August 26, 2013

Tentang Bapak


Yuhuuu, selamat sore semuanya! Kali ini aku mau bercerita tentang Bapak, sebagai tugas dari @PenaMerah. Bapak itu tidak hanya sekedar "Bapak" bagiku, tapi beliau juga "Dedy" dan juga "Papi" buatku. Itu adalah tiga panggilanku untuk beliau, meski Bapak nggak suka dengan panggilan "Dedy", tapi beliau tetap akan menyahut, meskipun aku memanggilnya dengan panggilan itu.

Well, Bapakku sudah meninggal sejak tahun 2006. Dulu, sebelum aku kehilangan orang yang benar-benar aku sayang, aku berpikir seperti ini: saat seseorang meninggal, dia akan terlupakan begitu saja, atau rasa sayang akan hilang bersama waktu. Tapi ternyata tidak demikian. Meski bapakku sudah 7 tahun meninggalkanku dan keluargaku, aku masih menyayanginya, aku masih sering merindukannya. Memang aku sudah jarang menangis karena kepergiannya, tapi ketika setan sedang lewat aku sering berpikir, apa yang akan beliau rasakan, apa ya yang akan beliau lakukan kalau tahu aku sudah begini kalau aku sudah begitu, kalau aku belum ini kalau aku belum itu. Kadang aku juga penasaran pada banyak hal yang terjadi jika bapakku masih ada. 

Ketika bapakku masih ada, aku pikir aku tidak menyayanginya. Aku bahkan pernah berpikir bahwa aku tidak akan menangis jika beliau tidak ada. Nyatanya, aku menangis, aku sangat bersedih ketika beliau tidak ada, dan aku mempertanyakan kenapa Allah mengambilnya begitu cepat dari kami bahkan sampai beberapa bulan setelah kepergiannya. 

Bapakku memag bukan bapak yang bijak atau bapak yang kebapakkan menurutku, tapi beliau sangat menyayangi anak-anaknya, terutama anak-anak perempuannya. Beliau selalu mengabulkan apa yang kami minta. Waktu kecil kesejahteraan keluarga kami belum seperti sekarang, hanya untuk membeli peralatan sekolah seperti buku, sepatu, dan tas sekolah keluarga kami sangat kesusahan. Tapi ketika aku membutuhkan sesuatu dan mengatakannya kepada Bapak, beliau akan megusahakannya. Aku memang anak yang jarang meminta sesuatu, tapi ketika meminta artinya aku memang sudah membutuhkan atau sangat menginginkannya. Kalau mengingat masa lalu, aku sering merasa bersalah menempatkan Bapak pada perasaaan “tidak bisa memenuhi kebutuhan anaknya”. Huhuhu…. Yang paling aku ingat aku pernah minta dibelikan headset, (bukan untuk keperluan sekolah), aku pikir Bapak tidak akan membelikannya, tapi tak dinyana dan tak disangka ternyata Bapak membelikannya. Meski bentuk head set-nya aneh, tapi aku sangat menyukainya karena aku tahu itu dibeli dengan uang kami yang sedikit dan yang sangat berharga. Headset itu sangat aneh kalo diingat-ingat, karena hanya seperti headset hand phone jaman sekarang dan hanya untuk satu telinga, bukan untuk dua telinga. Tapi aku sangat menyukai head set itu, siang dan malam kugunakan untuk mendengarkan radio. 

Waktu kuliah aku belum membawa kendaraan sendiri, jadi aku harus kos. Ketika hari Senin Bapak akan mengantarku ke kos, dan Jum’atnya beliau akan menjemputku. Hal yang selalu kami ingat sebagai anak-anaknya adalah, Bapak akan mengajak kami jajan dan makan di pinggir jalan di perjalanan itu. Padahal aku tidak menganggap itu sebagai kewajiban, tapi Bapak akan merasa bersalah jika tidak mengajakku makan dulu sebelum sampai rumah. Dan makanan favorite Bapak adalah mie ayam. Sampai sekarang, kalau aku melihat warung mie ayam favorite Bapak, aku selalu teringat Bapak. Kalau aku ketemu warung mie ayam yang enak, aku juga akan selalu bertanya-tanya "Kalau bapak masih ada, kira-kira Bapak seneng nggak ya sama mie ayam ini?"


Meskipun Bapak bukan sosok yang kebapakkan, tapi aku senang memiliki bapak seperti bapakku, karena dia bukan tipe bapak yang memaksa kehendak anaknya. Beliau tidak pernah mengharuskanku begini atau mengharuskanku begitu seperti bapak-bapak orang lain. Beliau selalu mengikuti kemauan anaknya, terutama dalam hal sekolah. Jika membandingkan dengan bapak atau orang tua teman-temanku, aku selalu bersyukur aku memiliki orangtuaku. Mereka tidak berkelimpahan harta, tapi mereka berkelimpahan cinta. Love them so much.

3 comments: