November 2, 2022

Normal Nggak Sih?

Kadang aku mikir "normal nggak si aku?" 🀣🀣🀣

Karena aku kerja di rumah, aku jarang sekali ke luar rumah. Kadang seminggu aku bisa nggak ke luar rumah sama sekali. Paling banter nyapu di depan rumah aja. Normal nggak sih? hahaha.

Waktu masih ngantor pun sebenarnya aku jarang ke luar rumah, tapi karena harus ke kantor at least aku ke luar rumah dong ya. Waktu di rumah belum ada wifi aku sering ke rumah kakakku demi numpang wifi. Tapi sekarang ini di rumah sudah ada wifi, aku kerja dari rumah. Jadi aku sama sekali nggak pernah ke luar rumah. 

Belanja kadang kakakku, kadang ponakanku, seringnya ada yang datang ke rumah nyamperin dagangannya. Jadi otomatis seminggu bahkan dua minggu aku nggak ke luar rumah sama sekali. Aku nggak tau ini normal atau enggak yang jelas aku nyaman begitu 🀭



October 24, 2022

Inferior Kompleks

Aku merasa pernah mengalami ini (inferior komplek), tapi tentu saja cuma diagnosa sendiri. Entah bener atau salah, tapi apa yang kurasakan itu nggak enak banget. Setiap hari rasanya nggak bahagia. Aku merasa sendiri, nggak punya teman dan rasanya hidupku nggak menyenangkan. Semua orang terasa meninggalkanku. Aku membenci hidupku dan juga takut akan masa depanku. Aku nggak bahagia waktu itu

Karena pernah merasa seperti itu, dan tahu bagaimana nggak bahagia dan menderitanya perasaan itu, aku nggak mau, orang-orang terdekatku atau teman-temanku merasakan hal yang sama. Mengalami apa yang kualami dulu. Aku nggak mau, karena itu sangat tidak membahagiakan. Karena hal itu membuat menderita

Aku berharap, teman-temanku selalu bahagia dan juga sehat. Aku juga berharap bisa menemani temanku saat dia merasa butuh teman. Tapi aku tidak tahu apakah keberadaanku adalah penyembuh atau pembuat luka. Semoga yang pertama. Aku juga nggak tau apakah saat merasa seperti itu mereka butuh teman atau enggak 😭😭😭 Tapi ya Rabb aku sungguh berharap mereka semua baik-baik saja

Ya Rabb, lindungi teman-temanku jauhkan mereka dari penderitaan jiwa dan raga. Aamiin



October 11, 2022

Hasrat pamer

Tau kan aku pernah kecewa karena prosentase komisi shopee affiliate diturunkan? Yang otomatis penghasilanku menurun. Walau alhamdulilah sampai tulisan ini diposting belum banyak perubahan dari bulan sebelumnya, (mungkin karena masih ada sisa pesanan dari bulan lalu) tapi setelah kejadian ini aku justru lebih santai, lebih tenang, lebih nggak ngoyo, nggak ambis dan sepertinya lebih bahagia. 


Saat komisiku besar aku sering gelisah komisiku akan turun (dan karena aku percaya LOA hal ini justru menarik yang kugelisahkan dan takutkan, yang akhirnya apa yang kutakutkan beneran mewujud). Ya memang ada saat-saat aku bahagia banget, selalu merasa melayang di atas awan, selalu merasa nggak percaya bisa punya penghasilan banyak banget, selalu bersyukur,  tapi di akhir-akhir itu aku lebih sering merasa khawatir dibanding bahagia. Aku juga jadi terlalu ngoyo sama target komisi. Aku merasa sangat bersalah ketika aku nggak promosi shopee affiliate karena ini akan mengurangi komisiku. Pokoknya hidupku nggak tenang, aku terfocus pada hasil komisi dibanding menikmati kegiatannya. Posting instagram jadi nggak semenyenangkan dulu. 


Dan hari ini aku sadar, setelah komisiku tak sebanyak dulu, hasrat pamer kekayaanku ternyata juga menurun. Ya iyalah,, apa yang mau dipamerkan? Wkwkwkw.. Ya tapi kan tetep harus disyukuri, daripada sudah nggak berpenghasilan banyak, tapi masih pengen pamer kejayaan masa lalu. Ya kan?


Jujurly, ketika penghasilanku buwanyak dan melimpah, kadang aku punya keinginan untuk memamerkannya. Ini lho penghasilanku segini, ini lho aku mampu beli ini, itu, anu, ana, uni, bla bla bla. Kalau kamu nggak merasakannya, itu karena aku berusaha menahannya. Saat itu aku juga merasa nggak mau kalah sama orang lain, terutama dalam hal kekayaan, walau aku belum sempat melakukan apa-apa, tapi terbersit keinginan untuk diakui "memiliki banyak penghasilan".


Aku juga berkeinginan punya kendaraan roda empat, bukan karena butuh, tapi karena pengen diakui "orang berpunya". Aku pengen beli, meskipun "hanya" (mungkin bagimu hanya tapi bagiku ini pencapaian besar) mampu membeli mobil second, tapi untungnya aku masih bisa menahannya. Aku lebih memilih menabung (mungkin) buat buka usaha atau buat modal nikah (biar nggak menyusahkan orang tua), atau modal membesarkan anak. 


Demikian cerita sangat pentingku, semoga kita semua selalu bahagia, apapun yang terjadiπŸ’•πŸ’•πŸ’•

September 19, 2022

Rewangan (part 2)

Ahamdulillah, akhirnya aku terbebas dari hari-hari yang melelahkan secara fisik dan mental itu. Bagi beberapa orang mungkin rewangan hanya melelahkan secara fisik saja, tapi bagiku ini melelahkan fisik dan juga mentalku. Setiap saat aku harus memperhatikan perilakuku dan juga perkataanku. Salah sedikit bisa menjadi gosip yang berkepanjangan dan nggak akan pernah dilupakan oleh banyak orang. 

Di rewangan aku juga selalu was-was akan mendapatkan kritik dan juga kata-kata kasar dari orang lain. Aku juga takut tersakiti karena aku salah melakukan sesuatu yang nggak aku sadari lalu kena omelan. Aku sudah beberapa kali kena di beberapa rewangan yang sudah-sudah. Tapi alhamdulilah, kali ini aku nggak mengalaminya. Aku amat sangat bersyukur akan hal itu.

Bisa dibilang di rewangan kali ini aku sukses besar. Aku bangga sama diri sendiri. Kamu hebat fatkah, makasih buat kerja kerasmu. Kini mari menjalani hari biasa yang bahagia, dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, karena hari-hari berat itu sudah berlalu. Aku bangga padamu. Terima kasih banyak. Kamu hebat, kamu keren, kamu membanggakan. Aku sayang kamuuuu



September 14, 2022

Rewangan

Suatu ketika aku pernah bilang ke temenku kalau aku nggak suka rewangan. Dan dia kayak nggak suka dengan apa yang kukatakan. Dia bilang "jangan gitu, rewang kan cuma gantian". 

Aku tahu kebanyakan orang nggak suka ke rewangan, kenapa juga harus berbohong & mengatakan kalau mereka suka dengan itu? Toh aku nggak suka tapi aku tetap datang dan melakukannya dengan sebaik-baiknya. Tapi iya, orang-orang memang membohongi dirinya sendiri dan orang lain dengan mengatakan suka rela dan gantian. Kalau aku nggak suka, tapi rela melakukannya. Nggak suka karena aku harus berbasa-basi dengan banyak orang dan harus menyadari nilaiku di mata mereka. Tapi rela karena sadar bahwa suatu saat aku juga membutuhkan bantuan mereka. Aku tahu asas gotong royong memang demikian

Bukankah pernyataan tak sukaku ini hanya seperti bilang "aku nggak suka sekolah"? Nggak suka sekolah bukan berarti nggak mau sekolah, bukan berarti nggak melakukan yang terbaik juga saat sekolah. Hanya saja nggak suka

Demikian unek-unek anehku. Kutulis karena beberapa hari ke depan aku harus rewang dan aku sudah merasa khawatir sejak beberapa minggu lalu πŸ˜‚ 



September 13, 2022

Beda sudut pandang

Tanggal 2 September 2022 aku di-prank sama salah satu RM (Relationship Manager) shopee. 

Awalnya di telfon Mbak RM bilang gini "kan selama ini komisi cuma 2,5% ya kak, mulai oktober nanti komisinya kakak jadi 5%" 

wow melambung tinggi harapanku, membayangkan pundi-pundi uang ditransfer ke rekeningku. Aku senyum-senyum kesenengan sambi bilang "alhamdulilah"

habis itu dia bilang gini "seneng ya kak ya? Mulai optimis ya?" Dan itu ku-iyakan dengan penuh bahagia. Sayangnya dia belum melemparkan BOM yang sesungguhnya. Setelah itu dia bilang gini lagi:

"jadi 5% itu untuk yang membeli produk yang kakak promosikan. Jadi misal kakak promosi produk A dan dia membeli produk A atau membeli di toko A maka kakak akan mendapatkan komisi 5%. Tapi jika dia beli di luar produk yang kakak promosikan maka kakak hanya akan mendapatkan 1%" 

Jadi sesungguhnya ini bukan kabar gembira tapi kabar duka. Karena komisiku bakalan turun dari 2,5% ke 1%. Kenapa aku (dan juga shopee affiliate yang lain) memandang ini kabar duka, karena kebanyakan komisi yang kuhasilkan adalah dari pembelian lain. Bukan pembelian produk yang aku promosikan

Aku nggak tau kenapa Mbak RM waktu itu bilang "kabar gembira" dan menyebutkan 5% terlebih dahulu dibandingkan 1%-nya. Mungkin dia berusaha untuk memandang sisi postifnya dari kabar ini. Tapi ini seperti mengangkatku tinggi ke awan lalu menjatuhkanku dari sana. Beda kalau seandainya dari awal dia bilang komisi akan turun 1%, mungkin aku nggak bakalan merasa dikhianati dan diprank.

Mbak RM juga nggak tau kalau kebanyakan pesanan itu dari luar produk yang kita tawarkan. Tapi meskipun demikian aku selalu berusaha untuk sungguh-sungguh menawarkan dan berusaha untuk menggiring orang belanja ke shopee. Bukan kayak orang-orang yang curang yang hanya "asal orang klik link yang kuberikan".

Berita ini so sad, tapi GPP lah ya, menaikkan dan menurunkan komisi tentu saja haknya shopee sepenuhnya. Numpang nyari rejeki nggak bisa protes. Kalau suka lanjut aja, kalau nggak suka tinggal berhenti kapan-kapan. Aku juga sudah memprediksikan kalau kedepannya akan semakin sulit karena saingan dengan affiliate lain makin berat, dan juga kejenuhan dari followersku sendiri

Untuk saat ini aku sudah bisa menerima berita ini dan juga sudah legowo. Aku juga sudah bisa melihat sisi positifnya. Aku juga mulai mencari peluang lain untuk monetized akunku. Do'akan semoga aku baik-baik saja dan juga bisa menemukan cara untuk monetized akun instagramku



August 29, 2022

Ternyata Aku Belum Sembuh

Sudahkah aku bercerita di sini kalau aku tuh pernah mengidap inferior komplek? Rasa rendah diri yang besar hingga bisa membuat merasa nggak berguna, suudzon sama orang dan kehidupan yang nggak membahagiakan. Kata temenku "itu depresi" walaupun ketika mendengarnya agak menakutkan bahasanya, tapi iya, aku mengakui hal itu. 

Dan sekarang ini aku sadar bahwa ternyata aku tuh belum sembuh. Sekitar tahun 2019 atau 2020 aku merasa aku sudah mulai sembuh tapi ternyata belum dan saat ini aku menyadari bahwa waktu itu masih parah. Kok aku bisa tahu? Karena ketika aku mengingat masa itu, aku ingat saat itu aku mudah tersulut emosi. Tersulutnya emosi ini bukti bahwa aku masih belum bahagia. Saat ini emosiku sudah membaik, sudah nggak terlalu mudah tersulut emosi, tapi aku merasa aku belum sembuh total.

Iya, aku menyadari bahwa aku itu belum sembuh total. Aku sudah bahagia. Aku sering sangat bahagia dan merasa penuh, namun terkadang inferior komplek itu datang, terutama setelah aku harus berhadapan dengan orang banyak di desaku.

Namun yang lebih baik dari tahun-tahun lalu adalah, saat ini aku memiliki teman-teman yang jauh lebih baik. Teman-teman yang bisa kuajak berbagi waktu dan juga pikiran. Teman-teman yang bisa lebih sering kuajak ketemuan dan yang menyadarkanku bahwa aku berharga dan juga dicintai.


Bukannya dulu aku tidak memiliki teman-teman seperti ini, namun kadang mereka punya kesibukan sendiri, susah untuk kutemui. Dan aku juga tidak membuka diri untuk pertemanan yang lebih baik dengan teman lama. Aku juga melupakan salah satu teman lama yang sebenarnya dari dulu baik dan sevibrasi. Ntah kenapa aku bisa melupakannya. Waktu kemarin kami ketemu lagi dia sempat bilang "kok kita bisa saling melupakan sih mbak?" wkwkwkwk.. aku mengiyakan dan kami pun tertawa. 

Dulu memang aku terlalu terpatok pada beberapa teman baik saja (sampai saat ini pun masih baik namun jarang memiliki waktu bersama). Sehingga aku merasa ditinggalkan. Hal ini membuatku merasa sendiri, nggak dicintai dan nggak berharga. 

Lalu keluargaku gimana? Tentu mereka nggak tau dan nggak menyadarinya, tapi mereka adalah korban kegalakanku. Mereka tahunya aku galak saja. Dan entah kenapa keberadaan mereka nggak bisa menjadi penyembuh lukaku. Mereka nggak melukai, namun bukan penyembuh juga


July 30, 2022

Kadang-kadang aku berpikir...

 Kadang aku kepikiran, 

"temanku merindukanku nggak ya?", 

"dia (seorang teman) yang kurindukan itu juga merindukanku nggak ya?", 

"sebenarnya dia seneng nggak si kalau aku ajak ketemuan?", 

"dia juga refresh nggak sih kalau ketemu aku? jangan-jangan malah tambah setres"



July 1, 2022

Lagi-Lagi tentang Pernikahan

 Hari ini dikasih kabar yang kurang menyenangkan sama temenku, tentang temenku yang lain yang sepertinya sedang bermasalah dengan kehidupan pernikahannya. Dan sepertinya memang demikian karena temenku yang sedang kami bicarakan ini pernah sedikit curhat denganku. Dan tiba-tiba aku merasa aku bersyukur dengan posisiku yang masih sendiri ini. Dengan posisiku yang masih menjomblo padahal di usia segini AKU BERSYUKUR. 


Dan seandainya aku disuruh memilih, menikah tapi kondisinya seperti temenku ini atau masih jomblo, jelas aku akan memilih menjadi jomblo. Aku nggak akan kuat menjadi temenku. Aku lebih bisa menanggung omongan orang tentang kejombloanku seberapapun menyakitkannya itu daripada berada di posisi temenku yang aku tidak tahu nyinyiran seperti apa yang dia terima. Bahkan mungkin nyinyiran dari orang-orang yang seharusnya menjadi tempat dia bergantung dan mendapatkan kebahagiaan

Aku hanya berdoa semoga dia baik-baik saja dan segera menemukan kebahagiaannya

June 25, 2022

Kehidupan Fanatismeku: Pergaulanku di Antara Para K-poper (bagian 2)

Jadi gengs, ketika sekarang teman-temanku mengidolakan para k-pop idol dan berusaha untuk meracuniku, aku ngerasa nggak tergoda. Bukan karena merekanya jelek, tapi kayaknya nggak ada darah fanatisme yang mengalir dalam darahku. Wkwkwkwk. Pernah ngefans sama duta aja cuma kurang lebih 1 tahun. Kemudian setahun kemudian aku sudah lupa pernah ngefans sama dia. Diajakin ngobrol tentang Duta malah bingung. Wkwkwkw


Aku tahu mengidolakan dan ngefans sama idola itu seru, bikin berbunga-bunga dan bahagia, tapi juga bikin sedih dan juga kepikiran. Mirip bangetlah sama jatuh cinta. Mengidolakan artis atau idol juga bisa bikin ambisius, bikin semangat dan punya banyak tenaga. Tapi ntah kenapa aku nggak pernah tertarik. Seberapa sering dan gettol mereka membicarakan idola mereka aku nggak tertarik. Dan aku nggak mau pura-pura tertarik hanya demi menyenangkan teman-temanku.


Karena alur fanatismeku sama Duta itu dari mencintai lagunya dulu baru bandnya lalu ke duta-nya, jadi aku berpikir bahwa mejadi fans idol k-pop itu juga begitu. Masalahnya sudah sekitar 7-5 tahun belakangan ini aku jarang mendengarkan music, baik musik barat maupun music korea. Akhir-akhir ini aku memang mendengarkan music lagi, tapi hanya untuk lagu yang liriknya punya affirmasi bagus. Karena itulah kurasa aku nggak pernah ngefans sama idol baik kpop maupu idola manapun. 


Kadang aku memang jatuh cinta sama artis korea, biasanya karena drakor yang aku tonton, tapi seiring berjalannya waktu biasanya cintaku memudar. Cinta sama mereka pun nggak sampai yang ngefaaannnsss banget sampai bisa membuatku ambis dan bersemangat, kayak teman-temanku yang mengidolakan idol-nya. Hanya sekedarnya saja, pengen posting fotonya di feed ig, udah gitu aja. Habis itu beberapa bulan kemudian aku sudah lupa. 

Serius aku bahagia untuk teman-temanku ini, karena mereka punya penyemangat hidup. Kadang aku juga merasakan kegembiraan mereka ketika melihat kebahagiaan mereka, tapi kalau aku harus ke dunia fanatisme itu kok kayaknya susah. Hehehe...

Tapi aku tetep sarangheyoooo...


Kehidupan Fanatismeku: Kenangan ketika remaja (bagian 1)

Seingetku aku jarang mengidolakan penyanyi. Pertama dan terakhir kali mengidolakan penyanyi itu ngefans sama Duta Sheila on 7 di saat kelas 3 SMA dan berakhir saat aku kuliah entah semester pertama atau kedua (jadi nggak lama hanya 1 atau 2 tahun ngefansnya). Gegara kecewa dia punya tattoo. Wakakakakak... absurd banget. Waktu itu mikir kalau dia jadi suamiku nggak mugkin dia jadi imam dong orang bertatto itu. Emang fans nggak tau diri sih ya. Padahal saat itu aku juga sadar sih nggak bakalan nikah sama dia juga, tapi ntah kenapa waktu itu rasanya kecewa banget dan akhirnya memutuskan tali perfansnan (uopoh). Ya Allah, kalau diingat-ingat ternyata aku punya kenangan konyol macam beginian. Padahal beberapa jam lalu aku nggak ingat pernah punya kenangan konyol macam begini.


Ngefansku sama Duta itu beda dari yang lain sih. Waktu itu kebanyakan teman-temanku ngefans sama westlife dan aku ngefans sama produk lokal. Bahkan waktu tabloid fantasy mengeluarkan edisi khusus westlife aku sama temenku yang notabene adalah fans getol westlife sengaja inden (pre order) tabloid fantasy edisi khusus ini (temenku yang lain pada nitip PO juga, aku pesen kalau nggak 8 atu 10 tabloid). Temanku yang fans berat ini tentu saja pengen punya koleksinya. Kalau aku hanya karena alasan, prediksiku tabloid itu bakalan sold out dan langka. Jadi bakalan banyak yang nyari tapi susah, jadi aku bisa menggunakan poster-poster westlife untuk ditukar dengan posternya duta atau pun sheila on 7. Ya Allah ngomongin ini aku jadi inget drama Reply 1997, dan sadar betapa jadulnya saya.


Di tahun 90-an itu dulu ada majalah aneka yess dan mereka punya kolom khusus untuk barter. Jadi para pembaca mengirim surat ke majalah lalu menginfokan dia punya barang apa aja dan ingin dibarter dengan apa. Biasanya yang dibarter adalah barang-barang remeh-temeh (sekarang sih remeh temeh, waktu itu semua terasa harta karun) macam poster. Misal si A kirim kolom ke majalah, menginfokan memiliki poster westlife dari majalah ini dan mau ditukar dengan segala posternya Sheilla on 7. Aku sih belum pernah mengirim kolom ini ya, tapi waktu itu aku berencana seperti itu. Mau menukar koleksi poster westlife dengan poster sheila on 7. (BTW aku jadi kepikiran, gimana kalau ternyata ada tindak penipuan. Misal si A sudah kirim tapi ternyata si B hanya bohong dan nggak ngirim. Kan koyol banget, ini aku baru kepikiran sekarang. Waktu itu sih enggak. Aku juga nggak tau waktu itu mekanisme barternya seperti apa. Kayaknya by phone dulu lalu dikirim by pos) 


Waktu itu aku nggak kirim kolom ke aneka yess karena sudah banyak temen-temenku yang bersedia untuk menukar koleksi westlife-ku dengan koleksi poster Sheilla on 7 mereka. Seperti dugaanku banyak yang nggak dapet tabloidnya. Jadi ibarat barter aku menang banyak, bisa memilih poster mana yang aku suka. Waktu itu ada teman bilang "sayang banget westlife ditukar sama sheilla on 7". Bagiku westlife nggak ada artinya, tapi sheilla on 7 (bukan segalanya tapi) aku suka bangettt. Jauuuuhhhh lebih suka daripada westlife. Dan kalau kupikir sekarang, kok bias sih temenku itu nggak memahami sesama fans? ya nggak sih? berarti dan nggak berarti kan sangat subyektif ya?


Tapi waktu itu aku cukup menikmati kehidupan fanatismeku ini, karena aku jadi dekat dengan teman beda kelas yang juga mengidolakan sheila on 7. Bahkan kayak akrab banget gitu, yang ini cukup baru buatku waktu itu karena waktu SMA aku jarang bisa akrab banget sama teman sekolah.

Kehidupan fanatismeku ini sebenernya nggak terlalu aku ingat sih. Beberapa jam lalu saja aku lupa punya sebegini banyak cerita tentang ini. Ketika aku entah semester 3 atau 4 saja aku sudah lupa kalau pernah ngefans sama Duta. Waktu itu ada teman SMA ku yang nelfon dan dia membicarakan Duta Sheilla on 7, aku menganggap dia agak aneh, kenapa membicarakan duta di telfon. Setelah telfon ditutup, aku baru ingat kalau dulu kami pernah mengidolakan Duta bersama-sama. Hahahah.. konyol banget emang.







June 24, 2022

Impian

Mimpi punya suami yang mengerti duniaku itu terlalu muluk nggak sih? Suami yang bisa memahami dunia perkontenan atau dunia persosmedan. Eh kata the secret enggak sih ya, bisa gimana aja, pakai affirmasi aja. Huahahahaha... Makin lama keinginanku makin ngelunjak dan banyak. Kabulkanlah ya Rabb.

Semisal nggak ngerti nggak papa juga sih, yang penting dia mau mendengarkan ocehan dan bacotanku kalau aku lagi menggalau tentang media sosial kayak sekarang. Huahahahha...



June 17, 2022

Kubahagia Banget

 Yaampun gengs, aku bahagia banget. Soalnya hari ini aku mensetting keyboard baru untuk tabku dan berhasil. Awalnya nggak bisa, padahal kucoba di hp bisa tapi di tab nggak bisa. Setelah diubah ke settingan awal, baru bisa.


Di blog kali ini aku sudah mengetik pakai keyboard baru lhooo (penting banget ini pamernya) wkwkwkw πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†. Meja kerjaku sekarang juga jadi terlihat lebih aestetic. Doakan semoga aku bekerja lebih semangat dan lebih bahagia ya. Aamiin ya Lord

June 14, 2022

Teman karib

Ketika umurku dua puluhan akhir aku menyadari satu hal, terkadang teman yang kamu anggap teman karib tidak mengganggapmu teman karibnya. Dan teman yang kamu anggap teman biasa ternyata menganggap kamu teman karibnya. Lucu dan aneh ya? Bagiku ini lucu sih


Aku menyadari ini ketika ada seorang mbak kost yang kuanggap teman karibku, tapi ternyata aku tidak ada di dalam daftar teman karibnya. Aku lupa sih kejadian apa yang bisa membuatku berkesimpulan seperti itu, tapi kenyataannya begitu. Lalu ada juga teman yang kuanggap biasa saja bahkan aku sudah mengkategorikannya dalam "teman yang dulu kukenal". Tapi dalam kurun waktu yang agak lama dari pertemuan terakhir kami dia bilang "pengalamanku di dunia itu memang nggak banyak, tapi dari yang nggak banyak itu aku bisa memperoleh teman karib seperti kamu dan ... (dia menyebut salah satu teman kami)". Saat itulah aku sadar ternyata selama ini dia menganggap aku teman baiknya. Kuterhura mendengarnya dan saat itu aku berharap semoga aku tidak pernah mengindikasikan bahwa aku hanya menganggapnya teman biasa, karena ternyata itu cukup mematahkan hati. Dan semoga aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya


Jadi bertepuk sebelah tangan itu tidak hanya melulu urusan hati antara lelaki dan perempuan, tapi urusan (hati) pertemanan pun bisa saja terjadi. Dan karena kejadian itu akhir-akhir ini kadang aku bertanya-tanya ke diri sendiri "apakah dia menganggapku teman karibnya? Apakah dia masih menganggapku teman karibnya?" Ke beberapa teman yang kuanggap teman karibku. 







May 30, 2022

Tahun ke Tahun



Jika ada yang menyebut tahun, otomatis aku akan membayangkan saat itu aku sedang di masa apa. Misal jika ada yang menyebutkan tahun 2001, atau 2004 maka aku akan berpikir "oh saat itu aku sedang kuliah".

Namun sejak lulus kuliah (lebih-lebih sejak resign dari kerjaan terakhir) aku jadi  kesusahan untuk mengingat "aku ada di masa apa". Menyedihkannya lagi kadang aku memakai drakor untuk mengenang masa. Misal tahun 2016 adalah masa ketika goblin tayang. Mengingat kadang aku ngerasa nggak banyak kenangan dan juga terlalu banyak nonton drakor. 

Tapi setelah aku pikir-pikir sebenarnya banyak penanda dan kejadian besar yang aku alami setelah lulus kuliah dan juga resign. Dan dituliaan ini aku akan merangkumnya, sebagai pengingat untuk diriku sendiri, supaya nggak menjadikan drakor sebagai patokannya

❤️Tahun 2007 adalah tahun di mana aku lulus kuliah, memang lama 5,5 tahun baru lulus. Tapi alhandulilah lulus. Tahun 2007 aku kerja sebagai enomerator ikut SAKERTI. 
❤️Tahun 2008 kayaknya masa-masa nyari kerjaan. Aku lupa tahun itu apakah aku ngenum lagi atau enggak
❤️Tahun 2009 ketika aku dika dan rizka mau memulai usaha dan bikin kedai bareng. Akhirnya bikin kedai bareng beneran bareng si mboo juga. Sampai akhirnya bubar kalau nggak salah 2010
❤️Di tahun 2009 ini juga kayaknya aku kerja jadi asisten peneliti di PSAP. Sepanjang sejarah ini adalah pekerjaan paling menyiksa yang aku alami. Kayaknya aku di psap sampai 2010 juga.
❤️Lalu tahun 2010-2011 (atau mulai 2009 ya lupa) adalah tahun ketika aku mulai kuliah di EEC tapi hanya bertahan 3 semester itupun ijazah nggak aku ambil. Wkwkwk
❤️Tahun 2011 (bulan mei) akan aku ingat sebagai tahun aku masuk di Leutika. Bertahan kerja sampai maret 2015
❤️Tahun 2016 adalah ketika aku sibuk ngembangin usahaku @hijabnaziha sampai tahun 2018
❤️Tahun 2017 akan kuingat sebagai tahun ketika aku berusaha untuk mempertahankan hijabnaziha, bahkan sempet mencari ilmu ke magelang PP kulonprogo magelang naik motor. Ini tahun-tahun aku beneran bokek. Ikut kelas ini bayar 7juta kalau nggak salah. Hutang adekku sekitar 2 jutaan.
Tahun 2017 sepertinya aku mulai mengalami inferior komplek
❤️Tahun 2018 aku kuingat sebagai tahun ketika aku dibayari umroh sama mr brother. Juga tahun aku dibeliin hp sama mr brother
Tahun 2018 aku juga ikut kelasnya richohuang yang dropship aja dan mulai jualan casing. Kalau nggak salah ingat aku mulai diet tahun 2018. Ini tahun ketika aku berjuang untuk sembuh dr inferior komplek
❤️Tahun 2019 masih jualan casing, lalu kalau nggak bulan juni atau juli aku mulai ikut kelasnya richohuang yang #21harikuliahig dan serius ngembangin akun instagram. Ini inferior komplek nasih ada tapi sudah better
❤️Tahun 2020 aku masih jualan casing tapi kayaknya cm sampai bukan februari habis itu memutuskan berhenti dan mulai serius mencari cuan dari akun ootd. 


Tahun 2020 (bulan juni) adalah tahun ketika ibukku masuk rumah sakit karena keracunan uap byclean 😭😭 dan selama tahun 2020 sampai akhir 2021 aku tinggl bareng mr brother. Inferior komplekku masih belum sembuh total tapi sudah jauh jauh lebih baik. Akhir tahun 2020 aku nerbitin buku bareng temen-temenku
❤️tahun 2021 adalah tahun aku mengenal shopee affiliate. Kalau nggak salah aku daftar bulan mei/juni, mulai promsi sedikit bukan juli, lalu ibukku kena corona nggak sempet ngurusi ig apalagi affiliate. Aku baru aktif ngafiliate bulan september. Penghasilanku mulai menbaik dan self esteem ku juga mulai membaik. Kalau nggak salah bulan desember aku mulai pulang dan tinggal di rumah lagi. Desember aku mulai membaca buku the secret lagi. Karena penghasilanku sudah alhamdulilah lebih dari cukup dan self seteemku juga membaik, aku merasa aku sudah sembuh dari inferior komplek
❤️tahun 2022 masih sampai mei, yang jelas aku bahagia. Sekarang aku bisa bilang aku bahagia. Aku seneng bisa jajan jajan lagi ke cafe karena corona sudah berakhir. Aku menikmati ketemu temen-temenku. Akan aku update apa yang terjadi padaku di thun 2022. Barangkali aku menikah tahun ini, yakan?

Ini hanya sebatas ingatanku, akan aku update kapan-kapan kalau aku nemu fakta lebih detail


May 21, 2022

Perasaan...



Perasaan tulisan orang lain itu temanya dewasa dan informatif. Kok blogku tulisannya nggak dewasa dan curhat sekali? Walau kadang minder, tapi nggak papa, toh aku menulis untuk diriku sendiri, semacam surat untuk diriku di masa depan. Buat yang rajin memantau blogku, terima kasih banyak dan semoga kamu bahagia



April 5, 2022

Resign: Memilih Kerja di Rumah


Pagi ini aku membaca buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat yang ditulis oleh Mark Manson. Di dalam buku ini Manson sedikit bercerita alasan kenapa dia memilih berwiraswasta dibanding menjadi pekerja kantoran. Alasannya adalah karena dia tidak suka disuruh-suruh. Lalu aku teringat banyak orang yang ingin mejadi wiraswastawan karena alasan ini. Banyak sekali. Kok tau? Karena alasan berwiraswasta sering ditanyakan oleh motivator bisnis dan jawaban seperti itu sering banget muncul. 


Lalu aku bertanya-tanya dan mengingat-ingat, apakah ini jadi alasanku juga? Ternyata tidak. Aku tidak pernah merasa terbebani atau benci ketika disuruh-suruh jika itu urusannya dengan pekerjaan. Aku benci disuruh-suruh tapi untuk urusan lain. Lalu kenapa aku memilih untuk bekerja di rumah dibandingkan menjadi pekerja kantoran?



Aku adalah pecinta film, sejak aku kecil. Dulu ketika aku bercita-cita sebagai mbak-mbak kantoran aku selalu membayangkan jadi mbak-mbak kantoran seperti di film-film. Kayaknya asyik banget. Begitu juga dengan nongkrong habis pulang kantor bareng temen kantor. Terlihat menyenangkan dan sangat film. Tapi herannya aku nggak pernah bercita-cita jadi PNS karena nggak ada film yang menggambarkan PNS itu seru dan asyiik (yang bagiku saat ini sangat aneh karena aku pernah mengalami inverior komplek karena ini). Memang begitulah aku, dramatical sekali. Wkwkwkw... Lalu kenapa akhirnya aku memutuskan bekerja di rumah? Sejujurnya nggak ada alasan yang terlalu jelas, tapi aku mau flashback (flesbeekkk cuyyy) ke saat aku akhirnya memutuskan resign. 



Di suatu pagi yang teramat cerah saat aku berangkat kerja, saat itu aku sudah sangat jenuh dengan statusku sebagai pekerja kantoran, lalu aku bertanya pada diri sendiri "ini mau sampai kapan begini? naik motor ke kantor pulang pergi, lalu duduk di kantor dari pagi hingga sore dengan gaji yang sebegitu-begitu saja. Mau sampai kapan? Apakah aku bisa melakukan ini 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, 15 tahun, 20 tahun atau sampai sisa hidupku? Ini aku masih single besok kalau punya anak masak iya mau ditinggal-tinggal terus? Terus kalau gajiku segini-gini aja kapan aku beli tanah impianku? Kapan aku kaya raya?" Karena jawabannya tidak, aku tidak bisa melakukannya 10 tahun lagi maupun di sisa hidupku, dan karena menjadi mbak-mbak kantoran sepertinya tidak akan bisa membuatku membeli tanah impian, jadi aku berpikir resign adalah hal terbaik. Selain karena alasan boyok yang sudah mulai tidak bersahabat. Waktu itu setiap pulang kerja aku salalu kesakitan di bagian tulang belakang.



Lalu lagi-lagi aku membayangkan mbak-mbak yang kerja di mana saja, di mall, di cafe dengan sangat aestetic kayaknya sangat menyenangkan. Menyenangkan dan film sekali (wkwkwk). Belum lagi membayangkan memiliki waktu yang fleksibel, bisa main ke cafe atau mall kapan saja tanpa menunggu pulang kerja atau weekend, dan ada kemungkinan memiliki lebih banyak uang. Semua jadi terasa masuk akal untuk resign dan memulai wirausaha. Karena wirausaha itu sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Iya kan? Jadi saat itu aku memutuskan resign.


Sebenarnya resignku waktu itu terbilang nekat sih, karena waktu itu aku belum tau mau jualan apa, aku hanya resign begitu saja tanpa planning matang. Tapi aku cukup bangga dengan diriku sendiri waktu itu, karena aku berani banget untuk resign dan keluar dari zona nyamanku. Nggak semua orang berani lho memutuskan resign atau sekedar memulai bisnis (aku kenal yang begini). Nah ini aku melakukan keduanya sekaligus. Aaahh, aku memang membanggakan. Peluk diri sendiri. 


Lalu apakah sekarang sudah sukses berwirausaha? Hahahaa.... Awalnya wirausahaku lancar, penghasilannya bagus, tapi lama-kelamaan sepi dan akhirnya tumbang. Meski demikian aku tetap bangga dengan diriku sendiri, karena aku bisa menemukan apa yang kujual dan bahkan bisa laris. Karena bangkrut kayaknya aku mengalami inverior complex. Apa aku menyesal? Nggak sama sekali, aku tetap bangga sama diri sendiri


Lalu sekarang gimana? alhamdulilah aku masih bekerja di rumah, sekarang sebagai affiliator, yang alhamdulilah penghasilannya jauh di atas gajiku maupun penghasilan saat wirausaha. Tanah impian gimana? Belum kebeli sih, ehehehe, dan tanah itu bukan lagi tanah impian. Tapi yang jelas sekarang aku lebih bahagia, boyokku masih sering sakit tapi nggak kayak dulu. Aku juga punya waktu yang sangat fleksibel, aku bisa memulai pekerjaan kapan saja dan berhenti kapan pun. Jam kantor dan juga libur aku yang menentukan. Sebentar lagi aku juga akan sering-sering ke cafe buat bekerja bareng temen-temen. Bekerja bareng, bukan bekerjasama (beda ya). Pokoknya estetik kayak di drakor-drakor lah. Wuakakaka...


Jadi kalau kamu gimana? Memutuskan bekerja sebagai wirausaha karena apa? atau bertahan jadi pekerja kantoran karena apa? Kupenasaran deh, pasti seseru ceritaku juga

April 1, 2022

Kuberharap di masa lalu...

Kuberharap di tahun-tahun yang lalu aku lebih banyak menulis, sehingga aku bisa mengenali diriku sendiri lebih baik. Aku juga ingin mengenang pikiran-pikiranku di masa lalu, entah yang konyol maupun yang bijak. Aku ingin mengenang apa yang kuanggap penting saat itu dan sekarang sudah kuabaikan atau semakin penting untukku.



Aku ingin mengenang kesedihan di masa laluku kemudian memeluk diriku sendiri dengan bangga karena sudah berhasil melewati masa itu. Aku juga ingin mengenang kebahagiaanku di masa lalu, kemudian memutarnya lagi di hati dan kepala, untuk membuat diriku kembali bahagia lagi


Aku juga akan membandingkan diriku sendiri saat ini dengan masa lalu, dan aku yakin aku mengalami banyak kemajuan dan pendewasaan



Sebagai penutup, ingin kuucapkan ke diriku sendiri di masa depan:

Selamat malam diriku di masa depan. Kuharap kamu lebih bahagia dan sudah bertemu dengan jodohmu πŸ’•πŸ’•

March 27, 2022

Merindukannya

 Tiba-tiba tengah malam, aku merindukan menulis di blog ini. Merindukannya pun spesifik, menulis pakai laptop di meja kerjaku. Agak konyol sih, tapi mungkin aku juga merindukan mengetik di keyboard bukan di layar HP. 


Rasanya banyak hal yang ingin kuceritakan. Rasanya banyak hal ingin kucurhatkan di sini. Walau tidak akan ada yang membacanya. Walaupun tidak akan ada tanggapan apapun di sini. Tapi terkadang itu menyenangkan ketika suatu saat aku membacanya lagi. Itu seperti membaca surat untuk diri sendiri dari masa lalu


Sepertinya (tapi aku tidak berjanji) aku akan lebih sering menulis di sini. Setelah kubaca ulang, tahun 2021 aku sama sekali tidak menulis di blog ini. Bahkan aku benar-benar melupakan blog ini. 


Dan bagaimana kabarku di tahun 2022? masih sama seperti sebelum-sebelumnya, masih belum menikah. Masih menunggu dan juga mencari pangeran tampan yang baik hati dan bucin. Kabar baiknya, aku memiliki pekerjaan yang kuimpikan sejak dulu. Pekerjaan yang menyenangkan, yang bisa kukerjakan di mana saja asal ada internet dengan gaji yang alhamdulilah (bagiku sangat) besar. Kamu gimana kabarnya?