September 10, 2013

Tentang Till It's Gone




Yuhuuu, di atas itu adalah buku karya Mbak @KeziaEviWiadji terbitan @medpressfiksi berjudul Till It's Gone. Betapa beruntungnya diriku karena mendapat buku ini secara gratis alias nggak bayar, sebagai hadiah kuis #SemuaSukaMedpress.

Sebagai ungkapan rasa terimakasih karena sudah memilihku sebagai pemenang, maka aku akan membuat semacam review untuk buku ini. Maaf Mbak Evi kalau reviewnya nggak detail dan juga nggak mendalam. Maklum kemampuan saya masih ceme-ceme. Hehhehehe..

Buat yang sudah penasaran plis cekidot.

Emmm... Sebenernya sih sulit membuat review buku satu ini, sebab Till it's Gone bukan genre novel kesukaanku. Itu kenapa review buku ini lama selesainya Maaf ya Mbak Evi. Dan kemampuan dan pengetahuanku yang terbatas membuatku kesusahan dalam membuat review ini. Biasanya aku sangat suka mengkritisi naskah dari logika cerita, tapi logika cerita novel Till it's Gone ini tidak ada masalah sama sekali. Aku bahkan sangat mengagumi cara Mbak Evi bercerita di sini. Semuanya perfect. Jika ada yang tidak membuatku puas adalah karena aku memang tidak suka cerita tentang kehidupan rumah tangga dan permasalahannya. Meskipun aku sudah sangat dewasa, aku suka cerita tentang anak-anak SMA, kuliah atau pekerja yang sedang mencari cinta atau suami. Hahahhaa.. Maklum sebagai jomblo sejati sepertinya aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa saat sedang single pun kehidupan bisa sangat menyenangkan.
Stop Mbak stoopp ini ngomongin Till its Gone bukan kehidupanmu Mbak.

Oke, meskipun ini bukan genre naskah yang aku sukai, toh nyatanya begitu novel ini sampai di rumahku, aku langsung membacanya dan tidak bisa berhenti membaca. Kalau novelnya nggak bagus aku pasti sudah meninggalkannya di rak buku dan membacanya sampai nggak ada buku lain yang belum kubaca. Hahahaha..

Dari sini aku mulai bingung harus membahas apalagi, karena kemampuanku cuma di logika cerita, tapi sudah kubilang Till Its Gone nggak ada masalah. (¬_¬").

Oke baiklah mari kita bicarakan isi cerita Till Its Gone saja. Eh bukan, tapi aku ceritain apa yang aku pikirkan saat membaca buku ini. Setuju?

Di awal cerita Mbak Evi membawa kita ke permasalahan yang dihadapi Alisa, perempuan yang memiliki satu anak dan suami (Adam) yang sangat kejam yang suka memukul. Ketegangan sangat terasa di awal novel, sampai ketakutan Alisa dan Kevin anak Alisa pada Adam sangat mendominasi di awal cerita, yang semakin membuatku penasaran pada isi cerita. Di novel ini diceritakan bahwa ketikdan keberadaan Adam di rumah justru membuat Kevin tenang.

Pembawaan Alisa yang kalem dan terlihat seperti perempuan baik-baik membuatku bertanya-tanya, kenapa dia bisa menikah dengan lelaki seperti Adam yang jahat? Pasti dia diperkosa waktu mudanya, sampai harus menikah dengannya. Pasti dia dipaksa menikahi Adam. Apalagi saat membaca sinopsisnya yang seperti ini (baca di sana ya, biar kamu paham apa yang aku rasakan). Aku langsung berpikiran bahwa ada kesalahan di masa muda Alisa.

Ternyata memang ada kesalahan di masa muda Alisa, tapi tidak seperti yang aku bayangkan. Pokoknya jauh dari perkiraanku semula. Tapi rasanya tidak asyik jika aku menceritakannya di sini. Akan lebih kece kalau kamu membacanya. Hahaha ('▿^)♉

Oke aku berubah pikiran, akan aku ceritakan sedikit tentang Alisa. Ternyata Alisa muda tidak sekalem sekarang. Dulunya dia cewek nakal yang suka pake BH warna-warni di balik baju SMAnya yang tipis, suka memakai rok di atas lutut, gonta-ganti pacar, punya tato dsb.

Di awal cerita aku juga berpikir bahwa Kevin adalah anak si Adam, ternyata Kevin bukan anak Adam. Lalu pertanyaan lain muncul. Apakah Alisa menikahi Adam hanya untuk menutupi kehamilannya? Dan Adam menikahi Alisa demi kekayaan yang dimiliki Alisa? Pokoknya seperti itulah yang aku pikirkan saat membaca buku ini.

Lalu saat Frans, masa lalu Alisa muncul, pertanyaan pun kembali muncul. Siapa Frans? Apakah dia dulu pacar Alisa. Inikah ayah Kevin? Apa yang terjadi sampai dia perpisah dengan Alisa, padahal dia adalah lelaki baik yang sangat menyenangkan. Frans adalah lelaki baik yang pasti diinginkan setiap wanita untuk menjadi pasangannya.

Meskipun ini bukan genre novel favoriteku, aku cukup menikmati saat membaca Till It's Gone. Aku mengagumi kemampuan Mbak Evi dalam merangkai cerita Till It's Gone. Flashback yang sering digunakan dalam novel ini bekerja dengan sangat baik. Ketegangan yang sering muncul di awal novel membuatku tidak ingin berhenti membacanya. Mungkin akan lain rasanya ketika naskah ini diceritakan dengan alur maju terus. Pasti aku tidak akan sepenasaran itu waktu membacanya. Alur maju mundur yang digunakan Mbak Evi semakin menyempurnakan cerita, sehingga novelnya semakin keceh badeh.

Tapi di antara kekecean yang aku sebutkan itu ada hal yang membuatku kecewa. Sebagai orang yang dimanja oleh teenlit dan chicklit yang selalu happy ending, ending nggantung di Till it's Gone ini cukup membuatku tidak puas. Seharunya dibuat jelas-jelas happy ending biar aku puas ketemu ending-nya. Hahahaha.. (Sapah guweh? #PLAK)

Oke, segitu saja dariku pemirsah, semoga membuatmu penasaran dengan novel Till It's Gone karya Mbak @KeziaEviWiadji, dan semoga Mbak Evi nggak kecewa dengan celoteh kacauku ini. Utang saya lunas ya Mbak. Hahaha.. Lain kali nulis chicklit ya Mbak

NB: Maaf ya BB ketinggalan di rumah, so nggak bisa menampilkan foto novel Till It's Gone padahal itu bagian yang paling aku suka dari psotingan ini seharusnya. Hahaha.. :))

Fiuh lega sudah memenuhi janji ('▿^)♉

2 comments:

  1. Wow ... wow ... Fatkah, terima kasih yah sudah mau bercapek-capek ria mereview novelku. Noted untuk masukannya dan semoga novelku berikutnya sesuai dengan selera Fatkah ya *peluk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih Mbak Evi sudah berkunjungke blogku :D

      Delete