rena yang berbisik.

“Yakin, karena itu kaos kesukaanku, dan harganya nggak murah” bisik Nuna sedih. Sekarang aku membuat perempuan yang kucintai bersedih. Sial.
***

Pagi ini aku mau mengembalikan kaos dalamnya Nuna ke locker-nya. Dari awal semua ini sudah salah. Riko sialan itu membohongiku. 

“Apa? Kamu percaya sama ceritaku itu? Ya ampun serius kamu lahir tahun 80an bukan tahun 50an? Sama begitu saja percaya” katanya di tengah tawanya yang nggak berhenti-berhenti.
Kampret bener tuh orang. Aku berani bertaruh demi apapun kalau saat itu dia bercerita padaku dia sukses menaklukkan perempuan dengan mengambil celana dalamnya. Dia bahkan mendorongku untuk mengambil pakaian dalam si Nuna. 

Aku meletakkan kaos dalam Nuna di locker-nya, aku sudah mencucinya dan memberinya pewangi. Seperti biasa locker itu tak terkunci. Begitu aku menurupnya, Si Nuna sudah berdiri di dekat locker-nya, berkacak pinggang dan raut marah di wajahnya.

“Aku bisa menjelaskannya. Aku bukan psikopat. Aku melakukannya karena aku menyukaimu. Aku tidak yakin kamu juga menyukaiku, kamu begitu cantik, cerdas, banyak yang menyukai, pekerja keras, sedangkan aku nggak secemerlang kamu. Karierku segini-gini saja, makanya aku mengikuti saran Riko untuk mengambil kaos dalammu dan merendamnya dan menggunakan untuk cuci muka. Serius aku bukan bukan psikopat, aku baru sekali ini melakukannya. Dan tidak akan pernah mengulanginya lagi. Kumohon jangan membenciku” cerocosku. Aku panik bukan kepalang. Tiba-toba dia mendekatiku. Aku yakin dia akan menamparku. Tapi dia hanya berbisik “aku juga menyukaimu”.

“Apa?” tak sadar aku mengucapkannya.

Dia hanya tersenyum dan ngeloyor pergi.

Cerita ini dibuat untuk memenuhi tugas pena merah, maaf endingnya sedikit ngawuuurrr. Hahahaha… Yang penting nggak didenda ya. Wkwkwkkw…


September 18, 2013

Catatan Keuangan

Apakah kamu termasuk orang seperti aku yang suka mencatat semua pengeluaran? Hal ini memang masih aneh di telinga masyarakat Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia memang tidak mencatat pengeluaran keuangan. Hanya mengalir begitu saja, butuh uang ambil di ATM, dipaki dan sudah, tanpa mampir di pembukuan sedikit pun.

Di Indonesia orang menganggap menulis pemasukan dan pengeluaran itu aneh bahkan terkesan pelit. Aku sendiri kadang malu, karena takut dianggap sebagai orang pelit. Padahal pakar keuangan bilang kita memang harus mencatatnya, karena catatan keuangan bisa digunakan sebagai kontrol terhadap pengeluaran. Dengan mencatatnya kita juga memiliki disiplin, kontrol dan juga planning keuangan. Di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Eropa orang-orangnya berdisiplin dalam menulis pemasukan dan pengeluaran karena menganggap pencatatan ini penting.

Aku sendiri kadang lupa untuk mencatatnya. Tapi aku selalu punya planning per bulan, berapa banyak untuk keseharian, berapa banyak untuk bersenang-senang, berapa banyak untuk ditabung, dll. Memang kadang tidak patuh sama planning itu. Kadang juga lupa untuk mencatatnya, tapi menurutku jika sudah memplaningnya, pengeluaranku lebih terkonterol. Dan dengan mencatatnya aku lebih disiplin dalam merencanakan keuanganku.

Nah, apakah kamu sepelit diriku dalam perencanaan keuangan? Atau mengalir saja?


September 16, 2013

Alkohol itu Bernama Cinta

Aku pernah menerka-nerka tentang arti sebuah senyuman. Aku pernah menerka-nerka tentang arti sebuah tatapan mata. Aku pernah menjadi kegeeran karena terkaanku itu. Aku pun pernah menyangka seseorang juga menyukaiku dari tatapan mata dan senyumnya. Bahkan tidak hanya sekali. Itu adalah saat-saat di mana aku berada dalam pengaruh alkohol cinta. Alkohol paling ampuh di dunia, yang pengaruhnya juga paling dahsyat. Bisa membuatmu berhalusinasi, membuatmu bahagia dan bersedih bahkan untuk alasan tidak jelas atau alasan konyol atas imajinasi yang kamu ciptakan sendiri.

Tapi saat alkohol cinta itu sudah hilang bahkan lenyap sama sekali, kamu sadar bahwa saat itu kamu benar-benar bodoh. Bahwa kamu benar-benar tolol pernah memiliki pemikiran seperti itu. Kamu bahkan pernah menganggap senyum yang biasa saja itu istimewa. Siapa yang bisa mengartikan sebuah senyuman, dan siapa yang bisa membedakan senyuman itu istimewa atau tidak? Tidak ada. Iya, tingkah lakumu selama ini sungguhlah tolol.


Cinta Terlarang

Aku tahu cintaku terlarang, tapi aku sendiri bahkan tak mampu menghentikannya. Ia tumbuh menjadi liar dan tak terkendali.







"Aku sudah siap" kata Lui pada Rika, sahabat baiknya setelah dia selesai menenangkan diri. Rika mendekat dan menggandeng Lui, siap mengantar mempelai wanita ke keluarganya. Aku mengikuti mereka berdua dari belakang. Keluarga dan orang-orang terdekat Lui sudah menunggu di luar, siap mengantar Lui ke Masjid bertemu dengan mempelai lelakinya. Aku melihat Mbak Jem, Mbok Nah, Pak Tarjo, ikut dalam kerumunan itu. Mbok Nem dan Pak Tarjo menitikkan air mata terharu karena majikan yang selalu mereka jaga sejak kecil akhirnya menikah. Sedangkan wajah para Body Guard Pak Tirto tampak lempeng seperti saat mereka sedang bertugas.

"Ma, Pa minta doa restunya" Lui mendekati orang tuanya dan mencium tangan mereka. Ibunya menitikkan air mata. Pak Tirto tampak menahan air matanya yang hendak keluar karena terharu.

Seandaninya aku bisa menangis, aku juga akan menangis hari ini, untuk mengasihani diriku sendiri. Aku tahu dari awal memang akan berakhir seperti ini. Dan seharusnya memang seperti ini. Aku memang hina, dan dia jauh lebih mulia. Aku hanyalah pengagum rahasianya.

Aku akan sangat senang jika ada seseorang yang menggagalkan rencana pernikahan ini, tapi aku sendiri tidak akan pernah melakukannya. Meski cintaku sangat kuat aku tak kan melakukan apa-apa. Aku tidak ingin menjadi penyebab air matanya jatuh. Tiap kali melihatnya menangis aku selalu menderita.

Aku memang pernah membuatnya menangis, tapi semua itu untuk melindunginya. Iya, aku selalu mengusir semua laki-laki yang mendekatinya. Aku tahu maksud para hidung belang itu. Lui memang wanita cantik dan anggun, dia bisa menjaga dirinya sendiri, namun dia perempuan biasa ada kalanya dia terhanyut oleh rayuan laki-laki. Tiap kali seperti itu aku akan menyadarkannya dengan logika-logikaku. Dan itu selalu berhasil, jika tidak berhasil aku akan membuatnya sadar dengan memperlihatkan bukti nyata di hadapannya langsung. Memang tidak mudah tapi selalu berhasil.

Hingga akhirnya Lui bertemu Dimas, calon suaminya. Aku sudah menyelidikinya seperti para lelaki yang mendekati Lui, tapi Dimas tidak ada cela. Meski benci mengakui ini Dimas cocok untuk Lui. Aku membiarkan Dimas mendekati Lui.


Mobil yang kami tumpangi berbelok, kubah masjid mulai terlihat. Aku melihat sudah banyak yang berkumpul di Masjid Al-Hikmah, termasuk para malaikat. Aku tidak tahu apakah aku bisa masuk, padahal aku ingin melihat senyum bahagia Lui setelah ijab kobul. Setelah itu aku tidak akan mengganggunya lagi. Sudah tidak pantas aku selalu membuntutinya, sekarang sudah ada Dimas yang akan selalu melindunginya. Dari dulu Lui tak membutuhkan jin sepertiku, tapi aku yang selalu melindunginya, tanpa permintaan dari siapa pun. 

 


Ditulis guna memenuhi tugas Pena Merah, sedikit merinding waktu menuliskannya. Hahaha..

September 11, 2013

Bukan Waktu yang Mudah

Rupanya ini bukan waktu yang mudah bagiku dan bagi dua orang temanku. Lagi-lagi ini tentang kejombloan kami. Beberapa waktu yang lalu aku harus menghadapi nyinyiran teman SDku yang sungguh sangat menyebalkan sekali. Kalau kuingat-ingat rasanya pengen lempar sendal ke mulutnya biar diam.

Sedangkan temanku Rizu, harus menghadapi kenyataan bahwa adiknya dilamar duluan oleh kekasihnya. Well, tentu itu sangat tidak mudah, sebab harus bersikab tegar dan normal, tetap tersenyum dan menampakkan wajah "aku baik-baik saja" di mana sebenarnya di hati berkecamuk perasaan "kapan ada orang yang melamarku? Kenapa adikku yang dilamar duluan? Kenapa susah bagiku bertemu dengan jodohku?"

Dan Diku, temenku satu-satunya yang sedang memiliki perasaan yang amaizing karena sedang jatuh cinta, harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya ternyata mencintai perempuan lain dan berniat menikahinya.

Aahh entahlah, rasanya semakin hari tekanan terasa semakin berat. Semoga kami diberi kekuatan yang lebih besar untuk menghadapinya. Dan aku berharap semoga kami segera menemukan belahan jiwa kami. Aamiin.


September 10, 2013

Tentang Till It's Gone




Yuhuuu, di atas itu adalah buku karya Mbak @KeziaEviWiadji terbitan @medpressfiksi berjudul Till It's Gone. Betapa beruntungnya diriku karena mendapat buku ini secara gratis alias nggak bayar, sebagai hadiah kuis #SemuaSukaMedpress.

Sebagai ungkapan rasa terimakasih karena sudah memilihku sebagai pemenang, maka aku akan membuat semacam review untuk buku ini. Maaf Mbak Evi kalau reviewnya nggak detail dan juga nggak mendalam. Maklum kemampuan saya masih ceme-ceme. Hehhehehe..

Buat yang sudah penasaran plis cekidot.

Emmm... Sebenernya sih sulit membuat review buku satu ini, sebab Till it's Gone bukan genre novel kesukaanku. Itu kenapa review buku ini lama selesainya Maaf ya Mbak Evi. Dan kemampuan dan pengetahuanku yang terbatas membuatku kesusahan dalam membuat review ini. Biasanya aku sangat suka mengkritisi naskah dari logika cerita, tapi logika cerita novel Till it's Gone ini tidak ada masalah sama sekali. Aku bahkan sangat mengagumi cara Mbak Evi bercerita di sini. Semuanya perfect. Jika ada yang tidak membuatku puas adalah karena aku memang tidak suka cerita tentang kehidupan rumah tangga dan permasalahannya. Meskipun aku sudah sangat dewasa, aku suka cerita tentang anak-anak SMA, kuliah atau pekerja yang sedang mencari cinta atau suami. Hahahhaa.. Maklum sebagai jomblo sejati sepertinya aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa saat sedang single pun kehidupan bisa sangat menyenangkan.
Stop Mbak stoopp ini ngomongin Till its Gone bukan kehidupanmu Mbak.

Oke, meskipun ini bukan genre naskah yang aku sukai, toh nyatanya begitu novel ini sampai di rumahku, aku langsung membacanya dan tidak bisa berhenti membaca. Kalau novelnya nggak bagus aku pasti sudah meninggalkannya di rak buku dan membacanya sampai nggak ada buku lain yang belum kubaca. Hahahaha..

Dari sini aku mulai bingung harus membahas apalagi, karena kemampuanku cuma di logika cerita, tapi sudah kubilang Till Its Gone nggak ada masalah. (¬_¬").

Oke baiklah mari kita bicarakan isi cerita Till Its Gone saja. Eh bukan, tapi aku ceritain apa yang aku pikirkan saat membaca buku ini. Setuju?

Di awal cerita Mbak Evi membawa kita ke permasalahan yang dihadapi Alisa, perempuan yang memiliki satu anak dan suami (Adam) yang sangat kejam yang suka memukul. Ketegangan sangat terasa di awal novel, sampai ketakutan Alisa dan Kevin anak Alisa pada Adam sangat mendominasi di awal cerita, yang semakin membuatku penasaran pada isi cerita. Di novel ini diceritakan bahwa ketikdan keberadaan Adam di rumah justru membuat Kevin tenang.

Pembawaan Alisa yang kalem dan terlihat seperti perempuan baik-baik membuatku bertanya-tanya, kenapa dia bisa menikah dengan lelaki seperti Adam yang jahat? Pasti dia diperkosa waktu mudanya, sampai harus menikah dengannya. Pasti dia dipaksa menikahi Adam. Apalagi saat membaca sinopsisnya yang seperti ini (baca di sana ya, biar kamu paham apa yang aku rasakan). Aku langsung berpikiran bahwa ada kesalahan di masa muda Alisa.

Ternyata memang ada kesalahan di masa muda Alisa, tapi tidak seperti yang aku bayangkan. Pokoknya jauh dari perkiraanku semula. Tapi rasanya tidak asyik jika aku menceritakannya di sini. Akan lebih kece kalau kamu membacanya. Hahaha ('▿^)♉

Oke aku berubah pikiran, akan aku ceritakan sedikit tentang Alisa. Ternyata Alisa muda tidak sekalem sekarang. Dulunya dia cewek nakal yang suka pake BH warna-warni di balik baju SMAnya yang tipis, suka memakai rok di atas lutut, gonta-ganti pacar, punya tato dsb.

Di awal cerita aku juga berpikir bahwa Kevin adalah anak si Adam, ternyata Kevin bukan anak Adam. Lalu pertanyaan lain muncul. Apakah Alisa menikahi Adam hanya untuk menutupi kehamilannya? Dan Adam menikahi Alisa demi kekayaan yang dimiliki Alisa? Pokoknya seperti itulah yang aku pikirkan saat membaca buku ini.

Lalu saat Frans, masa lalu Alisa muncul, pertanyaan pun kembali muncul. Siapa Frans? Apakah dia dulu pacar Alisa. Inikah ayah Kevin? Apa yang terjadi sampai dia perpisah dengan Alisa, padahal dia adalah lelaki baik yang sangat menyenangkan. Frans adalah lelaki baik yang pasti diinginkan setiap wanita untuk menjadi pasangannya.

Meskipun ini bukan genre novel favoriteku, aku cukup menikmati saat membaca Till It's Gone. Aku mengagumi kemampuan Mbak Evi dalam merangkai cerita Till It's Gone. Flashback yang sering digunakan dalam novel ini bekerja dengan sangat baik. Ketegangan yang sering muncul di awal novel membuatku tidak ingin berhenti membacanya. Mungkin akan lain rasanya ketika naskah ini diceritakan dengan alur maju terus. Pasti aku tidak akan sepenasaran itu waktu membacanya. Alur maju mundur yang digunakan Mbak Evi semakin menyempurnakan cerita, sehingga novelnya semakin keceh badeh.

Tapi di antara kekecean yang aku sebutkan itu ada hal yang membuatku kecewa. Sebagai orang yang dimanja oleh teenlit dan chicklit yang selalu happy ending, ending nggantung di Till it's Gone ini cukup membuatku tidak puas. Seharunya dibuat jelas-jelas happy ending biar aku puas ketemu ending-nya. Hahahaha.. (Sapah guweh? #PLAK)

Oke, segitu saja dariku pemirsah, semoga membuatmu penasaran dengan novel Till It's Gone karya Mbak @KeziaEviWiadji, dan semoga Mbak Evi nggak kecewa dengan celoteh kacauku ini. Utang saya lunas ya Mbak. Hahaha.. Lain kali nulis chicklit ya Mbak

NB: Maaf ya BB ketinggalan di rumah, so nggak bisa menampilkan foto novel Till It's Gone padahal itu bagian yang paling aku suka dari psotingan ini seharusnya. Hahaha.. :))

Fiuh lega sudah memenuhi janji ('▿^)♉

September 9, 2013

Suatu Saat Pasti ke Sana

Sebagai manusia yang lahir, sekolah, bekerja dan memiliki rencana untuk hidup menetap di Jogja, aku memiliki beberapa tempat yang ingin aku kunjungi. Aku memang sangat mencintai dan mengagumi Jogja, tapi aku juga ingin menghabiskan sebagian kecil waktuku di temapt-tempat indah impianku. Meskipun kekagumanku pada tempat-tempat lain ini belum bisa membuatku ingin tinggal menetap di sana selama.   

4. Bandung


Aku tidak tahu sejak kapan keinginanku berkunjung ke Bandung ini muncul. Rasanya memang katrok karena sampai umur sekian aku belum pernah ke sana. Sepertinya keinginan ini muncul sejak aku kuliah atau lebih awal lagi? sejak SMA. Aku lupa. Yang jelas aku ingin ke sana karena banyak yang bilang Bandung adalah kota mode di Indonesia. Di sana banyak baju-baju bermerk yang murah. Aku memang sangat suka dengan baju dan mode, karena saat remaja sering tidak kesampaian hanya untuk membeli baju yang aku inginkan. Aku memang sangat suka dengan baju meskipun kalau dilihat dari penampilanku sangat tidak menunjukkan itu. Tapi membeli baju selalu memberiku kebahagiaan tersendiri.

Kalau 5-10 tahun yang lalu ada yang bertanya mana tempat yang ingin aku kunjungi? Maka Bandung adalah prioritas utama, tapi jika ditanya, maka saat ini maka Bandung menjadi prioritas ke 4 setelah beberapa tempat yang lain.

3. Karimun

Tempat yang ingin aku kunjungi berikutnya adalah Karimun. Karimun aku tempatkan di posisi ketiga, karena biaya ke sana lebih murah dari tempat-tempat lain yang ingin kukunjungi. Biaya yang tidak terlalu mahal membuat Karimun visitable. Karimun jadi tidak seistimewa posisi pertama dan kedua karena biaya lebih murah. Tapi posisi Karimun lebih tinggi dari Bandung karena rasa penasaranku pada Karimun lebih besar dari pada rasa penasaranku pada Bandung.

Keinginanku ke Karimun muncul sejak temanku kuliah kekeh mengajakku ke sana tapi tidak kesampaian karena waktu itu aku tidak punya uang dan temanku sibuk dengan urusan lain. Keinginanku ke sana semakin besar saat aku melihat foto beberapa temanku yang pernah ke sana. Keindahakan alamnya benar-benar membuatku jatuh hati dan penasaran. Berita bagusnya, aku sudah merencanakan pergi ke sana bersama teman-teman kosku. Kebetulan salah satu temanku tinggal tak jauh dari Karimun, tapi aku lupa di daerah mana, Kudus kalo nggak salah. 





2. Lombok
Aku memiliki keinginan untuk berkunjung ke Lombok sejak teman kuliahku (orang yang sama yang mau mengajakku ke Karimun) memamerkan liburannya ke Lombok dan menceritakan betapa indahnya tempat ini. Kalau dilihat keindahan alamnya, sepertinya Karimun dan Lombok pasti sebelas duabelaslah, tapi karena biaya ke Lombok jauh lebih mahal jadi Lombok terasa lebih istimewa daripada Karimun. Maunya sih malah Lombok jadi tempat honey moon-ku. Wkwkwkkw… ngimpi banget nggak sih? Tapi nggak papa ya, mimpi kan masih gratis. :p

Saking pinginnya pergi ke Lombok, aku pernah mengumpulkan foto pemandangan Lombok dari internet banyak sekali. Sayang, foto itu tersimpan di laptop-ku jadi aku tidak bisa pamer ke kalian. Saat belum lulus kuliah, aku dan temanku (bukan yang mengajakku ke Karimun) pernah berencana ke sana sebelum kami menikah. Sayangnya temanku ini menikah justru sebelum dia lulus. Waktu itu aku sempat marah padanya karena dia melupakan mimpi berdua kami, tapi dia sempat mengatakan dia tidak lupa dengan janjinya dan masih ingin pergi ke Lombok bersamaku. Entahlah, sepertinya itu hanya mimpi masa lalu yang mungkin sudah dia lupakan, tapi bagiku, aku tetap memendam rasa ingin ke sana (hallah) meski tidak bersamanya.

Ini beberapa foto yang aku ambil dari internet selama istirahat makan siang di kantor. :)












1. Jepang
JEPANG. Yes, dari kecil aku sangat mengagumi negeri ini, terutama pada budaya, etos kerja, dan tekonologinya. Aku mengenal jepang dari cartoon dan juga Dorama-nya. Aku memimpikan pergi ke Jepang mungkin sudah sejak kecil, mungkin sejak SMP. Aku ingin berkunjung terutama di Tokyo sebagai pusat kotanya dan Kyoto, karena banyak yang bilang jika ingin mengenal Jepang datang saja ke Kyoto. Kyoto adalah sister city dari Yogyakarta, sama-sama sebagai kota kebudayaan dan pernah menjadi ibu kota sementara waktu. Biaya ke sana yang tidak sedikit menjadikan Jepang tempat yang seperti mimpi dan juga obsesi tertinggiku. Tapi aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat aku memang akan ke sana.














Dan ada satu tempat lagi yang sangat istimewa yang ingin aku kunjungi yakni Mekah. Meskipun Mekah tidak berada di dalam list itu, tapi niatku untuk ke sana jauh lebih kuat dari tempat mana pun. Bahkan aku punya rencana lebih matang untuk ke sana dari pada tempat lain. Jika ke Bandung, Karimun, Lombok, dan Jepang adalah sebatas keinginan duniawi, maka ke Mekkah lebih serius untuk urusan akhirat.

Thanks buat teman-teman @PenaMerah yang membuatku mengingat kembali mimpi-mimpiku. Ini membuatku bersemangat untuk mewujudkannya. Ingatkan saya juga untuk menjadi kaya dan medeka secara finansial. ^^9

September 4, 2013

Tentang Perasaan yang Entah

Aku kembali dilanda perasaan tak tentu ini. Perasaan sedih, perasaan merasa tak berguna dan entah apa ini. Mungkin aku terlalu banyak dosa, terlalu tak terampuni sampai aku belum bertemu dengan jodohku sampai umur sekian ini. Mungkin aku pernah menyakiti hati orang lain tanpa aku sadari hingga akhirnya Allah menghukumku seperti ini. Mungkin aku terlalu malas berubah, mungkin sikap dan perbuatanku membuatku tak pantas menjadi istri. Mungkin aku tidak bisa menjadi istri yang baik. Mungkin aku terlalu kurang ajar sebagai perempuan. Mungkin aku tidak bisa diberi tanggung jawab lebih besar. Mungkin aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Mungkin aku masih egois. Mungkin emosiku belum stabil. Entahlah semua hanya serba mungkin, aku tidak tahu pasti. Banyak orang bilang "pantaskan diri, maka jodoh akan datang dengan sendirinya" mungkin kata pantas itu belum aku sandang saat ini.

Yang jelas menjadi sendiri di usiaku sekarang ini bukan kemauanku. Dari dulu cita-citaku adalah menikah di usia 28 tahun, tapi ketika harapanku tidak bercapai aku tidak tahu kenapa, yang jelas itu bukan pilihanku.

Dan aku benci ketika orang menganggap kesendirianku adalah pilihanku, bahwa kesendirianku adalah sesuatu yang aku sengaja. Mungkin mereka mudah menemukan jodoh mereka, jika buatku tidak mudah bukan berarti aku terlalu memilih, bukan berarti aku terlalu menyeleksi mereka. Apakah aku harus mengatakan pada mereka bahwa belum ada seorang laki-laki pun yang mau menikahiku. Haruskah aku katakan kepada mereka bahwa "aku tidak laku"? Supaya mereka diam, supaya mereka puas, supaya mereka menutup mulut mereka?

Beberapa orang yang menganggapku pemilih (bahkan sebelum mereka mendengar pengalamanku) adalah orang yang juga pernah melakukan pemilihan. Aku tahu nyatanya mereka bukan orang yang mengiyakan setiap orang yang menembak mereka. Nyatanya mereka pernah menolak pernyataan cinta seseorang.

Dan seandainya pun aku pernah menolak seseorang apakah aku salah? Apakah aku terlalu pemilih? Menolak sekali dua kali tentu bukan sesuatu yang salah kan? Apakah di usiaku ini aku harus mengiyakan setiap pernyataan cinta dan ajakan pernikahan, atau menurut mereka aku sudah tidak boleh melakukukan penolakan? Apakah aku sudah tidak berhak mentakan tidk? Jika aku sudah tidak boleh melakukannya, apakah mereka akan bertanggung jawab jika kehidupan pernikahanku tidak bahagia? Tidak bisakah mereka mencoba menempatkan diri mereka di posisiku? Tak bisakah mereka membayangkan menikah dengan orang yang tidak mereka cintai?

Apakah menjadi single di usiaku artinya harus menerima siapa saja yang mengajak menikah? Apakah demikian anggapan mereka? Bukankah itu sangat menyedihkan? Menurutku itu lebih menyedihkan dibandingkan menjadi single di usiaku ini.








Entahlah, lagi-lagi aku sedang galau jodoh.

September 2, 2013

Yang Selalu Bikin Ngeces

Yuhuu.. Salam my blog's readers (semoga ada, aamiin). Hope you're healthy enough to read this blog, coz reading this post will reduce your energy. *uwopoh*

Postingan kali ini disponsori oleh tugas dari @penamerah yang mewajibkan kami menulis tentang makanan aneh atau makanan terfavorite yang pernah dimakan. Sebenernya tugas kali ini sungguh sangat rumit sekali *lebay*, karena semua makanan itu favoriteku dan favoriteku banget. Ahahahhaha... Tapi kalo suruh menceritakan makanan aneh yang pernah dimakan kok kayaknya hiyeks banget, nggak oke gimanaaa..gitu. Masak iya aku harus cerita kalo aku pernah makan laron goreng? Hiyeks banget nggak sih? Lagian kalo disuruh menceritakan tentang itu pasti postingannya cuma begini;

Makanan teraneh yang pernah kumakan adalah laron goreng. Waktu itu aku masih kecil banget entah TK atau SD, rasa laronnya pun aku sudah lupa. Tapi sepertinya cenut-cenut jijay gitu deh, dan sekarang membayangkannya rasanya malah geli.

Waktu itu kami penasaran dengan rasa laron goreng, gara-gara bapakku yang cerita tentang orang dulu jamannya simbah-simbahku sering makan laron. Akhirnya malam itu, di saat hujan yang deras itu, ibukku berinisitif menggoreng laron yang telah kami tangkap dengan ember berisi air.


Nah kan? Nggak oke banget kan? Mending juga cerita tentang makanan favorite, meskipun semua makanan itu favorite. Waktu tema ini diusulkan, sebenernya bingung juga, karena nggak ada makanan yang menurutku patut diceritakan. Ingat! Semua makan itu favoriteku dan favoritku banget. tapi sedetik kemudian aku langsung terbayang pizza nanamia. Hoehoehoe.. membayangkannya saja bikin ngeces. *brb ambil tisu buat lap cess*

Sebenernya bukan cuma pizza Nanamia aja sih, tapi pizza Il Mondo juga yang jadi favoriteku. Dua pizza ini jenis pizza yang rotinya tipiiiss dengan toping dan keju mozarela yang bikin lidah ngeces terus buwanyak *brb menenangkan hati dan lidah dulu*. So saat makan Pizza Nanamia atau Il Mondo, kamu bakalan ngerasain topingnya lebih banyak daripada rotinya. Kalo kamu makan di pizza H*t kan kamu kenyang duluan gara-gara rotinya yang setebal buku harry potter, kalau di Nanamia dan I'll Mondo beda, roti lebih tipiiisss lebih krispiii, karena lebih mengutamakan topingnya. Jadi rasanya lebih nikmat dan maknyus.

Satu porsi pizza pan besar harganya skitar 50-60 ribu dibagi dalam 8 slice, kalau di nanamia tersedia pan medium harganya sekitar 30-40 ribu dibagi dalam 6 slice, tapi di Il Mondo tidak menyediakan ukuran medium semuanya pan besar. Karena rotinya yang tipis jadi pizza ini nggak bikin kenyang. Tapi hati-hati aja, karena nggak mengenyangkan dan selalu enak dilidah kamu bakalan menghabiskan berpan-pan pizza. Hahahha.. entahlah kalau kamu, yang jelas aku dan teman-temanku begitu. Terakhir ke Il Mondo aku dan 2 temanku bisa menghabisnya 2 pan besar pizza, masih ditambah satu piring fetucini dan satu porsi roti bagel isi 4 iris. Wkwkwkwk. Begitulah kami adalah perempuan-peremuan kuat makan.

Mau liat penampakan pizza Il Mondo? Maaf nggak bisa ngeliatin pizza Nanamia, soalnya foto sudah nggak ada, eh nggak tahu sudah ilang apa dulu nggak difoto. Wkwkkwkw....

(ini dia penampakan Pizza Il Mondo, bikin lidah nggak tenang nggak sih?)
 

(bandingkan pan pizza itu dengan wajah teman-temanku, terlihat gede banget kan pizzanya?
tapi perut kami selalu muat menampungnya)


(nah, ini fetucininya. Nggak kalah enak, tapi aku lebih suka pizzanya)

(Kalau yang ini roti bagelannya. Nggak kalah lezat deh)

Nah segitu saja ya cerita tentang makanan favorite, yang jelas buatku makanan itu favorite semua, tapi kalau ada teman yang mau mentraktirku dan memintaku memilih tempatnya aku akan memilih Il Mondo atau Nanamia. Selain karena pizzanya yang lezat juga harganya yang mahal, kan lumayan kalo nggak bayar sendiri. Hahahaha.... See you in the next post.