April 20, 2012

Surat Cinta Cewek Matre


Dear calon suamiku! Saat kita menikah nanti kamu pasti bisa membuatkanku rumah seperti ini.



Yang nyaman dan tenang


 Yang dikelilingi banyak pohon






Yang banyak fentilasi







So, tanpa AC pun rumah kita sudah sejuk.

***


Rumah dengan rak yang penuh buku, 





dan sofa yang nyaman, 










atau tempat bersantai yang asik




karena kamu tahu aku sangat suka membaca sambil bersantai. 


***



Rumah dengan tempat tidur yang luas dan rapi. 


Kamu kan tahu, aku kebo sekali.
***



Rumah yang pasti dilengkapi dengan Home Theater karena aku sangat suka nonton film. 



Pasti bisa  dipakai karokean juga, karena kamu tau aku penyanyi wanna be.


 ***

 
Yang ada kolam renangnya, 



karena kamu tau, aku hanya suka olah raga renang, dan kamu pasti ingin aku tetap sehat :D



 ***

Rumah dengan dapur yang sangat bersih, 








bukan karena aku rajin membersihkan, tapi karena kau tahu kan aku nggak bisa masak :D

***


Rumah dengan kamar mandi yang sangat nyaman. 




Kamu kan tahu aku tidak terlalu menikmati kegiatan mandi. Jadi kamu pasti ingin aku betah di kamar mandi.



 ***

Mungkin kita akan memiliki balkon atau atap seperti ini.







Tempat di mana ketika penat datang dapat kita gunakan sebagai rekreasi, sekedar ngeteh bersama sambil melihat gemerlap bintang malam.

***



 
Kamar anak perempuan kita mungkin kayak gini



 
Dan kamar anak laki-laki kita, mungkin kayak gini.



 
Tapi itu jika mereka mau, sebab kita kan nggak mungkin memaksa anak perempuan kita suka warna pink dan anak laki-laki kita suka warna biru. Bisa jadi sebaliknya. Tapi aku yakin kamu pasti sependapat denganku :)

***





Namun seperti apapun rumah kita kelak, bagiku tak masalah asalkan kita selalu bersama. Asalkan kamu selalu menyediakan tempat yang nyaman di hatimu untukku..


April 12, 2012

Miss My Friends


Kapan hari ketika temanku bercerita tentang kegilaan dia dan teman-temannya, tiba-tiba aku merindukan teman-temanku. Merindukan kegilaan dan kekonyolan yang sering kami lakukan bersama. Keputusan spontan yang sering berujung pada tawa. Kebersamaan yang sederhana namun sangat istimewa, yang sekarang jarang kami rasakan. I miss you friends.. :)



March 13, 2012

Feminism & Me

Aku nggak bilang diriku seorang feminis, dan aku juga nggak suka jika dibilang begitu, bukan karena menurutku mereka negative atau apa. Menurutku seorang feminis itu tindakannya lebih nyata, misalnya bergabung dalam kelompok feminis, ikut kampanye kesetaraan gender, membela hak-hak perempuan, dll. Aku hanyalah perempuan biasa yang tahu posisiku, dan tahu bagaimana seharusnya perempuan diperlakukan.

Aku memang tidak suka ketika ada seseorang yang mengkotak-kotakkan laki-laki dan perempuan. Apalagi sampai mengatakan bahwa perempuan itu harus begini, harus begitu, nggak boleh begini, nggak boleh begitu. Bahwa perempuan itu takdirnya menjadi nomor dua, harus patuh pada laki-laki (suami). Idih bullshit menurutku.

Sekarang silahkan cek KBBI, apa itu arti kata takdir? Menurutku hanya 3 hal yang ditakdir Tuhan untuk perempuan, yakni mengandung, melahirkan dan menyusui. Hanya 3 itu yang digariskan oleh Tuhan untuk perempuan, karena laki-laki tidak memiliki keistimewaan itu dan hanya 3 hal itu yang dibawa perempuan sejak lahir. Di luar itu, apapun yang didefinisikan tentang perempuan dan apa yang “seharusnya perempuan” adalah kontruksi budaya. Kontruksi yang sudah dicekokkan pada manusia sejak mereka masih kecil.

Anak laki-laki bermain dengan truk-trukan, perempuan main dengan boneka, anak laki-laki dikenakan pakaian berwarna biru, anak perempuan dikenakan pakaian berwarna pink. Anak laki-laki tidak boleh menangis, berjalan harus gagah. Anak perempuan berjalan harus lemah-gemulai dan lembut.

Dan ketika ada perempuan yang bersedia mengabdi pada laki-laki (suami), patuh pada laki-laki (suami) apakah saya membenci dan menganggap mereka bodoh? Tidak. Saya menggap itu adalah pilihan. Pilihan yang sangat mulia. Dan seharusnya laki-laki juga menganggap hal itu mulia, bukan “hal yang sewajarnya” dilakukan perempuan pada laki-laki. Ketika laki-laki menganggap itu adalah pilihan yang mulia, maka mereka seharusnya lebih menghargai perempuan.

March 9, 2012

Something Disappointing

Sudah 2 hari terakhir ini rasanya saya banyak kecewa dan mengecewakan. Saya kecewa sama seorang teman, saya kecewa sama diri sendiri dan saya mengecewakan teman saya.

Teorinya, kekecewaan terjadi ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Harapan kita terlalu muluk dibandingkan dengan kenyataan yang ada.

Misal orang kecewa sama gaji, karena dia berharap gajinya lebih besar dari kenyataan yang dia terima. Kita kecewa sama teman, karena dia tidak berperilaku seperti yang kita harapkan, saya mengecewakan teman karena mungkin pekerjaan saya tidak bagus, saya kurang ramah, atau saya yang terlalu galak, kita kecewa sama diri sendiri karena idealisme kita tentang ‘apa yang seharusnya kita’ tidak mewujud. Then, bum! It becomes a disappointed ting.

So, what we have to do? Ada dua cara menurutku. Mencoba berdamai dan menerima kenyataan yang ada, atau mulai mengusahakan harapan kita. Supaya harapan dan kenyataan menjadi satu garis lurus.

Jika kecewa dengan gaji, cara terbaik untuk menghilangkan kekecewaan adalah mencoba menerima/bersyukur dengan gaji, atau mengusahakan pekerjaan baru yang gajinya sesuai dengan harapan kita.

Tapi ketika kamu kecewa sama teman, tentu kamu tidak bisa membuangnya begitu saja dan menggantinya dengan yang baru. Yang bisa kita lakukan adalah menerima dia apa adanya, bertoleransi, atau pilihan yang lebih menarik adalah memukul kepalanya dengan sepatu dan bilang “hei, sikapmu menyebalkan, ubah itu!” Idealnya sih, ada komunikasi dua arah.

Dan yang terberat adalah ketika kamu kecewa pada dirimu sendiri. Sangat susah berdamai dengan diri sendiri. But we have to start learning, atau mulai mengusahakan ‘apa yang seharusnya kita’.

March 3, 2012

Omongan > Aksi

Sebenarnya saya paling benci pada orang yang membenci orang lain hanya karena alasan mereka berbeda. Misalnya: Orang membenci orang nasrani, hanya karena mereka berbeda agama. Orang muslim kolot yang membenci muslim liberal.

Dan tanpa saya sadari saya telah berada dalam dalam posisi itu, membenci orang karena mereka tidak menghargai orang lain (dan lebih sombongnya lagi saya merasa saya telah menghargai orang lain). Lalu apa bedanya saya dengan mereka? Toh saya belum bisa menghargai mereka yang bertoleransi rendah.

Saya juga paling benci sama mereka yang omong kosong doang. Sumpah, ini saya merasa benar-benar menjadi orang paling sombong sedunia. Tapi sungguh saya paling benci pada mereka yang bilang “itu produk kapitalis, kasian orang-orang miskin dan terpinggirkan, mereka akan semakin miskin”. Mentertawakan mereka yang suka main ke mall dan have fun di sana. Tapi beberapa hari kemudian mereka belanja di carefour, belanja di indomaret, dan maret-maret yang lain, beratus-ratus ribu rupiah. Hey! Mana antikapitalismu?

Apa salahnya main ke mall dan have fun di sana. Nggak dosa kok, toh nggak tiap hari juga kita ke sana. Dan saya sih lebih memilih untuk tutup mulut, tapi belanja di tetangga, di warung-warung kecil di sekitar kita, dari pada belanja ke alfamart hanya demi mengejar gengsi doang. Menurutku itu salah satu bentuk perlawanan terhadap kapitalis yang lebih efektif.

Aku juga paling benci pada orang yang sok feminis, but they don’t know about feminism at all. Mereka koar-koar but they know nothing. Kadang saya pengen bilang pada mereka “hey, baca buku ini dulu, sebelum ngomong kayak gitu”. Sombong banget nggak sih saya? Pengetahuan belum seberapa tapi gayanya sudah selangit. Pada intinya saya membenci orang yang ngomongnya lebih besar dari pengetahuan atau aksi mereka.

But, hey! Sapa saya men-judge mereka? Toh, saya bukan sapa-sapa. Saya hanyalah salah satu contoh manusia yang saya benci. Membenci atau menilai orang lain hanya karena mereka berbeda dari saya. 

January 17, 2012

Ponakanku dan si Neraka

Actually I prefer tell this story in bahasa Indonesia than bahasa Jawa. Tapi karena seperti yang saya pelajari dalam kelas Translation, kadang karena faktor budaya dan tidak equelnya sebuah kata, ada kemungkinan sebuah cerita berkurang lucunya saat diterjemahkan. So, saya memilih menceritakan ini dalam bahasa Jawa.


Waktu itu saya sedang duduk santai di depan TV sama ponakanku, yang namanya Mela. Mela ini meskipun cewek, tapi maskulinnya minta ampun. Kalau kata adikku "Mela ini tomboy sejak lahir". Yeah! tapi aku sepakat sama adikku. Waktu dia belum genap dua tahun, dia sudah bisa memilih bajunya sendiri, dan dia menolak mentah-mentah memakai rok dan baju-baju yang berbau pink. Ada beberapa baju yang bahkan tidak pernah disentuh, karena menurut dia baju itu "cantik". Dan kami-kami ini sering menyesuaikan seleranya ketika kami membelikan dia kado, bukan sesuatu yang "cantik" tapi sesuatu yang lebih "lelaki".

So, kebayang kan betapa thengil-nya dia? Waktu dia kecil aku sering memanggilnya konyil kucrit. Sebenernya sebagai bulik, ini kurang aja sih, karena memberi nama panggilan yang jelek, tapi banyak yang mengikutiku. Masku, adikku, ponakanku yang lain, dan beberapa temannya mela, juga memanggilnya konyil kucrit :D

Oke, balik ke cerita sore itu. Waktu itu aku sedang duduk santai di depan TV sama Mela yang saat itu umurnya masih 4 tahun sekian bulan. Aku sedang jengkel dengannnya karena suatu hal, maka aku berniat menakut-nakuti:

Aku: Nok, nek ngunu ki dosa lho.

Mela: nek dosa terus ngopo bulik? (sambil senyum-senyum jail, seolah tahu jawabanku dan dia sedang menyiapkan amunisi untuk menyeraangku)

Aku: nek dosa nyegur nroko (kataku menakut-nakutinya)

Mela : Munggah dewe (katanya puas bukannya takut, dan tak lupa menyunggingkan senyum kemenangan)


Oke, baiklah aku kalah. Nggak jadi marah, speachless aja.